Jurnalis dan Sosial Media

Wajah Georg Neumann tampak lelah di malam penutupan Konferensi Antikorupsi Internasional ke-14 di Bangkok, Sabtu (13/11).

Di bawah kedua mata Koordinator Komunikasi Senior Transparency International itu, terlihat kantung mata yang gelap, tanda kurang istirahat. Rambut keritingnya pun lebih acak-acakan ketimbang empat hari sebelumnya, kali pertama saya bertemu dengannya.

‘Akhirnya selesai juga. Berkat kalian, konferensi ini jadi lebih menyenangkan,’ ujarnya sembari tersenyum tulus pada sembilan jurnalis muda yang mengelilinginya.

Untuk pertama kalinya, konferensi dwi tahunan yang diselenggarakan lembaga pegiat antikorupsi yang berbasis di Berlin, Jerman, itu menggunakan media sosial internet untuk menyebar kabar tentang pertemuan. Sembilan jurnalis muda dari Asia yang akrab dengan blog, Twitter, Facebook, Youtube, dan Flickr dipilih Neumann untuk melakukannya.

‘Sebelumnya kami cuma punya buletin internal yang diterbitkan tiap hari dalam konferensi, yang dibagikan pada peserta. Kalian adalah bagian dari eksperimen kami menggunakan media sosial,’ ucapnya hari Selasa (9/11) malam di sebuah kedai kopi di Bangkok, dalam pertemuan perkenalan dengan partisipan proyek media sosial tersebut.

Menurut dia, lebih dari seribu peserta hilir mudik dalam konferensi itu. Tapi lebih banyak lagi yang tak bisa datang ke Bangkok dan mengikutinya.

Di sinilah tim media sosial berperan. Bukan saja menyiarkan berita, tapi seperti umumnya karakter aktivis media sosial, bisa bebas beropini dan menyorot sisi-sisi yang lazimnya terlewat dari kacamata media arus utama. Kesemuanya diunggah di situs web konferensi, www.14iacc.org, sekaligus saluran pribadi si jurnalis.

Maka misalnya, Wajahat S Khan, wartawan Newsweek Pakistan dan Times Now TV India bisa mengeluh tentang konferensi tersebut. Menurutnya, perhelatan internasional itu mengabaikan korupsi di Pakistan, negaranya. ‘Pakistan adalah perpaduan ketidakstabilan geopolitik, terorisme, kemiskinan, dan korupsi. Tapi konferensi ini seperti tidak tertarik membahasnya,’ katanya dalam blognya.

Munza Mushtaq, jurnalis asal Sri Lanka, memilih prihatin atas kemunafikan pers di negaranya. Pada hari ketiga konferensi, penyelenggara perhelatan memberikan Integrity Award kepada salah satu aktivis kebebasan pers Sri Lanka, Poddala Jayantha, yang juga sering mengungkap korupsi para pejabat. Jayantha sempat disiksa karena pendiriannya, kini lumpuh dan harus hidup dalam pengasingan di luar Sri Lanka. ‘Ironis, yang muncul sebagai headline media justru pentas rapper Amerika Sean Paul,’ tulisnya.

Kornchanok Raksaseri, wartawati harian The Nation, koran berbahasa Inggris di Bangkok, mengangkat tentang tukang sapu di tempat konferensi, yang sama sekali tak tertarik membahas korupsi. Pooja Shahani, jurnalis dari Hong Kong, asyik dengan isu-isu gender. Saya lebih suka menulis tentang anak muda (biar awet muda hahaha).

Jimmy Chalk, jurnalis Amerika Serikat yang bekerja di Chennai, India, dan blogger Filipina Tonyo Cruz lebih banyak berkicau soal kejadian terkini dalam konferensi lewat akun twitter mereka. Fotografer Filipina Charlie Saceda memotret ribuan gambar dan mengunggah ratusan di antaranya di akun Flickr. Sedangkan reporter televisi asal Nepal, Rajneesh Bhandari, merekam wawancara dengan sejumlah partisipan dan memamerkannya via Youtube.

Neumann yang puas langsung menyatakan, kegiatan serupa pasti akan diadakan lagi dalam perhelatan berikutnya di Brasil, tahun 2013. ‘Sampai jumpa di Brasil!’ serunya sebelum kembali ke hotelnya untuk (akhirnya) beristirahat.

Aduh, saya ngarep banget bisa diundang lagi dalam IACC berikutnya 😀

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *