35 Tahun, dan Seterusnya

Hari ini, 35 tahun lalu, orang tua saya menikah setelah 6 tahun (putus-sambung) berpacaran. Dari mereka, saya belajar pentingnya kerja sama, saling mengisi, keterbukaan, maaf, dan kasih sayang dalam pernikahan.

Ibu dan Ayah adalah mitra setara, keduanya bersama-sama menentukan arah keluarga kecil kami yang relatif demokratis dan moderat (meski untuk sebagian orang, kami malah terlalu liberal 😀 ). Baru setelah beranjak dewasa, saya tahu bahwa ini bukan model keluarga yang lazim di Indonesia, karena Ayah tidak memiliki hak veto maupun kekuasaan absolut. Ibu dan Ayah adalah “duet maut”, sepasang pemimpin yang menjadi patokan saya dalam membina keluarga.

“Sebelum menikah, Ibu yang minta diperlakukan sebagai perempuan yang merdeka, nggak mau diatur-atur. Karena Ibu tahu apa yang harus dilakukan sebagai istri, Ibu nggak manja,” kata Ibu saat saya tanya soal kesepakatan mereka 35 tahun lalu.

Menurut Ibu, sikap merdeka itu tertanam karena ia diasuh oleh bibinya, seorang perempuan yang mandiri, tak menikah, dan bermanfaat bagi banyak sekali orang. Nini Apip, begitu saya memanggil bibi Ibu, adalah kakak tertua Nenek saya. Awalnya ia adalah guru taman kanak-kanak di Tasikmalaya, lantas berorganisasi di Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), dan mendirikan Yayasan Hara­pan untuk menampung anak-anak yatim piatu, terutama korban tentara DI/TII. Nini Apip juga politisi yang sempat menjadi anggota DPRD Tasikmalaya dan DPR RI.

Pengaruh Nini Apip yang membesarkan Ibu dan dua adiknya berpengaruh besar bagi cara pandang Ibu. “Karena Ibu tidak pernah mengenal sosok laki-laki dewasa yang suka sok memerintah, atau membentak-bentak perempuan,” ujar anak ketiga dari sepuluh bersaudara itu.

Apa yang menyebabkan Ayah, yang dibesarkan dalam masa dan masyarakat patriarkis itu, bisa menerima syarat yang diajukan Ibu? Mungkin karena ia banyak membaca dan bergaul dengan kalangan yang cukup progresif pada zamannya. Lahir sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, Ayah sejak SD hingga SMA adalah pemberontak kecil yang hobi kabur demi mencari perhatian orang tua. “Soalnya kalau mau jadi anak teladan, paling pintar, sudah ada kakak-kakak Ayah, jadi cari perhatiannya dengan cara kabur,” ucap Ayah sekali waktu sembari berseloroh. Saat kuliah, ia menceburkan diri dalam kelompok aktivis kampus pro-demokrasi, hobi ikut rapat dan demonstrasi menentang tirani Orde Baru yang saat itu masih muda — berseberangan dengan Ibu yang anak tentara, ikut Menwa dan dianggap “antek” penguasa (tapi jodoh ya nggak ke mana, cyin).

Menurut Ayah sih, salah satu sebabnya adalah karena di keluarganya yang Minang itu, tokoh ibu biasa lebih dominan. “Tradisi keluarga kita bukan saja matrilineal, tapi juga matriarkis. Selain itu, tentu saja pengaruh teman-teman. Mulainya di SA (Students Association) ketika mahasiswa, kemudian di PKBI, dan dipoles dengan teori-teori feminisme ketika di Oxfam,” tuturnya. (CATATAN: paragraf ini ditambahkan pukul 11.18 WIB karena Ayah baru balas WA-nya tadi pagi hehehe…)

Sepanjang ingatan saya, Ayah acap kali berperan menjadi pencari nafkah utama dan keluarga. Tapi saat diperlukan, Ibu bisa mengambil peran itu. Saat Ayah sekolah lagi ketika saya SD, Ibu kulakan batik dari Solo dan Pekalongan, serta menjahit seprai agar kebutuhan hidup sehari-hari kami tetap terpenuhi. Peran saling mengisi ini juga terjadi untuk urusan belanja: Ayah yang ngegas, Ibu yang ngerem.

Orang tua saya sangat terbuka satu sama lain. Rahasia-rahasia kecil pasti ada (“Bung, jangan kasih tahu Ibu harga songket yang Ayah hadiahkan ini ya,” ujar Ayah pada suatu hari, sebelum saya yang masih kecil akhirnya kelepasan juga saat ditanya Ibu hahaha), tapi hal-hal besar seperti nominal gaji dan utang, rencana pindah kerja Ayah untuk kesekian puluh kalinya, serta keputusan membangun rumah setelah pindah belasan kali, merupakan hal yang lumrah mereka diskusikan bersama, terkadang juga melibatkan saya.

Hubungan Ibu dan Ayah tentu tak sempurna. Mereka cuma manusia yang bisa bertengkar dan berbuat salah. “Ini pentingnya samudera maaf dan sayang. Kami punya persediaan maaf yang tak ada batasnya,” kata Ayah.

Tapi, ia memperingatkan, mengetahui pasangan punya stok maaf tanpa batas bisa menjebak diri menjadi manipulatif bila tidak diimbangi rasa sayang. Sayang yang bukan saja cinta, tapi sayang kalau semua “investasi” jadi sia-sia karena perilaku ceroboh atau bodoh.

“Kebodohan itu misalnya selingkuh atau poligami. Itu versi Ayah lho,” ujar Ayah menambahkan disclaimer via aplikasi pesan singkat.

Sekadar informasi, anti-poligami dan anti-KDRT juga bagian dari kesepakatan mereka. Ibu adalah penyintas keluarga yang lumayan retak akibat poligami dan KDRT, jadi ia tak mau pengalaman buruk itu terulang. (Bagi yang pro-poligami, ini bukan mencerca kalian, hanya berbagi cerita saja 🙂 )

35 tahun menikah apa nggak bosan, sih? Ternyata salah satu sebab awetnya pernikahan mereka adalah seringnya Ibu dan Ayah berada dalam kondisi LDR alias long distance relationship. “Mungkin karena selalu berjauhan, selalu ada rasa kangen saat ketemu,” kata Ibu mengungkapkan.

Ibu juga berupaya untuk menjadikan hari-harinya bahagia. “Dibawa happy, sering bercanda. Dan Ayah kan tipe suami yang nggak harus dilayani, setiap sarapan dia sampai sekarang yang nyiapin. Ayah juga mau melakukan pekerjaan domestik di saat nggak ada pembantu,” tuturnya. “Setelah Bunga menikah, perasaan Ibu terhadap Ayah makin sayang, makin khawatir kalau berjauhan. Rasanya jadi seperti sahabat, diusahakan bisa lebih sering berdua. Dinikmati saja, sebagai lansia yang bahagia dan sentosa.”

Awwww. Panutan banget kan ya! (Jangan lupa kasih tagar #relationshipgoals biar kekinian!)

Selamat ulang tahun pernikahan, Nini dan Aki. Kami doakan semoga makin berlimpah bahagia di tengah canda tawa dan kesehatan sepanjang masa. Kami cinta kalian!

7 Comments

  1. Kalau dibaca gini, rasanya manis sekali ya, Bung. Padahal perjuangannya pasti luar biasa untuk bisa terus kerja sama, saling mengisi, terbuka, memberi maaf, dan saling sayang. Titip ucapan selamat untuk mereka. Semoga tetap berjodoh di kehidupan berikutnya.

  2. Bentar bentar. Ada kutipan ini “….ujar Ayah menambahkan disclaimer via aplikasi pesan singkat”

    Apakah tukisan ini hasil wawancara aplikasi pesan singkat???? DASAR KAMU PENSIUNAN WARTAWAN!

    Kembali ke topik. Tulisan yang bagus dan manis sekali sih si kiyang dan niyang sungguh #relationshipgoals! Semoga kita semua bisa mencontoh teladan yang romantis ini. Amin.

    1. Waduh ketahuan!Yah beginilah nasib pensiunan wartawan, Jeng. Kelakuannya beda tipis sama yang masih jurnalis: wawancara narasumber via aplikasi hahaha.

  3. Kado video dan blog yang selalu bikin ibu dan ayah terharu, gak sia2 deh punya anak mantan jurnalis, bahagia itu sederhana banget..setiap baca tulisanmu serasa lihat kilas balik kehidupan kami sejak awal. Semoga kalian juga bisa menjadi pasutri yang bahagia..penuh canda tawa..dan rajin menabung… *eh*

  4. Saya kok jadi baperrr yaa. Hehehe
    Btw, kalaupun telambat gak apa apalah yaa. Selamat ultah pernikahaannn. Bahagia selalu ya. Aamiin
    Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *