Jokowi, Prabowo, Palestina, Logika

Kehidupan saya sebagai pengangguran-banyak-acara atawa sedang-berada-di-antara-dua-kerjaan (I’m in between jobs, status saya sekarang) nyaris selalu berbanding lurus dengan aktivitas di dunia maya. Seperti kali ini.

 

Bukan soal halal-haram daging sapi lagi. Perdebatan kali ini berkutat pada pemilihan presiden yang kontroversinya bak tiada akhir itu, serta hubungannya dengan krisis Palestina dan logika.

 

Kawan jurnalis bernama Arif Gunawan Sulistiyono memulai dengan statusnya di Facebook, lantas saya komentari. Kami berbeda pilihan, pun berbeda pendapat. Menurut saya sih, hingga akhir, perbincangan berlangsung relatif santun. Arif sudah menyatakan bersedia percakapan ini dimuat di blog ini, tapi emoh jika pembicaraan itu di-capture dan disiarkan. Karena komentator lain belum memberikan persetujuannya, saya hanya menyalin dan menempelkan percakapan kami berdua. Sila membaca dan semoga blog ini bisa memantik diskusi :)


Gambar disalin dari karikatur tahun 2010 di http://www.salem-news.com/articles/april282010/thank-you-ni.php

 

Status Arif:
fungsi klaim adalah: membentuk persepsi. ketika persepsi massa begitu kuat terjadi, maka fakta bs (diubah demi) mengikuti persepsi. misal: israel berhasil membentuk persepsi bahwa mrk pemilik sah sebidang tanah. dunia pun mendiamkan penjajahan mrk. (masih nunggu capres itu bertindak nyata soal palestina).
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/09/rekapitulasi-kpu-rawan-intervensi-karena-hasil-hitung-cepat-berbeda

 

Arif:
hoi jokowi lovers, yes.. i`m talking to you! ada yg bs bantu kasi tau jokowi ngapain utk palestina saat ini? ….. i knew it. f*** politician.

 

(satu komentar yang mengutip http://www.merdeka.com/peristiwa/jalur-gaza-dibombardir-israel-ini-kata-jokowi.html)

 

Arif:
alhamdulillah, minimal dia udah komitmen untuk.. wait.. kmrn kayanya ada yg komitmen d jkt 5 tahun?

 

(dua komentar)

 

Arif:
wow.. jokowi sore ini konpers soal palestina! jgn2 ada panasbung yg mantau saya. #sekali-kali geer aah

 

(tiga komentar)

 

Saya:
Nih, aku bisa kasih tau:
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/07/10/n8hinx-sumbangan-dana-kampanye-jokowijk-akan-diberikan-ke-palestina
Masih mau bilang f*** politician?

 

Arif:
mungkin Bunga Manggiasih, [nama seorang kawan], [nama kawan lain] lupa baca komenku di atas: “wow.. jokowi sore ini konpers soal palestina! jgn2 ada panasbung yg mantau saya”

itu kukirim 6 JAM sblm konpers jokowi. palestina sdh dihajar sejak 8 JULI, & capres pujaanmu itu konpers 10 JULI. pada 9 JULI dia ketawa-ketiwi di tugu proklamasi dan bunderan HI. gak ada nyinggung palestina..

nah, setelah di sosmed banyak yg nyindir, termasuk akyuuh hehehe, doi br konpers. ini fakta keras bahwa he’s just a f*** politician. but for jokowi lovers, maybe he’s an angel..

 

(satu komentar)

 

Arif:
aku nyinyir utk mereka yg ignorant. btw, zaman sekarang kok masih bias gender sih. yuuuukk…

 

(satu komentar)

 

Arif:
ya sudah, klo gitu ngapain mbak [nama kawan] nimbrung? ini kan OPINI saya? cara anda mikir kontradiktif banget. ya puasa sih iya, tp mosok mikirnya jd error?

sejak kapan nyinyir harus ke salon? klo diskusi nggak pake logika, biasanya emang menyerang persona (nyinyirlah, bancilah, dst). tapi bisakah ANDA berdiskusi dgn memfalsifikasi argumen sy? tetot

 

(dua komentar)

 

Arif:
oooh.. jd klo sy mentaq nama anda, berarti sy MEMAKSA anda utk setuju dgn opini sy? plz deh, mbakk.. sy ini tahu sy masih bodoh, gak super pinter spt bbrp fanatik jokowi. sy tag anda dan mbak wido, utk meminta argumen pembanding, siapa tahu sy salah.

OK, coba deh logikanya dipake. tenang ya.. jgn esmosi. jawab pertanyaan sy: “kapan sy MEMAKSA ANDA utk setuju dgn saya?” di mana bagian kalimat sy yg spt itu?

 

(satu komentar)

 

Saya:
Aku sih cuma bantuin jawabin “masih nunggu capres itu bertindak nyata soal Palestina”. Menyadur kalimatmu: but for Jokowi haters, maybe he’s a devil. Ya dia mau apa aja seolah selalu salah.

Begini. Ini logika yg aku pelajari dulu — mungkin aku salah, mungkin kamu belajar logika dengan cara berbeda. Ada peristiwa A. Kemudian ada peristiwa B. Bisa jadi ada korelasi antara A dan B. Tapi apakah A menyebabkan B? Selama tidak ada bukti keras, bisa saja C, D, bahkan Z yang menyebabkan B. Kalau seseorang menyimpulkan A menyebabkan B, maka logikanya melompat. Serupa dengan otak-atik gathuk.

Contoh: kemarin saya gajian. Hari ini saya pilek. Apakah gara2 saya gajian, saya sakit pilek? Bisa jadi, tapi belum tentu. Selama tdk ada fakta pendukungnya yg jelas dan tak terbantahkan, jawabannya adalah tidak.

Contoh berikutnya, dengan variabel lebih banyak: Palestina diserang. Jokowi konpers. Jokowi dikritik. Jokowi-JK menyatakan dana urunan buat mereka bakal disumbangkan ke Palestina. Apakah mereka menyumbangkan duit ke Palestina karena dikritik orang2 sepertimu? Bisa jadi, tapi belum tentu. Selama tdk ada fakta pendukungnya yg jelas dan tak terbantahkan, jawabannya adalah tidak.

Bisa lihat betapa logikamu dalam pernyataanmu melompat-lompat? Bisakah Anda berdiskusi dengan memfalsifikasi argumen saya?

(Catatan untuk [nama kawan]: saya nggak setuju bahwa nyinyir itu ada hubungannya dengan jenis kelamin. Ayah saya misalnya, bisa lebih nyinyirnya banget banget daripada ibu saya )

 

Arif:
hehehe. siap mbak [nama kawan]. BTW, sy mau bikin “tattoo” baru aaah. tulisannya: “Tuhan, kuatkan hamba menghadapi kaum ignorant asal tuduh”

Bunga, thank you infonya. yg hendak kamu sampaikan adalah falasi non causa prima causa. apakah sy pilek krn gajian? belum tentu. lalu, apakah jokowi konpers krn komen sy? belum tentu (but yes I made a joke: jgn2 ada panasbung yg…blablabla.. sekali-kali geer lah.)

terus apakah jokowi f*** politician? menurutku iya. such a funny coincidence jika jokowi ngangkat isu palestina di debat pd saat berkembang opini dia tidak pro-islam (antek yahudi lah, kristen, lah, dan tuduhan ngaco sejenisnya).

apakah itu sikap tulus atau cuma pencitraan spt other f*** politician? bs kita cek dlm sikap spontan dia. misal: jokowi pencitraan naik bajaj ke KPU, krn faktanya dia sehari-hari pake mobil. prabowo pencitraan ke pasar tenabang, krn faktanya dia sehari-hari ga ke sana. setuju??

nah, palestina tdk akan jd komoditi pencitraan buat jokowi jika sdh mengurat-akar dlm keseharian, jika dia memiliki kedekatan concern dgn palestina shg lngsung bersuara ketika tragedi itu muncul ketika dia punya kesempatan utk itu.

sayangnya, fakta bicara lain. ketika palestina dihajar pd 8 juli, dia diem. ketika 9 juli di depan publik mengklaim kemenangan (yg memberi dia kesempatan mengutuk tragedi palestina–ya minimal mengutuk laah), tak ada singgung palestina. lalu, medsos mempersoalkan ini, baru dia bicara.

dlm logika perpolitikan modern (ketika medsos jd salah satu cara membaca “lidah rakyat”) aku pikir argumen dia konpers demi merespon kritikan di medsos itu masih berdasar. politisi bersikap dgn merespon perkembangan opini di voters (krn itulah di amrik ada lembaga utk mengukur kepuasan voters, diupdate rutin tiap bbrp periode). tak ada lompatan non causa pro causa di sini, krn dua premis yg ada saling berkorelasi, tak spt pilek dan gajian, melainkan spt pilek dan kecapekan.

 

Saya:
But for Jokowi haters, maybe he’s a devil. Tak apa. Silakan bersikukuh pada pendapatmu. Saya berpegang pada opini yang berbeda.

Btw kalau kamu bilang f*** politician(s) maka yang perlu dimaki bukan cuma Jokowi, tapi juga kandidat seberang, Prabowo. Dia politisi juga kan?

 

Arif:
FYI, i’m not jokowi haters. I’m jokowi’s dieharder hater. beda tipis sih. dalam konteks palestina ini aku ga nyerang prabowo, krn kebetulan si wowo ini gak jualan isu palestina. klo ada isu lain yg relevan dgn ke”F”an politisi, bolehlah aku ditag biar ikut “maki” juga. hihihi..

 

Saya:
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140710/94/72944/video-prabowo-marah-marah-ke-wartawan-beredar-luas-ini-link-nya
Kesehatanmu lho Pak…

Arif :
ukannya sudah ada “klarifikasi” dari wartawan TV di path bahwa si wowo ini nyindir, bkn ngamuk2? kmrn dibahas di kantor, dan emang akhirnya semua ngakui klo berita itu lebai. sayang aku ga ikutan path. T_T

 

Saya:
Judul berita di atas itu “marah” sih bukan “ngamuk”. Kalau sama anak kompas tv memang dia cuma nyindir. Tp stlh itu sama anak metro tv dia marah beneran, lantas ngusir semua awak media kecuali CNN yg dpt jatah wwcr terakhir. Cuma aku belum nemu rekaman videonya aja.. mungkin anak2 yg liputan waktu itu pada keburu takjub dgn kelakuan si Bapak. Aku ga ingin memaki Prabowo, sungguh. Aku cuma merasa iba.

 

Arif:
iya. Bung.. nah, sesuai logika sehat, selama blm ada bukti. kita jgn menghakimi dulu yuk.. kasihan dia. tar stroke lagi. mngkn dia sensi krn jasa dia di balik pencalonan jokowi jd gubernur “hilang” dlm majalah Tempo edisi pilpres. pdhl pada 2012 dijadiin tema utama.

 

(satu komentar)

 

Saya:
Ah Argun. Bisa aja bilang jangan menghakimi dulu. Kamu dari awal sudah bilang f*** politician itu bukankah sikap yang menghakimi? Menyimpulkan bahwa A menyebabkan B adalah menghakimi juga, bukan?

Aku sih percaya bahwa menghakimi dgn pikiran (bukan kekerasan) itu wajar saja, sama dengan wajarnya manusia berpihak dan tidak bisa netral. Jadi wajarlah kalau aku, kamu, kita menghakimi orang lain. Dalam pernyataan ini, aku menghakimimu tidak konsisten.

 

Arif:
makanya, aku tantang kalian para pemuja jokowi utk ke sini. aku menilai penghakimanku atas jokowi itu argumen berdasar. pertama, dia politisi, kedua, dia menjual isu palestina di debat, keduanya FAKTA. KETIGA (dan ini yg TAK MAMPU kamu falsifikasi), bahwa dia konpers setelah medsos ramai mempertanyakan sikap dia.

so, jgn salahkan aku klo kamu membuta tuli meski GAGAL memfalsifikasi argumenku. mari kita lanjut: “sayangnya, fakta bicara lain. ketika palestina dihajar pd 8 juli, dia diem. ketika 9 juli di depan publik mengklaim kemenangan (yg memberi dia kesempatan mengutuk tragedi palestina–ya minimal mengutuk laah), tak ada singgung palestina. lalu, medsos mempersoalkan ini, baru dia bicara. dlm logika perpolitikan modern (ketika medsos jd salah satu cara membaca “lidah rakyat”) aku pikir argumen dia konpers demi merespon kritikan di medsos itu masih berdasar. politisi bersikap dgn merespon perkembangan opini di voters (krn itulah di amrik ada lembaga utk mengukur kepuasan voters, diupdate rutin tiap bbrp periode). tak ada lompatan non causa pro causa di sini, krn dua premis yg ada saling berkorelasi, tak spt pilek dan gajian, melainkan spt pilek dan kecapekan.”

 

(satu komentar)

 

Saya:
Arif yang searif namamu, kamu juga tidak bisa membuktikan hubungan kausalitas itu. Satu hal yang saya tahu dalam ilmu sosial, tidak seperti ilmu eksak, kita tidak bisa membuktikan A menyebabkan B, karena kita tidak tahu dalam semesta ini ada apa saja penyebab B. Bahwa A ada hubungan (korelasi) dengan B, itu jelas, tapi bagaimanakah hubungan itu terjadi, ada variabel lain apa saja, kita tidak bisa mengetahuinya. Wallahualam.

Dalam hal ini saya menganggap kita ada posisi stalemate. Ya, saya tidak bisa memfalsifikasi keseluruhan argumenmu. Tapi kamu juga tidak bisa membuktikan kausalitas dalam argumenmu.

Aku nggak menyalahkanmu karena aku gagal memfalsifikasi argumenmu. Aku ini bukan manusia-tahu-segala. Tapi aku tahu pengetahuanku terbatas.

Aku harap kamu tidak menyalahkanku karena kamu tidak bisa membuktikan kausalitas argumenmu. Tapi harapan itu bisa saja tak terpenuhi. Sama seperti harapan mendapatkan A sebagai presiden baru, tapi sepertinya B yang meraih kursi itu.

Tidak apa-apa. Manusia menghadapi kekecewaan dalam beberapa tahap: sedih+marah, menyangkal, menerima, barulah kemudian membuat harapan baru dan berusaha meraihnya.

Tidak apa-apa. Bumi belum berhenti berputar, langit belum runtuh, kiamat belum tiba, Indonesia masih hebat dan belum bubar, kita masih bebas berbeda pendapat karena alhamdulillah kita masih hidup di negara demokratis.

 

(satu komentar)

 

Arif:
thanks mbak [nama kawan].. mari kita menghitung dosa. dlm sehari ini ada yg bilang saya banci, sy timses prabowo, dll. smg dia sadar yaa.. sy jg mngkn berdosa klo mengatakan sesuatu tanpa dasar or fakta. silahkan simak diskusi sy dgn Bunga ya.. duduk yg manis..

 

(dua komentar)

 

Arif:
Bunga, namamu yg seindah aslinya (ini klaimku berdasarkan “quick count” :D ). dlm ilmu sosial, kita bisa menemukan korelasi 2 kejadian dgn logika sehat. caranya dgn apa? pisau analisis. plz jgn sok jadi nihilis dgn menganggap tak ada kebenaran di dunia ini.

klo kamu jeli, kausalitasku sudah kusampaikan. OK, aku akan coba pake penjelasan dgn silogisme urut biar kamu paham:

premis mayor: semua politisi modern sigap merespon opini voter di medsos (sahih)
premis minor: tim jokowi (politisi modern) konpers setelah di medsos ramai memertanyakan sikap dia soal palestina (sahih)

kesimpulan: tim jokowi merespon opini di medsos soal palestina, dgn konpers. apakah konpers ini telat? YA! pencitraan? YA! krn tdk spontan sejak dia punya kesempatan utk itu. makanya aku bilang: he’s just a F*** politician, dude!…

makanya aku kasih tahu: he’s a FINE POLITICIAN, politisi yg lihai! persis spt analisis mas [nama kawan].. Thanks mas..

 

(satu komentar)

 

Saya:
Aku bukan nihilis dan aku tdk menganggap tdk ada kebenaran di dunia ini. Tapi aku yakin aku tak tahu semua sisi dari hal yg kita anggap kebenaran.

Coba telisik premis mayormu, “Semua politisi modern sigap merespon opini voter di medsos.” Politisi modern ini siapa saja, berapa banyak, berapa banyak yg kamu amati? Anggaplah politisi modern adalah politisi2 yg lahir setelah th 1950 (demi mengakomodasi Prabowo yg lahir th 1951 dan Jokowi yg lahir th 1961), dan kamu telah dan sedang mengamati entah berapa juta mereka itu di semua negara, termasuk Indonesia. Satu politisi modern saja yg tdk responsif akan mematahkan premis mayormu, betul?

Kawan kuliah saya, lahir di dekade 1980an, adalah politisi Partai Demokrat. Dia bertarung dalam pemilihan legislatif lalu, tapi kalah. Sejak pileg itu dia tidak posting apapun di laman FB-nya, tidak merespon kejadian apapun yg sdg marak diperbincangkan voters Indonesia. Saya tdk tahu apa yg terjadi padanya, semoga saja dia sehat wal afiat dan bisa bangkit lagi dari kekecewaan. Dia politisi modern, dia tidak merespon opini voter di medsos. Sahih.

Begitu premis mayor tidak sahih, maka kesimpulanmu pun tidak sahih.

Sekadar disclaimer nih ya. Saya bukan pecinta Jokowi diehard, jadi saya berharap kamu yg Jokowi diehard hater tidak membenciku. Saya memilih Jokowi tetapi saya tetap mengkritiknya jika ia keluar jalur, seperti saat dia tidak mengecam pelaku penyerangan ke kantor TV One di Jogja. Saya beranggapan pernyataan kemenangan Jokowi dan Prabowo kemarin sama2 prematur. Tapi saya berkesimpulan lembaga survey yg menyatakan Jokowi unggul dalam hitung cepat adalah institusi2 yg lebih kredibel ketimbang yg mengklaim Prabowo unggul. Bagaimanapun, mari kita tunggu keputusan KPU pada tanggal 22 Juli.

 

Arif:
premis mayorku itu bermasalah buatmu, krn kamu salah mendefinisikan ‘politisi modern’. kamu menganggap politisi modern itu mereka yg lahir di era 50-an. ini jelas salah. klo berdasarkan era, maka modernisme (scr literer) dimulai pada 1800-an!

yg aku maksud adalah politisi kontemporer yg relevan disebut “modern”, yg tidak hidup dgn logika politik kuno (cuma nggarap massa di akar rumput, dan menafikan massa di medsos).

Mereka Maluku. Ose Siapa?

Bruuuuukkkk!

 

Salembe (Bebeto Leutually), bocah dari desa Tulehu, menubruk rekan satu timnya dengan tackle. Kawannya yang berasal dari desa Passo kontan terjatuh.

 

“Saya tidak mau main kalau ada dia! Dia anak Brimob, yang bunuh Bapa saya!” teriak Salembe.

 

“Tidak ada yang tahu bagaimana Bapa kamu meninggal!” sang pelatih, Sani Tawainella (Chicco Jerikho), memarahi Salembe.

 

Tidak ada yang tahu. Boro-boro soal kematian ayahnya Salim, terlalu banyak yang tidak kita ketahui dari konflik di sekujur nusantara. Kita tidak tahu apa persisnya penyebab kericuhan, siapa saja yang terlibat, siapa yang untung dan siapa pula merugi, berapa banyak korban jatuh, bagaimana caranya menerima kekalahan, mengakui kesalahan, maupun memaafkan. Belum tuntas kita menyigi, mengobati luka, apalagi memproses secara hukum para pelaku kekerasan, sudah muncul sederet pertikaian anyar. Bara dendam cerita lalu yang sewaktu-waktu berkobar seolah jadi wajar.

 

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku meramu sengketa agama, kekerasan, emosi remaja, ibu/istri pemarah, tangisan lelaki, trauma dan kesumat silam, kemiskinan, serta politik dalam perjalanan tim bola U-15 Maluku meraih juara. Resep sempurna untuk bencana.

 

Tim Maluku yang baru dirundung konflik berlatar belakang agama selama lima tahun, mencoba sekuat tenaga agar jadi pemenang. Padahal, separuh anggota tim berasal dari Tulehu yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sedangkan sebagian lagi warga Passo, desa Kristen. Proyek tim campuran yang bertujuan memuluskan rekonsiliasi pascakonflik itu terancam gagal akibat dengki. Premis film berdasarkan kisah nyata ini mirip Invictus, yang berkisah soal tim nasional rugby Afrika Selatan bentukan Nelson Mandela selepas rezim apartheid runtuh.

 

Saya bukan penggemar bola, saya nggak tahu apa sebab seorang pemain mendapatkan tendangan pojok ataupun tendangan bebas. Aturan soal offside pun saya nggak ngerti-ngerti amat. Tapi saya menikmati betul film yang digagas penyanyi asal Ambon, Glenn Fredly dan sutradara+produser Angga Sasongko.

 

Ini film yang emosional, apalagi buat perempuan cengeng seperti saya. Entah berapa kali saya menangis, ikut geram melihat konflik antaragama. Nggak usah jauh-jauh ke Gaza, saudara-saudari kita setanah air pun banyak yang telah dan masih meregang nyawa.

 

Tapi Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, meski di beberapa bagian terasa lambat, juga mengundang tawa, meninggikan optimisme. Ada perdamaian, proses menjadi dewasa, ibu/istri yang kuat, pemberian maaf, dan kegembiraan. Terselip tekad pantang menyerah dan cara bermanuver menghadapi tantangan. Juga indahnya Maluku di mata, dan eloknya nada karya para musisi Ambon Manise di telinga. (Oh, dan salah satu dari pria-pria menangis itu tampak kusut, tapi lezat.)

 

Tim Maluku ketinggalan skor saat menghadapi Jakarta di babak final. Anggotanya masih juga bertikai di lapangan dan di ruang ganti. Pada waktu istirahat yang genting, Sani mengingatkan lagi anak didiknya:

 

Ose (kamu) bukan tim Tulehu, atau dari Passo. Kalau beta tanya ose siapa, kamu jawab apa?”

 

“Beta Maluku!” seru bocah-bocah Maluku itu satu per satu.

 

Ini film yang selama dua tahun tak laku ditawarkan ke sejumlah rumah produksi. “Karena nggak ada cinta ABG, juga berbau SARA, dan bermuatan politik,” ujar Angga.

 

Saya nggak tahu berapa lama film ini bertahan di layar bioskop. Saya nggak tahu dari segelintir orang yang menonton Cahaya Dari Timur bersama saya tadi malam, berapa yang betul-betul ingin melihatnya atau sekadar karena nggak kebagian tiket nonton Transformers. Maka segeralah menontonnya selagi sempat, wahai kelas menengah yang diberi privilege beragam hiburan dan informasi.

 

Sungguh, sempatkanlah waktumu yang berharga itu untuk film ini. Karena betapa mulia tujuan para pembuatnya:

 

“Kita mau menularkan virus resiliensi. Karena Indonesia udah ngerasain bencana dari Aceh, Mentawai sampe konflik Poso ketika negara nggak bisa hadir, masyarakat punya solusinya,” kata si sutradara.

 

Ini mengingatkan saya pada pemilihan presiden baru saja lewat, tapi api konflik tampaknya belum benar-benar padam di kubu kedua kandidat. Jika pelatih Sani bertanya pada kita, “Kalau beta tanya ose siapa, kamu jawab apa?” — apa yang akan kau jawab?

 

Sungguh indah kalau kita semua bisa lantang berseru, “Beta Indonesia!”

 

Beta yakin, Indonesia bisa lebih hebat lagi. Dan tim nasional sepak bola kita, tak lebih dari tiga dekade mendatang, bisa menjajal laga Piala Dunia.

 

NB. Gambar poster diambil dari laman Facebook https://www.facebook.com/cahayadaritimurbetamalukufilm

Pemilu Seru, Saru, Haru

Suasana menjelang pemilihan presiden kali ini rasanya jadi yang paling seru ketimbang pemilihan langsung sebelumnya. Mungkin ini pengaruh makin banyaknya orang Indonesia yang menggunakan internet dan aktif di media sosial. Pengguna internet di tahun 2000 diperkirakan cuma 2 juta orang, yang melesat jadi 30 juta pada 2010, melonjak lagi jadi 73 juta orang per Januari 2014.

Kalau di tahun 2009 cuma ada 14,9 juta orang pengguna Facebook yang asalnya dari Indonesia, jumlah itu meroket jadi 62 juta orang tahun ini. Iya 62 juta, sekitar sepertiga dari jumlah pemilih yang 185 juta orang. Tahun 2009 jumlah pemilih sekitar 171 juta orang, artinya yang fesbukan nggak sampai sepertiga dari populasi yang milih saat itu.

Gara-gara pemilu, orang sibuk berdebat di facebook, twitter, path, whatsapp, juga adu komentar di blog dan situs web lainnya, baik situs media massa maupun situs web abal-abal. Yang bikin tambah seru adalah berkeliarannya guyon dan kampanye visual dan audio-visual yang kreatif. Seperti gambar para kandidat yang di-photoshop ala boyband dan saya comot dari facebook di atas :D

Gara-gara pemilu juga, tradisi surat-menyurat seolah hidup kembali, meski secara virtual dan dimaksudkan dibaca banyak orang, bukan betul-betul orang yang disebutnya sebagai tujuan surat. Pemicunya utama sepertinya sih surat Tasniem Fauzia Rais. Entah berapa banyak balasannya. Mulai dari anak negeri di Perth, Lausanne, sampai Indonesia sendiri.

Ada yang protes, penetrasi internet dan media sosial yang gila-gilaan itu nggak diimbangi dengan peningkatan kecerdasan dan kedewasaan sesama warga negara Indonesia. Enteng banget membagi (share) pranala situs web dan gambar tanpa ngecek kesahihan isinya. Jadilah pemilihan umum kali ini juga diwarnai hal saru alias tak senonoh.

Memang cuma perlu sedetik untuk ngeklik tombol “share” dan “retweet”, juga mengetuk (tap) pilihan “repath”. Tapi efeknya bisa fatal kalau yang dibagi itu fitnah. Sayang situs web yang relatif positif seperti fakdacapres.com justru jarang dibagi di media sosial.

Selain logika, etika pun seringkali terlupakan. Caci maki seperti jadi ganti tanda baca, berserakan di dunia maya dan nyata. Berbeda pilihan juga seolah jadi pembenaran untuk menjadikan mereka yang berbeda sebagai musuh pribadi. Kisah kawan menghapus nama kawannya dari facebook, unshare di Path, kontak di BBM, juga keluar dari grup Whatsapp, tidak cuma satu-dua kali saya dengar.

Bagaimanapun, toh yang namanya manusia dan bangsa itu terus belajar sepanjang hidupnya, moga-moga saja kita semua bisa terus lebih bijak dalam memilih mana yang fakta dan mana yang fiksi. Amiiiiiiin :)

Kesan pemilihan umum bagi saya hari ini bertambah satu hal: haru.

Untuk pertama kalinya, saya ikut dalam acara kampanye politik. Sedari dulu saya memang tak netral dan telah berpihak pada Jokowi-JK, tapi baru hari ini saya turun ke jalan stadion. Siang hingga sore tadi saya dan Yoga bergabung dengan puluhan ribu orang di Gelora Bung Karno, Jakarta — termasuk Nila dan kakaknya. Saya lihat banyak pula jurnalis kali itu ke GBK bukan untuk liputan, tapi berperan sebagai partisipan. Bersuka ria menikmati Konser #Salam2Jari, bersama menitipkan rasa percaya dan asa kepada Jokowi-JK. Alih-alih dibayar, kami justru rela mengeluarkan ongkos dan menyisihkan waktu untuk berkumpul di GBK.

Di penghujung konser yang didukung ratusan artis, atlet, dan tokoh keren itu, Jokowi mengatakan:

“Saya dan Pak JK berdiri di sini bukan karena nafsu untuk berkuasa apalagi dengan menghalalkan segala cara. Kami berdemokrasi untuk mendengar. Kami datang untuk ikut menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah. Kami hadir untuk ikut memberi rasa damai, bukan jadi pemicu konflik.

Saudara-saudari, kita berkumpul untuk membulatkan tekad, menyatukan hati dan bekerja keras sebagai tanggung jawab untuk melakukan perubahan demi kebaikan Indonesia dengan cara-cara bermartabat. Kita berkumpul di sini sebagai bagian dari demokrasi yang memastikan partisipasi seluruh rakyat untuk menentukan masa depan bangsa, penghormatan pada hak asasi manusia, berjuang untuk keadilan dan memelihara keberagaman serta perdamaian.

Kita semua adalah penyala harapan untuk Indonesia. Kekuatan kita adalah pada kerelaan. Anda rela bersatu padu, berdiri tegak, bekerja keras menyuarakan pesan tegas bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan.”

Kata-kata bagus yang bakal kita kawal dan tagih jika — semoga — Jokowi-JK dipercaya Indonesia untuk memimpin bangsa ini.

Mengutip lagu gubahan Marzuki “Kill the DJ”:

“Setelah pilihan dan kemenangan
Kami akan mundur menarik dukungan
Membentuk barisan parlemen jalanan
Mengawasi amanah kekuasaan”

Besok kita memasuki masa tenang, dan empat hari lagi kita akan memilih. Selamat memutuskan nasib bangsa tercinta ini.

Salam dua jari, salam Revolusi Mental!

Netralitas? Bitch, Please.

Menjelang pemilihan presiden ini, seru juga melihat, membaca, serta mendengar orang berdebat mendukung dan mencerca para kandidat. Ada yang elegan dan menggunakan argumen kuat, ada yang tampak membabi-buta. Saya nggak keberatan dengan riuh-rendah dukung-serang di media sosial, anggap saja itu pertanda kita sedang menjalani pendidikan politik.

Yang kerap mengusik saya adalah sering munculnya tuntutan terhadap netralitas. Media massa harus netral, status di facebook harus netral, ngetwit pun harus netral. Yaelah emang kita semua anggota band Netral, apa? :p

Bisa jadi ada pendukung Jokowi-JK yang kelakuannya sama, cuma kebetulan yang kelihatan di facebook saya adalah penggembira kubu seberang.

(Oya, sebagai catatan, saya sudah memutuskan memilih pasangan kandidat nomor dua, Jokowi-JK, jadi tulisan ini bisa jadi mengandung bias terhadap mereka. Bias lainnya juga disebabkan oleh profesi saya sebagai jurnalis. Sebagai tambahan, saya tidak mengaku netral dan tidak percaya pada netralitas. Sila terus baca untuk tahu alasannya, dan silakan berkomentar kalau mau :) )

Kalau kamu masih percaya manusia itu bisa netral 100%, saya sarankan kamu menguji keyakinan tersebut. Netralitas itu cuma mitos, kawan. Soalnya, kita tidak lahir dan tumbuh di ruang hampa. Keluarga dan lingkungan di mana kita dilahirkan dan dibesarkan memegang peran sangat besar untuk membentuk cara pikir kita. Pengalaman hidup kita menyumbang bias dalam pemikiran kita terhadap apapun.

Misalnya, saya yang punya orang tua berbeda suku dan kerap berpindah-pindah di Indonesia, dibandingkan dengan kawan yang seumur hidup hanya tinggal di satu tempat di tengah suku homogen, tentu punya pandangan dan keberpihakan berbeda soal multikulturalisme dan pluralisme. Juga, saya yang Islam mau tidak mau cenderung bersimpati pada sesama muslim ketimbang yang non-muslim.

Manusia bukan robot yang bisa bertindak tanpa terpengaruh pengalaman masa lalu, keyakinan, sentimen, dan emosi. Maka saya tidak percaya kita bisa 100% netral. Kita pasti berpihak. Dan berpihak itu bukan dosa. Bukankah hakim pun pada akhirnya harus memihak? Personel TNI dan Polri yang secara hukum harus netral pun baik diam-diam maupun terang-terangan ikut berpihak pula. Dan kalau kamu percaya pada Tuhan, bukankah Dia juga berpihak? Makanya kita berdoa agar Dia memihak kita.

Masalahnya, kita harus bisa menjustifikasi keberpihakan itu. Di sini kita bisa berdebat soal apa saja kriteria yang tepat soal pemilihan pihak dan siapa yang punya otoritas menentukannya. Saya percaya kita semestinya berpihak pada korban dan kebenaran, serta melawan pihak yang lalim. Adapun soal siapa, kalau kita bicara institusi, maka pengambil keputusan di institusi itulah yang punya otoritas melakukannya. Tapi semua orang pun berhak menentukan keberpihakan mereka.

Kata Desmond Tutu, begitu. Gambar disalin dari http://24.media.tumblr.com/tumblr_m4wtptCLuR1qfvq9bo1_r1_1280.jpg

Bagaimana dengan media massa, tidakkah mereka seharusnya netral?

Jawabannya: tidak. Silakan cek Undang-undang Pers maupun Kode Etik Jurnalistik (KEJ) versi Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen, ataupun Persatuan Wartawan Indonesia (yang bau-bau Orde Baru itu). Tidak sekalipun kata netral disebut.

Yang mendekati netral hanyalah klausul bahwa pers harus membuat berita yang berimbang. Imbang artinya memberi semua pihak kesempatan yang setara. Kalau A mendapat waktu tayang satu jam sehari atau lima paragraf dalam berita cetak, maka B harus diberi kesempatan yang sama. Tapi tak pernah disebut bahwa media massa tidak boleh memihak. Selama berita itu akurat, artinya berdasar fakta dan bukan kebohongan, sah-sah saja jika penulis dan penyuntingnya mengambil posisi di pihak tertentu.

Bagaimanapun, keberpihakan media massa bisa mengusik rasa keadilan kita, terutama jika menggunakan sarana publik, seperti frekuensi televisi dan radio. Maka wajar jika Komisi Penyiaran Indonesia menyemprit TV One dan Metro TV yang memang vulgar sekali menunjukkan keberpihakannya. Tapi media cetak dan dalam jaringan (online) relatif tidak memakai sarana publik, sehingga saya berpendapat percuma jika kita memprotes pemihakan yang mereka lakukan, selain dengan tidak lagi mengkonsumsi berita dari media tersebut. Ada yang berpendapat selama lembaga media itu menyandang kata “masssa” di belakangnya, maka mereka punya tugas melayani massa alias masyarakat dengan menyajikan informasi yang mencerahkan — tapi apa pula kategori mencerahkan itu? (Omong-omong, para jurnalis di media massa yang secara vulgar berpihak, biasanya tak nyaman dengan kondisi itu. Tapi ya apa mau dikata kalau redaktur/editor/pemimpin redaksi/pemilik media/kawan pemilik media sudah menetapkan pihak yang harus disokong…)

Berikutnya adalah tuntutan bahwa ujaran orang di media sosial harus netral. Aduh. *kasih jitakan virtual untuk orang-orang yang berpikiran seperti itu* Biasanya ujaran orang di media sosial adalah opini pribadinya. Namanya juga opini, mana mungkin netral?

Lontaran pengguna media sosial pun tentu tak bisa dikenakan tuntutan serupa bagi karya jurnalistik, antara lain soal berimbang dan akurat tadi. Ingat, Undang-undang Dasar 1945 menjamin semua warga negara Indonesia untuk mengemukakan pendapatnya. Nggak ada tuh aturan bahwa pendapat itu harus netral. Cuma, kalau menyebar kabar bohong alias fitnah, si pencetus ya bisa digugat secara hukum dan boleh jadi harus masuk penjara.

Saya pikir yang masih perlu diperbaiki dari perilaku kita di media sosial adalah tak seenaknya berbagi informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan asal salin-tempel tautan situs web, kalau muatan di laman tersebut tidak terjamin validitasnya, entah fiksi entah fakta.

Tapi kalau kamu nggak setuju dengan pendapat orang, entah dalam percakapan langsung ataupun di media sosial, janganlah menuntut dia untuk bersikap netral. Bitch, please (nggak nemu ungkapan dalam bahasa sendiri yang setara, nih). Nggak usah jadi ratu drama deh. Balas saja dengan pendapatmu, syukur-syukur dengan argumen kuat yang didukung data kredibel. Nggak usah marah-marah, hadapi perbedaan dengan kepala dingin, jangan putus silaturahmimu dengan kawan dan kerabat.

Setelah saya ngetik sampai pegal, setelah kamu membaca hingga akhir, masihkah kamu percaya pada konsep netralitas? :)

Letting Tempo Go

I’m moving on.

Tempo has been an important part of my life, a significant label I proudly say right after my name in every introduction, since March 3rd, 2008. It has strongly defined who I am, how I think, and what my views are today.

Nevertheless, after six years of “education” in Tempo, last month I decided to put a sweet end to it. People keep asking why and where I will go next — is it CNN Indonesia? PR agency? Housewife? — and I grow tired of explaining so here is my I answer.

In a nutshell, I feel like I have outgrown Tempo. Like those potted plants: at one point the plants become too large they can’t fit the pot no more, so we have to put them into larger pots or plant them in the ground. I need new challenges, new environment. So I move on.

But where will I move? To be honest, nowhere or perhaps more accurately, everywhere. Not CNN Indonesia, nor any PR agency, neither will I be a housewife. At least not now. For the time being, let me label myself as a freelancer, who will gladly write, report, or translate English-Bahasa Indonesia (and vice versa) documents for you.

Why don’t I find the next established, “real” job before resigning from Tempo? (damn, these seemingly endless questions, are you all journalists or what? :D ) My answer is, well, sometimes enough is enough.

I have a lot to thank to Tempo: for it is the institution that instills high standards of integrity among its workers, hones my journalistic skills, and sharpens my linguistic capabilities (turning into a grammar Nazi is a side effect of it). Tempo is also my stepping stone to get the scholarship, which allows me to taste two wonderful years in Europe. Last but not least, it is also in Tempo that I fell for Yoga :)

As for my grudges for the corporation: let me keep it to myself (and my Tempo friends hahaha).

I will always be proud to have Tempo as a significant part of my life.

See you later, Tempo!

With friends of my batch, on the first day in Tempo.