Cerita Lensa

Sedikit cerita tentang mata dan lensa.

Aku pakai kacamata sejak kelas tiga SD. Abnormalnya mataku ketahuan waktu nonton film di bioskop bersama orang tua tercinta. Gambar film itu terasa kabur, dan iseng saja, aku pinjam kacamata ayahku. Eh, kok jadi lebih jelas?

Usai nonton, kami pergi ke optik, dan mataku diperiksa di sana. Duh, ternyata mataku minus. Saat itu aku menangis karena nggak mau terlihat seperti kutu buku… hihihi. Beberapa hari kemudian, dengan perasaan terpaksa dan tertekan, aku mulai mengenakan kacamata. Dan sialan, memang tampangku jadi kelihatan kayak kutu buku (meski memang aku suka baca buku sih). Waktu itu memang nggak banyak pilihan bingkai kacamata. Variasinya cuma: bingkai-kutu-buku-tipe satu, atau bingkai-kutu-buku-tipe-dua, dst.

Soal kedatangan si silindris, aku lupa kapan tepatnya mataku divonis ketidaknormalan satu lagi itu. Mungkin SMP. Atau SMA ya?

Hmm. Yang jelas, dalam kurun waktu 15 tahun (1993-2008), paling tidak aku sudah “menghabiskan” sekitar tujuh bingkai kacamata. Alasan ganti bingkai: hilang (sekali, di kolam renang, waktu masih SD), bengkok (dengan derajat kebengkokan yang beda-beda, biasanya karena sering dipakai sambil tidur-tiduran atawa tidur betulan), dan cat bingkai mengelupas (awalnya cuma sedikit, kemudian dengan senang hati kukelupas dengan sengaja).

Aku tidak menghitung, berapa pasang lensa kacamata yang kuhabiskan. Biasanya kalau nggak pecah, ya nambah (ukuran). Awalnya -1,5 (kanan) dan -1,75 (kiri); sekarang -1,5 cyl 1,5 (kanan) dan -4 cyl 0,5 (kiri).

Praktis, aku “buta” tanpa kacamata. Berdirilah lima meter di depanku, dan dalam penglihatanku, kamu akan jadi si muka rata! Hehe.

Lensa kontak baru kucoba sekitar dua tahun lalu. Menjelang wisuda-pelantikan garda depan Dagadu. Ingin cantik tanpa kacamata, hahaha… Pegawai optik beberapa kali memperingatkan: dengan memakai lensa kontak, penglihatanku cuma berkisar di angka 70%, karena cuma minusnya saja yang ter-cover, silindrisnya tidak. Hakul yakin kutukas, “Nggak apa-apa!” (Yang penting, perona mataku nanti bisa terlihat jelas dan tidak terhalang, gitu lho mbak.)

Agak ribet pas aku coba pakai lensa kontak itu. Bingung gimana megang si lensa dan memasangkannya di mataku. Bingung apakah aku telah memakainya dengan benar. Percobaan pertama, aku memakainya terbalik. Mataku jadi sakit, huhu. Tapi aku kemudian tahu, kalau si lensa itu tetap di tengah – tidak bergerak – saat mata melirik kanan dan kiri, nah, berarti itu terbalik, kawan! Lepaskanlah dari mata, lalu kau balik, dan pasangkanlah kembali, hihihi.

Beli dua kotak lensa kontak (hehe berima), waktu itu dapat bonus satu kontak. Satu kotak berisi enam lensa, masing-masing masa pakainya enam bulan. Tapi karena ukuran minus dua mataku itu berbeda, maka setelah enam pasang lensa itu habis kupakai, masih ada sisa sekotak lagi. Kotak lensa -4 itu menganggur cukup lama, sekitar setahun.

Senin lalu, akhirnya aku membeli sekotak lagi, kali ini ukuran -1,5; untuk pasangan si lensa pengangguran hehehe. Jadilah hari Selasa kemarin, aku mulai memakai lensa kontak lagi. Ringan, tanpa beban kacamata yang bertengger di hidungku, dan tanpa batas bingkai di penglihatanku. Memang sih, agak repot membersihkannya tiap hari.

Yang jelas, yang namanya berciuman bisa lebih nyaman dan nikmat tanpa terhalang kacamata. Masalahnya, siapa pula yang bisa kucium sekarang, hohoho… *desperadooooo*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *