Daun Berguguran di Istana Bogor

The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold..

(Daun berguguran melayang melintas jendela
Daun musim gugur berwarna emas dan kesumba..)”

Di Istana Bogor, Jumat (6/8) malam lalu, bukan Nat King Cole atau Frank Sinatra yang menyanyikan lagu romantis berjudul Autumn Leaves itu. Tapi Wakil Presiden Boediono, yang biasanya irit bicara di hadapan pers.

Puluhan juru warta yang turut serta dalam Silaturahmi Wakil Presiden Boediono dengan jurnalis di Istana Bogor mendadak terkesima saat Boediono melantunkan lagu lawas tersebut. Inilah pertama kalinya pers disuguhi nyanyian kakek lima cucu itu.

Suaranya ternyata lebih enak didengar ketimbang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah melansir tiga album musik. Dengan vibrasi yang mantap namun tak berlebihan, Boediono meniti tiap nada dengan tepat, dengan lirik yang sungguh akurat.

Tak terlihat sisa kelelahan pada raut pria yang mengenakan kemeja tenun ikat biru itu. Padahal seharian ia telah sibuk dengan rapat kerja di Istana Bogor, lantas menghadiri peringatan ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen di Pusat Perfilman Usmar Ismail.

Tidak tampak juga rasa kecewa karena kibordis pengiring tak hafal akor “Setangkai Bunga Mawar”, lagu Ismail Marzuki yang tadinya ingin dinyanyikan Boediono. “Diciptakan tahun 1943, liriknya mengenai cinta yang dikhianati, tapi sebetulnya protes sosial terhadap pendudukan Jepang. Ini satu-satunya lagu yang saya hafal selain Indonesia Raya,” tutur dia sembari berkelakar sebelumnya.

I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

(Aku paling rindu kamu, sayang
Saat daun musim gugur mulai jatuh melayang..)”

Riuh tepuk tangan menyambut berakhirnya unjuk suara tangan kanan Presiden itu. Istrinya, Herawati, serta salah satu anaknya, Dios Kurniawan, tersenyum melihat Boediono yang tampak santai dan tak canggung di panggung.

Tidakkah ingin juga meluncurkan album musik seperti si Bos? “Hehehe…,” Boediono hanya menjawab pertanyaan saya dengan tawa.

—————–

Malam ini, saya piket malam di kantor. Membongkar arsip lama dan membaca ulang ficer singkat ini. Tampaknya layak untuk dibagi di blog 🙂

Boediono memang figur yang jauh berbeda dengan Jusuf Kalla. Dia kalem, superkalem, dan boleh jadi itulah sebabnya Papa Smurf memilihnya menjadi wakil di periode kedua.

Banyak yang mengkritiknya sebagai neoliberal, ban serep tuannya, tak ramah pada media. Dari beberapa bulan terjebak sepi berita meliput di Istana Wakil Presiden, saya melihatnya sebagai pribadi yang lebih tulus dan lelah bekerja ketimbang si bos.

Saya masih terngiang suaranya yang bagus dan melenakan saat bernyanyi…

Komentar via Facebook | Facebook comments

4 Comments

  1. satu2nya ganjalan soal citra boediono di mata saya adalah masalah century. di luar soal itu, saya orang yang kagum pada boediono. dia sangat sederhana, dan wajahnya memang tulus. :D. tapi banyak yg iri dg posisinya sekarang kayaknya.

    1. ya, soal century bakal terus mengganjal boediono selama sibuaya, bosnya, diam saja. bagaimanapun, presiden seharusnya bertanggung jawab untuk anak buahnya…

  2. […] Setelah itu, saya dirotasi ke kelompok kecil wartawan elit sial yang harus meliput kegiatan Presiden dan Wakil Presiden. Banjir berita.. tapi berita keras. Pendek, kering, membosankan. Satu-satunya ficer yang saya buat dengan tulus mungkin cuma cerita Pak Boed bernyanyi. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *