Dilamar!

Haha. Hm, sebetulnya bukan dilamar. Cuma mendadak ketemu lelaki yang mengaku suami saya. Bukan hanya sekali, tapi dua kali, saat pekan lalu melancong ke Afrika.

Mungkin bercanda, tapi kok agak ajaib, ya. Yang lebih parah, salah satunya mengklaim saya dan kawan saya Retha sebagai istri-istrinya. @.@ *melototnya jadi dobel*

Kejadian pertama waktu saya, Retha, dan dia-yang-lebih-baik-tak-disebut-namanya keluar dari lift di lantai tiga hotel kami. Kami bertiga sama-sama peserta Voices Against Corruption’s 2nd Global Youth Anti-Corruption Forum di Nairobi, Kenya. Si pria itu dulu juga ikut GYAC di Brussels tahun lalu, tapi saya nggak begitu kenal.

Malam itu seusai forum ada konser kecil-kecilan di bar dan beberapa kawan memesan minum — kebanyakan minum bir, saya cukup dengan sebotol Coca-cola (bukan alim-alim amat, tapi saya memang nggak suka bir). Selepas konser itulah kami kembali ke hotel.

Kebetulan tepat di seberang lift adalah kamar saya dan Retha, bersebelahan. Saya lupa bagaimana awalnya, tapi lelaki itu mendadak bilang, “Kalian berdua adalah istriku.”

Saya dan Retha kontan saling memandang dan langsung bilang “Apa?” “Siapa yang mau jadi istrimu?” “Kenapa kami harus jadi istrimu?” — saya lupa juga siapa bilang apa saking terheran-herannya kami saat itu hahaha.

“Kenapa tidak? Aku kaya, ayahku seorang duta besar,” ucap si lelaki.

Kami bengong. Dan khawatir karena si pria ngomong begitu di depan kamar kami. Kalau dia tiba-tiba menyerbu saat kami buka pintu kamar, kan super gawat! Kami tidak tahu dia sudah minum apa di bar dan apakah itu mempengaruhinya untuk mengatakan kalimat mengejutkan itu.

Untungnya dia nggak terlalu lama berada di depan kamar kami, lantas melengos ke kamarnya sendiri. Saya dan Retha berpandangan, mengedikkan bahu tanda “APA-APAAN itu tadi???” , lalu buru-buru masuk ke kamar masing-masing.

Besoknya, malam terakhir GYAC, konser belum juga selesai sampai jam 1 pagi. Saya dan Retha yang sudah terlalu lelah memutuskan untuk pulang duluan dengan minibus yang sudah menanti di Sarakasi Dome, lokasi forum.

Sembari menunggu, kami mengobrol dengan Gabi, kawan dari Kamerun yang lumayan saya kenal baik. Dia salah satu tim inti GYAC, jadi sebelumnya sudah saya temui di Brussels dan di IACC ke-14 di Bangkok.

“Aku mau cerita sesuatu,” kata Gabi sembari nyengir. Dia bilang, dia dulu salah satu orang yang menyeleksi para jurnalis untuk ikut ke Brussels. Entah bagaimana pacarnya lihat aplikasi saya dan cemburu.. Kecemburuannya makin besar karena ternyata saya juga ketemu dia lagi di Bangkok November lalu.

“I said I’m going to meet my Indonesian wife,” katanya. Pacarnya lalu marah dan menangis…

Saya langsung bilang: satu, dia kejam bikin pacarnya sampai nangis begitu, dan dua, WHY THE HELL WOULD YOU SAY THAT I’M YOUR WIFE?

Saya dan Retha yang masih nggak habis pikir dengan kejadian malam sebelumnya langsung bertanya pula, ada apa dengan lelaki Afrika dan istri? Kenapa mereka dengan mudahnya mengklaim seorang perempuan sebagai istri, apakah itu bercanda atau serius?

“Dia cemburu karena alasan nggak penting, dan aku cuma membantunya cemburu. Omong-omong, kitab suci bilang seorang laki-laki harus siap menikah,” ujarnya dengan mimik serius, saat kami melanjutkan perjalanan di dalam minibus. “Lagipula siapa bilang kita nggak bisa menikah? Kalau kamu nggak mau, aku bisa masukin kamu ke dalam tasku dan kubawa kamu pulang ke Kamerun.”

APAAAAAA?
Kami bilang itu namanya dia KRIMINAL!

“Memangnya mencintai orang itu kejahatan?” dia bertanya balik.

Mencintai, tidak, tapi menculik, ya jelas iyalah booooo… *kepala langsung makin pening*

“Dia sudah punya pacar, namanya Gabriel,” tukas Retha yang di bis itu, untungnya, duduk di antara saya dan Gabi.

Waduh. Saya mencium ada blunder besar di sini…

“Gabriel? Aku dong!” kata si Gabi sambil nyengir, kali ini superlebar.

*rasanya pengen nyetop bis terus buang si Gabi di jalan*

Besoknya saat sarapan saya dan Retha ketemu Annie, orang yang mengorganisir acara di Nairobi. Kami langsung menceritakan dua kejadian tadi pada perempuan Perancis paruh baya itu.

Gantian dia cerita, duluuu, sekian tahun lalu, dia sempat mengadakan acara di salah satu negara di Afrika. Adik lelakinya, waktu itu berusia awal 20-an tahun, kebetulan ada di negara itu, dan sesekali ikut dalam acara.

Di tengah acara, salah satu peserta mendekati Annie. Dia ingin melamar si adik… untuk menikah dengan anak perempuannya! Annie jelas berkelit dengan segala cara untuk menampik secara halus lamaran itu. 😀

Masalah pernikahan dan lamaran — entah guyon atau tidak — mungkin memang bagian dari budaya Afrika. Siap-siap saja mendadak dilamar ya kalau ke sana…

Ah, kenapa bukan lelaki Amerika Latin yang seksi-seksi itu ya yang melamar kami? Atau brondong-brondong menggemaskan itu? *eh*
Punten ah, permisi, sudah malam, sudah saatnya tidur. Saya mau mimpiin Gabriel yang ada di Rusia itu aja..

gambar disalin dari http://bit.ly/lqYEQA

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *