Indonesia, Tanah Air Beta

Jarak jauh boleh jadi justru membuat kita makin sayang, bangga, dan juga makin mengenali negeri sendiri. Setidaknya, itu yang kami rasakan pada International Day ISS, 19 November 2011.

Saat itu, tiap “kontingen negara” diberi pilihan untuk ikut serta dalam pameran, gerai makan, atau tampil di pentas seni International Day. Mahasiswa Indonesia dengan superpede memilih ikut ketiga-tiganya. Tentu karena kami cinta Indonesia dan nggak sabar memamerkannya pada dunia. Tapi juga karena pada tahun ajaran ini, dibanding negara lain, memang pelajar Indonesia menempati posisi jumlah terbanyak: 28 mahasiswa master plus tiga kandidat doktor. Jumlah personel yang berlimpah itu membuat kami bisa membagi tugas dengan lebih efektif.

Semangat kami pun bukannya surut, namun makin berkobar ketika diwanti-wanti oleh Martin Blok, juragan ISS Welfare Office, bahwa ekspektasi untuk anak-anak Indonesia lumayan tinggi karena selalu memukau di tahun-tahun sebelumnya. 😀

Ida kebagian sampur mengatur pameran, Merry pegang komando seksi masak, dan Nurwinda bertanggung jawab untuk para penari dadakan. Semua kawan PPI Kota Den Haag sibuk menyiapkan hari-H di sela-sela beban kuliah yang bukannya berkurang tapi sepertinya bertambah.

Tim eksibisi mengumpulkan macam-macam materi untuk dipamerkan, termasuk “jemput bola” ke Kedutaan Besar. Pasukan masak merencanakan aksi mereka sembari makan-makan di Fat Kee, restoran makanan Cina favorit kami. Grup tari — yang beberapa personelnya seumur-umur belum pernah nari di depan umum –latihan nyaris tiap hari di bawah arahan Tamara dan Vinny, sampai salah satu penari mendapat bonus encok-pegel-linu.

Serius latihan
Serius latihan

Di hari-H, sejak sore tim pameran sibuk menata gerai. Sukses menarik banyak orang bertanya tentang Indonesia, sekaligus mencoba memainkan angklung dan suling.

Siapa mau ke Indonesia?
Siapa mau ke Indonesia?
Sulingnya suling bambu...
Sulingnya suling bambu...
Nggak kalah sama Saung Angklung Mang !
Nggak kalah sama Saung Angklung Mang Udjo!

Di sisi lain Den Haag, nyaris tujuh jam tim masak berkutat di dapur demi menyajikan menu gado-gado, telur balado, tempe orek, nasi uduk, dan kue talam. Di asrama Oude Molstraat, mereka memasak dari jam 10 pagi sampai pukul 16.30. Begitu hidangan sampai di ISS, cuma perlu waktu sebentar sampai semuanya laris manis…

Juragan seksi masak beraksi...
Juragan seksi masak beraksi...
Satu koki tumbang...
Satu koki tumbang...
Laris manis tanjung kimpul!
Laris manis tanjung kimpul!

Dan tim tari sukses menyajikan tari Pasambahan dari Ranah Minang, plus Ngibing ala Betawi. Ini pertama kalinya pentas Indonesia mengajak penonton ikut menari, jadi tepuk tangan di akhir penampilan kami jadi lebih meriah lagi.

Sebelum manggung
Sebelum manggung
Bersiap..
Bersiap..
Ngibing, mang...
Ngibing, mang...
Di akhir Ngibing
Di akhir Ngibing

Di akhir hari, kami semua lelah, tapi juga bahagia. Indonesia, semoga kami bisa membuatmu semakin bangga!

Semua foto karya Doan H Tambun; kecuali foto Angklung yang dijepret Tiara Titi Kartika.

Entri ini pertama kali nampang di blog PPI Kota Den Haag.

Komentar via Facebook | Facebook comments

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *