Jokowi, Prabowo, Palestina, Logika

Kehidupan saya sebagai pengangguran-banyak-acara atawa sedang-berada-di-antara-dua-kerjaan (I’m in between jobs, status saya sekarang) nyaris selalu berbanding lurus dengan aktivitas di dunia maya. Seperti kali ini.

 

Bukan soal halal-haram daging sapi lagi. Perdebatan kali ini berkutat pada pemilihan presiden yang kontroversinya bak tiada akhir itu, serta hubungannya dengan krisis Palestina dan logika.

 

Kawan jurnalis bernama Arif Gunawan Sulistiyono memulai dengan statusnya di Facebook, lantas saya komentari. Kami berbeda pilihan, pun berbeda pendapat. Menurut saya sih, hingga akhir, perbincangan berlangsung relatif santun. Arif sudah menyatakan bersedia percakapan ini dimuat di blog ini, tapi emoh jika pembicaraan itu di-capture dan disiarkan. Karena komentator lain belum memberikan persetujuannya, saya hanya menyalin dan menempelkan percakapan kami berdua. Sila membaca dan semoga blog ini bisa memantik diskusi 🙂


Gambar disalin dari karikatur tahun 2010 di http://www.salem-news.com/articles/april282010/thank-you-ni.php

 

Status Arif:
fungsi klaim adalah: membentuk persepsi. ketika persepsi massa begitu kuat terjadi, maka fakta bs (diubah demi) mengikuti persepsi. misal: israel berhasil membentuk persepsi bahwa mrk pemilik sah sebidang tanah. dunia pun mendiamkan penjajahan mrk. (masih nunggu capres itu bertindak nyata soal palestina).
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/09/rekapitulasi-kpu-rawan-intervensi-karena-hasil-hitung-cepat-berbeda

 

Arif:
hoi jokowi lovers, yes.. i`m talking to you! ada yg bs bantu kasi tau jokowi ngapain utk palestina saat ini? ….. i knew it. f*** politician.

 

(satu komentar yang mengutip http://www.merdeka.com/peristiwa/jalur-gaza-dibombardir-israel-ini-kata-jokowi.html)

 

Arif:
alhamdulillah, minimal dia udah komitmen untuk.. wait.. kmrn kayanya ada yg komitmen d jkt 5 tahun?

 

(dua komentar)

 

Arif:
wow.. jokowi sore ini konpers soal palestina! jgn2 ada panasbung yg mantau saya. #sekali-kali geer aah

 

(tiga komentar)

 

Saya:
Nih, aku bisa kasih tau:
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/07/10/n8hinx-sumbangan-dana-kampanye-jokowijk-akan-diberikan-ke-palestina
Masih mau bilang f*** politician?

 

Arif:
mungkin Bunga Manggiasih, [nama seorang kawan], [nama kawan lain] lupa baca komenku di atas: “wow.. jokowi sore ini konpers soal palestina! jgn2 ada panasbung yg mantau saya”

itu kukirim 6 JAM sblm konpers jokowi. palestina sdh dihajar sejak 8 JULI, & capres pujaanmu itu konpers 10 JULI. pada 9 JULI dia ketawa-ketiwi di tugu proklamasi dan bunderan HI. gak ada nyinggung palestina..

nah, setelah di sosmed banyak yg nyindir, termasuk akyuuh hehehe, doi br konpers. ini fakta keras bahwa he’s just a f*** politician. but for jokowi lovers, maybe he’s an angel..

 

(satu komentar)

 

Arif:
aku nyinyir utk mereka yg ignorant. btw, zaman sekarang kok masih bias gender sih. yuuuukk…

 

(satu komentar)

 

Arif:
ya sudah, klo gitu ngapain mbak [nama kawan] nimbrung? ini kan OPINI saya? cara anda mikir kontradiktif banget. ya puasa sih iya, tp mosok mikirnya jd error?

sejak kapan nyinyir harus ke salon? klo diskusi nggak pake logika, biasanya emang menyerang persona (nyinyirlah, bancilah, dst). tapi bisakah ANDA berdiskusi dgn memfalsifikasi argumen sy? tetot

 

(dua komentar)

 

Arif:
oooh.. jd klo sy mentaq nama anda, berarti sy MEMAKSA anda utk setuju dgn opini sy? plz deh, mbakk.. sy ini tahu sy masih bodoh, gak super pinter spt bbrp fanatik jokowi. sy tag anda dan mbak wido, utk meminta argumen pembanding, siapa tahu sy salah.

OK, coba deh logikanya dipake. tenang ya.. jgn esmosi. jawab pertanyaan sy: “kapan sy MEMAKSA ANDA utk setuju dgn saya?” di mana bagian kalimat sy yg spt itu?

 

(satu komentar)

 

Saya:
Aku sih cuma bantuin jawabin “masih nunggu capres itu bertindak nyata soal Palestina”. Menyadur kalimatmu: but for Jokowi haters, maybe he’s a devil. Ya dia mau apa aja seolah selalu salah.

Begini. Ini logika yg aku pelajari dulu — mungkin aku salah, mungkin kamu belajar logika dengan cara berbeda. Ada peristiwa A. Kemudian ada peristiwa B. Bisa jadi ada korelasi antara A dan B. Tapi apakah A menyebabkan B? Selama tidak ada bukti keras, bisa saja C, D, bahkan Z yang menyebabkan B. Kalau seseorang menyimpulkan A menyebabkan B, maka logikanya melompat. Serupa dengan otak-atik gathuk.

Contoh: kemarin saya gajian. Hari ini saya pilek. Apakah gara2 saya gajian, saya sakit pilek? Bisa jadi, tapi belum tentu. Selama tdk ada fakta pendukungnya yg jelas dan tak terbantahkan, jawabannya adalah tidak.

Contoh berikutnya, dengan variabel lebih banyak: Palestina diserang. Jokowi konpers. Jokowi dikritik. Jokowi-JK menyatakan dana urunan buat mereka bakal disumbangkan ke Palestina. Apakah mereka menyumbangkan duit ke Palestina karena dikritik orang2 sepertimu? Bisa jadi, tapi belum tentu. Selama tdk ada fakta pendukungnya yg jelas dan tak terbantahkan, jawabannya adalah tidak.

Bisa lihat betapa logikamu dalam pernyataanmu melompat-lompat? Bisakah Anda berdiskusi dengan memfalsifikasi argumen saya?

(Catatan untuk [nama kawan]: saya nggak setuju bahwa nyinyir itu ada hubungannya dengan jenis kelamin. Ayah saya misalnya, bisa lebih nyinyirnya banget banget daripada ibu saya )

 

Arif:
hehehe. siap mbak [nama kawan]. BTW, sy mau bikin “tattoo” baru aaah. tulisannya: “Tuhan, kuatkan hamba menghadapi kaum ignorant asal tuduh”

Bunga, thank you infonya. yg hendak kamu sampaikan adalah falasi non causa prima causa. apakah sy pilek krn gajian? belum tentu. lalu, apakah jokowi konpers krn komen sy? belum tentu (but yes I made a joke: jgn2 ada panasbung yg…blablabla.. sekali-kali geer lah.)

terus apakah jokowi f*** politician? menurutku iya. such a funny coincidence jika jokowi ngangkat isu palestina di debat pd saat berkembang opini dia tidak pro-islam (antek yahudi lah, kristen, lah, dan tuduhan ngaco sejenisnya).

apakah itu sikap tulus atau cuma pencitraan spt other f*** politician? bs kita cek dlm sikap spontan dia. misal: jokowi pencitraan naik bajaj ke KPU, krn faktanya dia sehari-hari pake mobil. prabowo pencitraan ke pasar tenabang, krn faktanya dia sehari-hari ga ke sana. setuju??

nah, palestina tdk akan jd komoditi pencitraan buat jokowi jika sdh mengurat-akar dlm keseharian, jika dia memiliki kedekatan concern dgn palestina shg lngsung bersuara ketika tragedi itu muncul ketika dia punya kesempatan utk itu.

sayangnya, fakta bicara lain. ketika palestina dihajar pd 8 juli, dia diem. ketika 9 juli di depan publik mengklaim kemenangan (yg memberi dia kesempatan mengutuk tragedi palestina–ya minimal mengutuk laah), tak ada singgung palestina. lalu, medsos mempersoalkan ini, baru dia bicara.

dlm logika perpolitikan modern (ketika medsos jd salah satu cara membaca “lidah rakyat”) aku pikir argumen dia konpers demi merespon kritikan di medsos itu masih berdasar. politisi bersikap dgn merespon perkembangan opini di voters (krn itulah di amrik ada lembaga utk mengukur kepuasan voters, diupdate rutin tiap bbrp periode). tak ada lompatan non causa pro causa di sini, krn dua premis yg ada saling berkorelasi, tak spt pilek dan gajian, melainkan spt pilek dan kecapekan.

 

Saya:
But for Jokowi haters, maybe he’s a devil. Tak apa. Silakan bersikukuh pada pendapatmu. Saya berpegang pada opini yang berbeda.

Btw kalau kamu bilang f*** politician(s) maka yang perlu dimaki bukan cuma Jokowi, tapi juga kandidat seberang, Prabowo. Dia politisi juga kan?

 

Arif:
FYI, i’m not jokowi haters. I’m jokowi’s dieharder hater. beda tipis sih. dalam konteks palestina ini aku ga nyerang prabowo, krn kebetulan si wowo ini gak jualan isu palestina. klo ada isu lain yg relevan dgn ke”F”an politisi, bolehlah aku ditag biar ikut “maki” juga. hihihi..

 

Saya:
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140710/94/72944/video-prabowo-marah-marah-ke-wartawan-beredar-luas-ini-link-nya
Kesehatanmu lho Pak…

Arif :
ukannya sudah ada “klarifikasi” dari wartawan TV di path bahwa si wowo ini nyindir, bkn ngamuk2? kmrn dibahas di kantor, dan emang akhirnya semua ngakui klo berita itu lebai. sayang aku ga ikutan path. T_T

 

Saya:
Judul berita di atas itu “marah” sih bukan “ngamuk”. Kalau sama anak kompas tv memang dia cuma nyindir. Tp stlh itu sama anak metro tv dia marah beneran, lantas ngusir semua awak media kecuali CNN yg dpt jatah wwcr terakhir. Cuma aku belum nemu rekaman videonya aja.. mungkin anak2 yg liputan waktu itu pada keburu takjub dgn kelakuan si Bapak. Aku ga ingin memaki Prabowo, sungguh. Aku cuma merasa iba.

 

Arif:
iya. Bung.. nah, sesuai logika sehat, selama blm ada bukti. kita jgn menghakimi dulu yuk.. kasihan dia. tar stroke lagi. mngkn dia sensi krn jasa dia di balik pencalonan jokowi jd gubernur “hilang” dlm majalah Tempo edisi pilpres. pdhl pada 2012 dijadiin tema utama.

 

(satu komentar)

 

Saya:
Ah Argun. Bisa aja bilang jangan menghakimi dulu. Kamu dari awal sudah bilang f*** politician itu bukankah sikap yang menghakimi? Menyimpulkan bahwa A menyebabkan B adalah menghakimi juga, bukan?

Aku sih percaya bahwa menghakimi dgn pikiran (bukan kekerasan) itu wajar saja, sama dengan wajarnya manusia berpihak dan tidak bisa netral. Jadi wajarlah kalau aku, kamu, kita menghakimi orang lain. Dalam pernyataan ini, aku menghakimimu tidak konsisten.

 

Arif:
makanya, aku tantang kalian para pemuja jokowi utk ke sini. aku menilai penghakimanku atas jokowi itu argumen berdasar. pertama, dia politisi, kedua, dia menjual isu palestina di debat, keduanya FAKTA. KETIGA (dan ini yg TAK MAMPU kamu falsifikasi), bahwa dia konpers setelah medsos ramai mempertanyakan sikap dia.

so, jgn salahkan aku klo kamu membuta tuli meski GAGAL memfalsifikasi argumenku. mari kita lanjut: “sayangnya, fakta bicara lain. ketika palestina dihajar pd 8 juli, dia diem. ketika 9 juli di depan publik mengklaim kemenangan (yg memberi dia kesempatan mengutuk tragedi palestina–ya minimal mengutuk laah), tak ada singgung palestina. lalu, medsos mempersoalkan ini, baru dia bicara. dlm logika perpolitikan modern (ketika medsos jd salah satu cara membaca “lidah rakyat”) aku pikir argumen dia konpers demi merespon kritikan di medsos itu masih berdasar. politisi bersikap dgn merespon perkembangan opini di voters (krn itulah di amrik ada lembaga utk mengukur kepuasan voters, diupdate rutin tiap bbrp periode). tak ada lompatan non causa pro causa di sini, krn dua premis yg ada saling berkorelasi, tak spt pilek dan gajian, melainkan spt pilek dan kecapekan.”

 

(satu komentar)

 

Saya:
Arif yang searif namamu, kamu juga tidak bisa membuktikan hubungan kausalitas itu. Satu hal yang saya tahu dalam ilmu sosial, tidak seperti ilmu eksak, kita tidak bisa membuktikan A menyebabkan B, karena kita tidak tahu dalam semesta ini ada apa saja penyebab B. Bahwa A ada hubungan (korelasi) dengan B, itu jelas, tapi bagaimanakah hubungan itu terjadi, ada variabel lain apa saja, kita tidak bisa mengetahuinya. Wallahualam.

Dalam hal ini saya menganggap kita ada posisi stalemate. Ya, saya tidak bisa memfalsifikasi keseluruhan argumenmu. Tapi kamu juga tidak bisa membuktikan kausalitas dalam argumenmu.

Aku nggak menyalahkanmu karena aku gagal memfalsifikasi argumenmu. Aku ini bukan manusia-tahu-segala. Tapi aku tahu pengetahuanku terbatas.

Aku harap kamu tidak menyalahkanku karena kamu tidak bisa membuktikan kausalitas argumenmu. Tapi harapan itu bisa saja tak terpenuhi. Sama seperti harapan mendapatkan A sebagai presiden baru, tapi sepertinya B yang meraih kursi itu.

Tidak apa-apa. Manusia menghadapi kekecewaan dalam beberapa tahap: sedih+marah, menyangkal, menerima, barulah kemudian membuat harapan baru dan berusaha meraihnya.

Tidak apa-apa. Bumi belum berhenti berputar, langit belum runtuh, kiamat belum tiba, Indonesia masih hebat dan belum bubar, kita masih bebas berbeda pendapat karena alhamdulillah kita masih hidup di negara demokratis.

 

(satu komentar)

 

Arif:
thanks mbak [nama kawan].. mari kita menghitung dosa. dlm sehari ini ada yg bilang saya banci, sy timses prabowo, dll. smg dia sadar yaa.. sy jg mngkn berdosa klo mengatakan sesuatu tanpa dasar or fakta. silahkan simak diskusi sy dgn Bunga ya.. duduk yg manis..

 

(dua komentar)

 

Arif:
Bunga, namamu yg seindah aslinya (ini klaimku berdasarkan “quick count” :D). dlm ilmu sosial, kita bisa menemukan korelasi 2 kejadian dgn logika sehat. caranya dgn apa? pisau analisis. plz jgn sok jadi nihilis dgn menganggap tak ada kebenaran di dunia ini.

klo kamu jeli, kausalitasku sudah kusampaikan. OK, aku akan coba pake penjelasan dgn silogisme urut biar kamu paham:

premis mayor: semua politisi modern sigap merespon opini voter di medsos (sahih)
premis minor: tim jokowi (politisi modern) konpers setelah di medsos ramai memertanyakan sikap dia soal palestina (sahih)

kesimpulan: tim jokowi merespon opini di medsos soal palestina, dgn konpers. apakah konpers ini telat? YA! pencitraan? YA! krn tdk spontan sejak dia punya kesempatan utk itu. makanya aku bilang: he’s just a F*** politician, dude!…

makanya aku kasih tahu: he’s a FINE POLITICIAN, politisi yg lihai! persis spt analisis mas [nama kawan].. Thanks mas..

 

(satu komentar)

 

Saya:
Aku bukan nihilis dan aku tdk menganggap tdk ada kebenaran di dunia ini. Tapi aku yakin aku tak tahu semua sisi dari hal yg kita anggap kebenaran.

Coba telisik premis mayormu, “Semua politisi modern sigap merespon opini voter di medsos.” Politisi modern ini siapa saja, berapa banyak, berapa banyak yg kamu amati? Anggaplah politisi modern adalah politisi2 yg lahir setelah th 1950 (demi mengakomodasi Prabowo yg lahir th 1951 dan Jokowi yg lahir th 1961), dan kamu telah dan sedang mengamati entah berapa juta mereka itu di semua negara, termasuk Indonesia. Satu politisi modern saja yg tdk responsif akan mematahkan premis mayormu, betul?

Kawan kuliah saya, lahir di dekade 1980an, adalah politisi Partai Demokrat. Dia bertarung dalam pemilihan legislatif lalu, tapi kalah. Sejak pileg itu dia tidak posting apapun di laman FB-nya, tidak merespon kejadian apapun yg sdg marak diperbincangkan voters Indonesia. Saya tdk tahu apa yg terjadi padanya, semoga saja dia sehat wal afiat dan bisa bangkit lagi dari kekecewaan. Dia politisi modern, dia tidak merespon opini voter di medsos. Sahih.

Begitu premis mayor tidak sahih, maka kesimpulanmu pun tidak sahih.

Sekadar disclaimer nih ya. Saya bukan pecinta Jokowi diehard, jadi saya berharap kamu yg Jokowi diehard hater tidak membenciku. Saya memilih Jokowi tetapi saya tetap mengkritiknya jika ia keluar jalur, seperti saat dia tidak mengecam pelaku penyerangan ke kantor TV One di Jogja. Saya beranggapan pernyataan kemenangan Jokowi dan Prabowo kemarin sama2 prematur. Tapi saya berkesimpulan lembaga survey yg menyatakan Jokowi unggul dalam hitung cepat adalah institusi2 yg lebih kredibel ketimbang yg mengklaim Prabowo unggul. Bagaimanapun, mari kita tunggu keputusan KPU pada tanggal 22 Juli.

 

Arif:
premis mayorku itu bermasalah buatmu, krn kamu salah mendefinisikan ‘politisi modern’. kamu menganggap politisi modern itu mereka yg lahir di era 50-an. ini jelas salah. klo berdasarkan era, maka modernisme (scr literer) dimulai pada 1800-an!

yg aku maksud adalah politisi kontemporer yg relevan disebut “modern”, yg tidak hidup dgn logika politik kuno (cuma nggarap massa di akar rumput, dan menafikan massa di medsos).

Komentar via Facebook | Facebook comments

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *