Karena Yang Tak Berubah Hanyalah Perubahan

Ini momentum yang saya tunggu-tunggu: rotasi. Peralihan lingkup tugas. Perubahan tempat liputan.

Bukan karena saya tidak senang meliput ekonomi dan bisnis. Di kompartemen lama itu, berita bisa dibilang banjir. Produktivitas terjamin. Banyak acara dan cerita. Rekan-rekan jurnalis pun bisa dibilang menyenangkan. Nyaris tiap hari pula saya makan enak di hotel berbintang. (ah, saya jadi ingin menarik napas supaya perut buncit ini tak terlalu kentara…)

Bukan pula karena saya bermasalah dengan redaktur. Para penyunting dan penyelia saya itu baik hati ramah dan tidak sombong, kok. (ini bukan jilatan, lho. saya serius.)

Hanya saja, saya merasa bosan. Padahal belum ahli. Dan saya harus akui saya kurang akurat kalau berurusan dengan angka. Biasanya saya berdalih, yah, gimana lagi, toh nilai mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi dulu, duh, dapat D. Mengulang pun cuma kebagian B. (oke, yang ini sekadar pembenaran atas inakurasi… ihiks.)

Lantas akhir bulan lalu datanglah memo rotasi itu: per 1 Oktober, saya dipindahkan ke kompartemen nasional. Wah! Senang campur deg-degan mampir.

Dan kemarin, saya ditempatkan di pos liputan hukum. Er, hukum? Haduh. Dulu saya dapat C untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum! Hahaha.

Kemarin menjadi rekor lalu lintas pesan pendek terbanyak antara saya dengan Famega. Bisa dibilang saya bertukar tempat dengannya. Saya yang dulu liputan di Bursa Efek Indonesia, kini pindah ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dan sebaliknya yang terjadi padanya. Kami berbagi cerita, cara, dan data nomor narasumber.

Untungnya, kemarin ada sidang di pos liputan baru saya. Jadi tak terlalu bingung. Tapi jari tetap saja doyan keseleo. Saya salah ketik dakwaan menjadi tuntutan (oke itu keseleo jari yang FATAL! tapi apatah daya…)

Saya salah mengklik departemen saat memasukkan berita ke keranjang. Harusnya nasional, tapi saya malah memilih ekbis. Sebaliknya yang terjadi dengan Fame, dia mengklik nasional bukannya ekbis.

Parahnya, hari ini kejadian sama saya ulangi. Saya masih mengklik ekbis, bukannya nasional.

Ohya tadi malam saya mengobrol dengan satu teman via buku muka ini. Dia yang dulu sering saya temui di liputan ekonomi menanyakan bagaimana hari pertama saya. “Lo gak tanya kinerja tipikor semester satu?” kata dia.

Ha. Mendadak benak saya dipenuhi pertanyaan berbau ekonomi…
semester satu udah berapa kasus yang diputus?
pertumbuhannya berapa persen dibanding semester satu tahun lalu?
target tahun ini berapa banyak? sekarang sudah berapa persen?
kira2 target bisa tercapai tidak?
bisa dapet laba bersih berapa?
rasio kasus masuk terhadap kasus diputus, berapa persen?

Oke. Saya benar-benar harus mencoba beradaptasi… X)

Omong-omong, selamat hari batik ya!

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *