Netralitas? Bitch, Please.

Menjelang pemilihan presiden ini, seru juga melihat, membaca, serta mendengar orang berdebat mendukung dan mencerca para kandidat. Ada yang elegan dan menggunakan argumen kuat, ada yang tampak membabi-buta. Saya nggak keberatan dengan riuh-rendah dukung-serang di media sosial, anggap saja itu pertanda kita sedang menjalani pendidikan politik.

Yang kerap mengusik saya adalah sering munculnya tuntutan terhadap netralitas. Media massa harus netral, status di facebook harus netral, ngetwit pun harus netral. Yaelah emang kita semua anggota band Netral, apa? :p

Bisa jadi ada pendukung Jokowi-JK yang kelakuannya sama, cuma kebetulan yang kelihatan di facebook saya adalah penggembira kubu seberang.

(Oya, sebagai catatan, saya sudah memutuskan memilih pasangan kandidat nomor dua, Jokowi-JK, jadi tulisan ini bisa jadi mengandung bias terhadap mereka. Bias lainnya juga disebabkan oleh profesi saya sebagai jurnalis. Sebagai tambahan, saya tidak mengaku netral dan tidak percaya pada netralitas. Sila terus baca untuk tahu alasannya, dan silakan berkomentar kalau mau 🙂 )

Kalau kamu masih percaya manusia itu bisa netral 100%, saya sarankan kamu menguji keyakinan tersebut. Netralitas itu cuma mitos, kawan. Soalnya, kita tidak lahir dan tumbuh di ruang hampa. Keluarga dan lingkungan di mana kita dilahirkan dan dibesarkan memegang peran sangat besar untuk membentuk cara pikir kita. Pengalaman hidup kita menyumbang bias dalam pemikiran kita terhadap apapun.

Misalnya, saya yang punya orang tua berbeda suku dan kerap berpindah-pindah di Indonesia, dibandingkan dengan kawan yang seumur hidup hanya tinggal di satu tempat di tengah suku homogen, tentu punya pandangan dan keberpihakan berbeda soal multikulturalisme dan pluralisme. Juga, saya yang Islam mau tidak mau cenderung bersimpati pada sesama muslim ketimbang yang non-muslim.

Manusia bukan robot yang bisa bertindak tanpa terpengaruh pengalaman masa lalu, keyakinan, sentimen, dan emosi. Maka saya tidak percaya kita bisa 100% netral. Kita pasti berpihak. Dan berpihak itu bukan dosa. Bukankah hakim pun pada akhirnya harus memihak? Personel TNI dan Polri yang secara hukum harus netral pun baik diam-diam maupun terang-terangan ikut berpihak pula. Dan kalau kamu percaya pada Tuhan, bukankah Dia juga berpihak? Makanya kita berdoa agar Dia memihak kita.

Masalahnya, kita harus bisa menjustifikasi keberpihakan itu. Di sini kita bisa berdebat soal apa saja kriteria yang tepat soal pemilihan pihak dan siapa yang punya otoritas menentukannya. Saya percaya kita semestinya berpihak pada korban dan kebenaran, serta melawan pihak yang lalim. Adapun soal siapa, kalau kita bicara institusi, maka pengambil keputusan di institusi itulah yang punya otoritas melakukannya. Tapi semua orang pun berhak menentukan keberpihakan mereka.

Kata Desmond Tutu, begitu. Gambar disalin dari http://24.media.tumblr.com/tumblr_m4wtptCLuR1qfvq9bo1_r1_1280.jpg

Bagaimana dengan media massa, tidakkah mereka seharusnya netral?

Jawabannya: tidak. Silakan cek Undang-undang Pers maupun Kode Etik Jurnalistik (KEJ) versi Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen, ataupun Persatuan Wartawan Indonesia (yang bau-bau Orde Baru itu). Tidak sekalipun kata netral disebut.

Yang mendekati netral hanyalah klausul bahwa pers harus membuat berita yang berimbang. Imbang artinya memberi semua pihak kesempatan yang setara. Kalau A mendapat waktu tayang satu jam sehari atau lima paragraf dalam berita cetak, maka B harus diberi kesempatan yang sama. Tapi tak pernah disebut bahwa media massa tidak boleh memihak. Selama berita itu akurat, artinya berdasar fakta dan bukan kebohongan, sah-sah saja jika penulis dan penyuntingnya mengambil posisi di pihak tertentu.

Bagaimanapun, keberpihakan media massa bisa mengusik rasa keadilan kita, terutama jika menggunakan sarana publik, seperti frekuensi televisi dan radio. Maka wajar jika Komisi Penyiaran Indonesia menyemprit TV One dan Metro TV yang memang vulgar sekali menunjukkan keberpihakannya. Tapi media cetak dan dalam jaringan (online) relatif tidak memakai sarana publik, sehingga saya berpendapat percuma jika kita memprotes pemihakan yang mereka lakukan, selain dengan tidak lagi mengkonsumsi berita dari media tersebut. Ada yang berpendapat selama lembaga media itu menyandang kata “masssa” di belakangnya, maka mereka punya tugas melayani massa alias masyarakat dengan menyajikan informasi yang mencerahkan — tapi apa pula kategori mencerahkan itu? (Omong-omong, para jurnalis di media massa yang secara vulgar berpihak, biasanya tak nyaman dengan kondisi itu. Tapi ya apa mau dikata kalau redaktur/editor/pemimpin redaksi/pemilik media/kawan pemilik media sudah menetapkan pihak yang harus disokong…)

Berikutnya adalah tuntutan bahwa ujaran orang di media sosial harus netral. Aduh. *kasih jitakan virtual untuk orang-orang yang berpikiran seperti itu* Biasanya ujaran orang di media sosial adalah opini pribadinya. Namanya juga opini, mana mungkin netral?

Lontaran pengguna media sosial pun tentu tak bisa dikenakan tuntutan serupa bagi karya jurnalistik, antara lain soal berimbang dan akurat tadi. Ingat, Undang-undang Dasar 1945 menjamin semua warga negara Indonesia untuk mengemukakan pendapatnya. Nggak ada tuh aturan bahwa pendapat itu harus netral. Cuma, kalau menyebar kabar bohong alias fitnah, si pencetus ya bisa digugat secara hukum dan boleh jadi harus masuk penjara.

Saya pikir yang masih perlu diperbaiki dari perilaku kita di media sosial adalah tak seenaknya berbagi informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan asal salin-tempel tautan situs web, kalau muatan di laman tersebut tidak terjamin validitasnya, entah fiksi entah fakta.

Tapi kalau kamu nggak setuju dengan pendapat orang, entah dalam percakapan langsung ataupun di media sosial, janganlah menuntut dia untuk bersikap netral. Bitch, please (nggak nemu ungkapan dalam bahasa sendiri yang setara, nih). Nggak usah jadi ratu drama deh. Balas saja dengan pendapatmu, syukur-syukur dengan argumen kuat yang didukung data kredibel. Nggak usah marah-marah, hadapi perbedaan dengan kepala dingin, jangan putus silaturahmimu dengan kawan dan kerabat.

Setelah saya ngetik sampai pegal, setelah kamu membaca hingga akhir, masihkah kamu percaya pada konsep netralitas? 🙂

Komentar via Facebook | Facebook comments

4 Comments

  1. mmmm……
    Hal tersulit adalah menerima pendapat orang..apalagi klo pendapat itu berbeda, selayaknya kita punya pacar, rasa sayang, cinta, gairah dkk itu hanya milik kita sendiri tidak bisa dibagikan dalam kata2 (karena pasti ga cukup untuk gamabarin) nah sama deh kaya pilihan/pendapat/penilaian terhadap orang lain/benda. Sudah pasti kita akan sanjung-sanjung setinggi-tingginya. Maka dari itu dari dini mari kita belajar bagaimana kita bisa menghargai pendapat orang lain lalu mari kita mengungkapkan pendapat diri sendiri tanpa menyinggung persaan orang lain.
    Saya setuju tidak ada orang yang netral 100% tapi adanya orang yang pura2 netral. Terkait dengan pemilu, apakah orang-orang berkoar2 ttg no, 1 dan 2 pasti akan memilih di acara pesta demokrasi nanti????
    ngggggooooookkk deh!!!

    -salam dua jari-

    1. Hai Bejod!

      Betul banget, menerima pendapat berbeda dan kritikan orang lain itu berat, terutama kalau dari orang yang dekat dengan kita. Tapi kita bisa belajar kan? Kita bisa berargumen kepada mereka, sebisanya dengan argumen yang jelas dasar faktanya, dan dengan kepala dingin.

      Kalau mereka tidak setuju, ya sudah, kita boleh berbeda pendapat kok, ini kan negara demokratis. Kalau kamu berubah pikiran dan jadi mengiyakan cara pandang mereka, ya tidak apa-apa juga, bukankah kita — meminjam jargon SiBeYe — selalu punya pilihan? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *