Rindu Reportase

“Gunakan panca inderamu untuk menghasilkan reportase yang basah. Buat pembaca merasa seolah-olah ada di sana.”

Dua kalimat itu, dengan variasi berbeda-beda, berkali-kali saya dengar dalam pelatihan di awal masa kerja di Tempo, lebih dari tiga tahun lalu. Reportase yang kuat memang selalu jadi bumbu paling sedap dalam berita, terutama tulisan berjenis ficer.

Ficer — kata serapan dari feature — menurut “Seandainya Saya Wartawan Tempo” secara klasik adalah artikel yang kreatif, kadang subjektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.

Intinya sih, ficer itu harus menarik dan mengandung unsur kemanusiaan yang seringkali terlewat dalam berita keras. Berita keras itu ya berita yang tak memberi banyak selain 5W+1H, what-where-when-who-why-how yang sungguh mati membuat bosan, dan sayangnya, jenis berita yang belakangan ini terus saya giling dalam liputan di Istana. *curcol*

Kembali ke topik: reportase, menuangkan apa yang ditangkap mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit kita saat liputan. Teori dalam kelas reportase pertama kali saya praktekkan dan nikmati dalam penugasan menulis ficer tentang Pasar Cikini.

Saya masih ingat pagi-pagi datang ke sana. Mengamati penyapu yang sibuk di lorong-lorong sepi, menanyai para penjual yang kehilangan pembeli. Saya mondar-mandir tak keruan, mencoba menyerap semuanya lewat indera saya, mencatatnya baik-baik dalam benak dan lembaran kertas. Tegel cuil, noda tanah, kemeja rapi, cat terkelupas, semuanya muncul dalam tulisan yang meski tak sempurna, tapi saya suka.

Selanjutnya, tak ada reportase yang berkesan. Sampai pada Januari 2010, saya dikabari Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum bakal melakukan inspeksi mendadak ke rumah tahanan Pondok Bambu. Akibat telat baca pesan pendek, saya ketinggalan rombongan kecil yang berangkat dari kantor Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Setelah berkali-kali berhenti untuk menanyakan jalan, dan juga berkali-kali menelepon mengganggu kawan Wita dari Media Indonesia yang sudah lebih dulu sampai di lokasi, akhirnya saya sampai juga ke Pondok Bambu. Di situ, ada kamar nyaman khusus buat terpidana superkaya macam Ayin, Aling, dan beberapa koruptor. Saya bolak-balik mencoba menghitung luas kamar-kamar itu. Masalahnya, kemampuan saya mengukur ruang agak jongkok *aih*, jadi perlu beberapa kali menghitung sampai saya cukup yakin atas perkiraan luas itu.

Larut malam, inspeksi baru usai. Telepon seluler yang padam kehabisan baterai membuat saya harus ngebut ke kos untuk mengetik beritanya. Manajemen waktu yang payah menyebabkan saya tak bisa menepati tenggat. Akhirnya laporan saya hanya bisa naik ke TempoInteraktif. Tapi saya lumayan senang karena ini berita saya yang komentar pembacanya paling banyak hingga kini, sampai tembus angka 30 (lazimnya situs web Tempo relatif sepi komentar, tidak seperti lapak berita daring nomor satu di Indonesia itu).

Satu momen lagi di mana saya cukup banyak menulis ficer adalah dalam rangkaian sidang uji materi Undang-undang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi pada Februari-April 2010. Banyak kejadian dan tokoh menarik sepanjang sidang, mulai dari aksi penyair Taufiq Ismail bersaksi dengan membaca puisi, ger-geran ruang sidang saat Emha Ainun Nadjib didapuk jadi saksi ahli, dan kisah sedih penghayat kepercayaan yang mengaku gagal jadi tentara.

Setelah itu, saya dirotasi ke kelompok kecil wartawan elit sial yang harus meliput kegiatan Presiden dan Wakil Presiden. Banjir berita.. tapi berita keras. Pendek, kering, membosankan. Satu-satunya ficer yang saya buat dengan tulus mungkin cuma cerita Pak Boed bernyanyi.

Saya rindu menikmati proses reportase dan menuliskannya dalam ficer yang apik.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *