Tentang Liburan Yang Paling Menyenangkan

Pekan lalu, seorang sepupu dan seorang kawan meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu. Satu ke Austria dan satunya lagi ke benua kangguru.

Mendengar persiapan dan keberangkatan mereka, rasanya saya ikut bahagia. Tak lain karena teringat sendiri pada masa-masa saya cuti panjang dari pekerjaan dan tenggelam dalam “vakansi” superceria.

Saat mendapat kabar beasiswa didapat, raga terasa melayang. Antusiasme mencari informasi soal kehidupan dan studi di negeri seberang. Perpisahan dengan keluarga dan kawan-kawan lama. Kepanikan kecil dalam mengepak barang menjelang kepergian.

Lalu datanglah harinya: bertolak dari bandara tanah air. Tiba di tempat asing. Terpana dengan indahnya kota-kota tua, bersihnya udara, dan mudahnya bepergian ke mana-mana. Bertemu dengan teman-teman baru.

Terhenyak melihat daftar bacaan kuliah yang panjang. Mencoba mengatasinya dengan kerja kelompok. Sibuk mengunduh sederet artikel jurnal yang selama ini sulit diakses. Membuka perspektif dan mencoba berpikir dari sudut-sudut pandang tak lazim. Mengelola sesi masak dan makan siang bersama, makan malam di restoran Cina yang enak dan murah, serta hura-hura bergelimang anggur dan koktil nikmat di sela-sela tenggat makalah dan tesis.

Kesempatan menjelajah kota-kota dan negeri-negeri baru. Terpesona situs-situs bersejarah dan — meski di satu titik, semua kota tua terlihat sama. Menjepret, mengunggah, dan memamerkan ratusan, ribuan, jutaan foto di mana-mana.

Dua tahun begitu cepat berlalu dan tiba-tiba akhir hadir di depan mata. Saat liburan pun habis dan harus kembali ke dunia nyata. Berpisah dengan sahabat-sahabat baru untuk kembali ke sobat lama dan keluarga. Lalu menemukan diri sudah menjadi orang berbeda, namun mencoba tak putus asa dan terus berkarya.

Orang bilang tahun-tahun di SMA adalah masa paling indah ketika muda. Izinkan saya untuk tak setuju dan bilang masa muda paling indah, liburan yang paling menyenangkan itu, justru ketika kuliah S-2.

Memang menuntut ilmu tak harus keluar Indonesia. Banyak pengetahuan bertebaran di nusantara. Tapi keluar negeri, apalagi dengan bekal beasiswa, tentu tak ada salahnya.

Selamat “berlibur” wahai Indah dan Retha. Nikmatilah selagi bisa.

6 Comments

  1. Gw perlu lebih banyak lagi motret dan nulis supaya cerita-ceritanya gak ilang.
    Lumayan menantang karena begitu sampe kamar udah kecapekan banget. Long walks are crazily healthy but tiring. Ah you’ve been through this before, right :0)

    1. Santai aja Tha. Breathe it all in, you’re going to love those years. Meski memori tentu selektif ya, gw lebih inget sesi hura2 ketimbang sesi begadang bikin makalah dan tesis hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *