Bersiap untuk yang Terburuk

Takut, sedih, cemas, segala emosi negatif begitu menghantui hari-hari saya belakangan ini.

16 bulan sudah berlalu sejak covid-19 diumumkan “resmi” menjangkiti penduduk Indonesia. Bukannya membaik, pandemi justru makin ganas menghajar kita.

Akar masalahnya sudah diulas tuntas oleh banyak pakar: penyangkalan, kelambanan, dan korupsi pemerintah yang menggerus kepercayaan publik dipadukan dengan meruaknya kabar bohong dan misinformasi soal konspirasi seputar virus. Resep sempurna untuk bencana, yang ujungnya belum bisa kita lihat hingga hari ini, setidaknya di Indonesia.

Meski tinggal di tengah pusaran pandemi, saya relatif merasa covid-19 jauh dari jangkauan, setidaknya dalam 15 bulan pertama wabah. Sepertinya jika cukup taat protokol kesehatan, risiko tertular kecil lah. Saya punya privilese bisa bekerja di rumah sepanjang pandemi. Saya juga jarang sekali ke mana-mana. Vaksin Astra Zeneca suntikan pertama pun sudah saya dapat, setelah mengantre tiga jam di Gelora Bung Karno.

Tapi kemudian semakin banyak tetangga sekompleks terjangkit covid-19. Lalu pengasuh anak tetangga dinyatakan positif dan harus isolasi mandiri.

Begitu pula dengan Mpok Yanti, Pekerja Rumah Tangga yang biasanya datang tiga kali sepekan ke rumah kami. Tiga hari setelah tes PCR, Mpok Yanti wafat. Saya menangis, sedih karena selama dua tahun berinteraksi dengan Mpok, saya tak banyak tahu soal cerita hidupnya. Saya merasa bersalah tidak mencoba mengenalnya lebih baik. Saya juga menangis karena takut, bagaimana kalau saya tertular dari interaksi terakhir kami yang sama-sama tak bermasker meski berjarak cukup jauh dalam ruangan, sepekan sebelum ia wafat?

Seminggu setelah pertemuan terakhir dengan almarhumah Mpok, saya tes usap antigen di RS Universitas Indonesia. Hasilnya negatif, sehingga kecemasan sedikit berkurang. Saya tetap harus ngendon di rumah untuk seminggu lagi, sembari melihat perkembangan.

Beberapa jam lalu, datang kabar duka dari kawan lama. Rosyid Hakiim, teman liputan semasa saya ngepos di Mahkamah Konstitusi (MK), berpulang sudah. Belum ada kabar pasti soal penyebab ia wafat. Namun gelombang penyesalan dan kecemasan datang lagi. Semasa liputan di MK, kami ketemu tiap hari, mengejar isu serupa, bertukar transkrip dan informasi, juga bengong bersama saat sepi berita. Tapi sejak 2011, kami jarang sekali saling kontak. Lewat sedekade, dia tiada.

Sulit sekali rasanya untuk tidak merasa putus asa. Orang berkelakar covid-19 ini seperti arisan, tinggal tunggu giliran. Kecemasan ini, untuk saya, sudah tidak bisa diobati dengan melarikan diri ke dunia K-drama.

Saya tidak tahu kapan mendung ini akan hilang.

Untuk mengurangi rasa cemas, saya berniat segera mencari dan mencetak informasi komprehensif soal hal yang harus dilakukan jika saya dan/atau anggota keluarga terjangkit covid-19, segala nomor telepon penting, skenario jika saya atau suami wafat, hal yang perlu diurus jika terjadi hal yang tak diinginkan.

Untuk kamu yang juga sedang dilanda ketakutan dan kecemasan: kamu tidak sendiri. Saya tidak tahu apa solusi yang tepat. Saya berdoa kita semua bisa keluar dari pandemi ini dengan selamat.

Hingga saat itu tiba, barangkali yang kita bisa lakukan hanya bersiap untuk segala kemungkinan terburuk.

Ilustrasi dari pxfuel.com

Komentar via Facebook | Facebook comments

← Previous post

1 Comment

  1. I feel you Kak Bunga…. pelukin dari jauh!!
    Semoga Kak Bunga sekeluarga selalu sehat yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *