August 2008 Page 2 of 2
kamu purnamaku: bersinar lembut, tapi dengan daya magismu menarikku begitu kuat, untuk mendekat cepat, mendekap erat, memaksaku terus (membayangkan) menatapmu lekat-lekat.
Teman tercintaku baru saja mengejekku: “Kemaren ada yang bilang ‘calon suami’, sekarang bilang ‘pernikahan nggak perlu’?” Dia berlalu sambil tersenyum nakal. Hahaha. Yah, aku memang sedang menjilat ludah…
Di sini, aku berkata, sedang apatis dengan kata pernikahan. Dan Andra kontan bertanya: kenapa pernikahan tidak diperlukan? Hmm. Begini, sekarang aku tidak tahu benar, apakah pernikahan itu memang…
Beberapa minggu lalu aku baca kolomnya Dalton Tanonaka di The Weekender, suplemen akhir pekan dari Jakarta Post. Aku suka kolom itu – Tanonaka si penyiar Metro TV itu…
