48 Purnama

Empat puluh delapan purnama. Enam negara. Dua benua. Dua hati kita… satu cinta.

Empat tahun! Iya, hari ini tepat empat tahun saya dan Yoga berbagi cinta. Empat tahun bahagia berseling mengatasi cobaan di tengah rentangan jarak. Boleh bangga sedikit ya? Hehe, soalnya ini rekor yang tekadnya sih bakal dipertahankan πŸ™‚ Sebelumnya nggak pernah kuat pacaran selama ini dan sejauh ini.

Oktober tahun lalu, saya iseng ikutan nulis pengalaman ber-Long Distance Relationship (LDR) dengan para pejuang LDR lainnya. Terima kasih untuk @pacaranLDR, antologi cerita ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kilometer yang penuh nuansa pahit-manis-sedih-senang-galau-bahagia seperti halnya hubungan ajaib bertajuk LDR. Tulisan yang saya persembahkan untuk Yoga (#eaaaaaa) ini bisa kamu baca kutipannya di sini (untuk yang sudah bosan baca/dengar cerita ini, nggak usah baca lagi nggak apa-apa hahaha):

Master(s) of LDR

Long Distance Relationship, mau dilakoni berapa tahun pun, tetap saja rasanya lebih pantas dijuluki sebagai Long Distance Relationshit. Karena dalam hubungan bak sambungan telepon jarak jauh itu, porsi merana nan sengsara relatif lebih banyak ketimbang hura-hura romansa. Bahwa saya dan Yoga bisa bertahan, mungkin karena di dalamnya kami tumbuh dewasa bersama.

Drama LDR kami dimulai pada satu hari di bulan puasa tahun 2010. Yoga bilang dia mendapat beasiswa S-2 Hubungan Internasional di… Yekaterinburg, Rusia. Untuk tiga tahun lamanya. Oh tentu petir langsung heboh sambar-menyambar dalam benak saya. Tiga tahun di kota yang lebih dari 8.000 kilometer jauhnya dari Jakarta?

Saat itu kami yang sama-sama berprofesi sebagai kuli berita baru pacaran setahun lebih sekian bulan. Pikiran saya langsung melayang ke dua LDR sebelumnya yang gagal total – satu ketika masih kuliah di Yogyakarta, sedangkan si (bekas) pacar bekerja di Bandung; berikutnya kala saya mulai bekerja di Jakarta, sedangkan si mantan pacar kuliah di Yogya. Padahal kedua LDR itu di negara yang sama, pulau yang sama pula, nah ini… beda negara, beda benua, bena zona waktu, beda segala-galanya.

Jadi orang yang ditinggal dalam LDR itu sakitnya berlipat ganda. Karena kita seharusnya senang si pacar mendapat kesempatan emas di belahan dunia yang lain, tapi yang ada justru rasa sedih tak terkira. Saya menyalahkan kapten kapal Greenpeace yang ditemuinya saat liputan, kontak pertamanya dengan orang Rusia yang membuatnya mengambil kursus bahasa Rusia di Jakarta. Saya menyalahkan kantor yang mengirimnya untuk liputan itu. Saya menyalahkan dunia yang berkonspirasi melawan kebahagiaan saya. *lebay tapi nyata*

Yang bikin nyesek juga, rasanya saya kalah set. Sudah lama saya ingin sekolah lagi, tapi keburu asyik dengan pekerjaan sebagai kuli di pabrik berita.

β€œLalu kita… bagaimana?” saya bertanya, mencoba menahan bah yang seenaknya menari-nari di pelupuk mata.

β€œMau dibawa ke mana.. hubungan kiiiiitaaaa,” dia mencoba melucu dengan menyanyikan lagu Armada yang waktu itu lagi beken bukan kepalang, menghantui tiap siaran radio, perempatan, juga mal dan pasar se-nusantara.

Saya tetap manyun. Air mata merembes turun.

Selang beberapa bulan, dia lepas landas dari bandara Soekarno Hatta. Setelah dia pergi, saya berpisah jalan dengan keluarganya yang juga ikut mengantar. Saya menghabiskan tak kurang dari setengah jam menangis terguguk di parkiran, sebelum melaju kembali ke kota.

Hari-hari berikutnya terasa bagai neraka bagi ratu drama macam saya. Setiap sudut kota mengingatkan saya akan Yoga, akan ketiadaannya di Jakarta.Beberapa teman kerap menggoda pula, di Rusia banyak gadis cantik, dan suhu dingin pasti membuat para lelaki mencari kehangatan. Fakta yang tentu sudah saya ketahui, dan bikin hati makin cemas tak karuan.

…….

Lanjutannya, beserta belasan cerita lain tentang LDR, bisa kamu baca di Kilometer. Iya, ini memang ajang promosi tanpa malu-malu πŸ˜€

5 Comments

  1. Ya ampun mbak, nice story. Jadi pengen nulis crita ldr saya. Hampir 3 tahun LDR sebelum akhirnya kami (saya dan suami saya) menikah. Dan kisah LDR g berhenti disitu, LDR pun dilanjut sampai saat ini.saya tau bener gmn galaunya jauuuh dari orang yang selalu kita rindu buat ada disi kita buat berbagi. Wish to see u next time, in amsterdam again maybe with our little family

    1. Haha, iya nih harusnya kita kopdar (halah kopdar) sesama pejuang LDR πŸ™‚ Orang tua saya juga seringan pisah kota daripada bareng-bareng, jadi entah gimana kok kayaknya nurun..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *