Apa Indonesia Terima?

“Kalau dibilang baru merdeka tahun 1949? Kalau dibilang masih jadi wilayah Belanda sampai tahun itu?” tanya Jeffry Pondaag berapi-api. “Apa rakyat Indonesia dan DPR tahu bahwa pemerintah Indonesia sudah bikin perjanjian dengan pemerintah Belanda untuk tidak menuntut kejadian di masa lalu?”

Untuk ketiga kalinya, saya bertandang ke rumahnya di Heemskerk. Sekadar bertamu saja, bukan untuk mewawancara ketua yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (yayasan K.U.K.B., dengan banyak titik, untuk membedakannya dengan KUKB yang lain — lebih banyak tentang itu dalam blog satu hari nanti…) yang bersama para korban pembantaian Rawagede menggugat pemerintah Belanda dan memenangkan kasus tersebut di pengadilan Den Haag.

Dia memberondong saya dengan pertanyaan retoriknya. “Kok rakyat Indonesia diam saja? Orang Indonesia harusnya sadar bahwa Belanda masih punya utang. Ini masalah kedaulatan bangsa kita,” tuturnya.

Jeffry juga masih penasaran kapan laporan saya tentang Rawagede dan wawancara dengan Liesbeth Zegveld dimuat di Koran Tempo. “Nggak ada lho wartawan lain yang wawancara Bu Zegveld selain Anda,” katanya.

Dan saya hanya bisa nyengir sambil menjawab, “Kata bos saya, masih belum nemu halamannya, ruangnya terbatas..”

Komentar via Facebook | Facebook comments

5 Comments

  1. Saya sebagai rakyat Indonesia pada umumnya, pada dasarnya tidak perduli dengan masa lalu. Bukan ignorant, bukan apatis. But the point is, WE LIVE IN THE NOW. We plan for the future, we learn from the past, but the main thing is Bung, what we are facing on day to day basis, is the NOW. Sure, banyak noktah hitam (cie bahasa gue) sejarah yang menyakitkan buat kita. But should we care about what is now written in history ( yang pada dasarnya kita juga ragu apa iya apa enggak) yang udah lewat dan impactnya gak berasa2 amat? Musuh kolektif kita sekarang bukan “belanda” ( pake tanda petik karena belanda skrg udh bukan belanda yg dulu), atau jepang atau portugis. Bagi saya, yang harus dimasalahkan justru ketidakpedulian, keapatisan, keacuh gak acuhan, dari SESAMA bangsa sendiri terhadap nasib sesama warganya yang menghawatirkan. Korupsi, nepotisme, kolusi. ITU yg musti jadi masalah. NASI hari ini, itu masalah, GAK BISA KERJA HARI INI, itu masalah BANGET. Dan itu yg kita lawan on day to day basis. Dan perlawannya bukan perlawanan bambu runcing, kelewang, dan lee enfield hasil rampasan dari KNIL. Tapi semangat. Semangat bahwa apapun yg kejadian hari ini dan esok, kita MAMPU utk selesaikan.

    Bicara soal kedaulatan bangsa, bagi gue, itu gak akan di achieve dengan mempermasalahkan pepesan ( maaf ) basi yang sudah menjadi belatung. Tapi dengan pencapaian, prestasi, dan kemampuan kita utk cope dengan segala tetek bengek mundane yang tumpah ke kita dalam load yg kalo buat orang bule udh jadi issue “1% vs 99%”. Gue pribadi tidak peduli dgn itu. Gue, secara jujur, tidak merasa yg “99% itu lagi.

    Kita bangsa yang tangguh, ulet, dan ,kalo disimbolisasikan dengan object, membal seperti bola bekel; semakin keras bantingan, semakin mental ke atas. Ada yang enggak; cengeng, minta fasilitas ini itu, minta backing ke negara yg lebih kuat. Tapi itu minoritas, dan kalau ada yang memang musti di “occupy” sekarang, bagi saya, adalah “semangat juang dan kemampuan empathy yg lebih. Gitu sih, IMHO 🙂

    regards,

    Ni’ang

  2. Anta:
    Haha, good point! *forward komenmu ke si bos*

    Kang Ni’ang:
    Saya sih percaya membenahi hal yang terkait dengan masa lalu itu selalu penting untuk membuat masa depan lebih baik. Bukan cuma supaya kita tidak terjebak dalam kesalahan yang sama. Tapi karena pemahaman kita tentang masa lalu bisa membuat masa kini dan masa depan, yang dibangun atas pengetahuan tentang masa lalu itu, malah melenceng. Maka “urusan yang belum selesai” macam pengakuan kemerdekaan oleh Belanda, pembunuhan di Rawagede, pembantaian ribuan orang oleh Westerling di Sulawesi, pembantaian orang-orang yang dituduh komunis setelah jatuhnya Soekarno, dan sebagainya, seharusnya dituntaskan agar tak terus menghantui masa kini dan masa depan kita 🙂

  3. Itulah Bung, bukan berarti gw ngecilin apa yg lo perjuangin / pelajarin sekarang. I know its important. Its just some time I dunno what to believe in anymore. I’ve seen what the people that we should’ve respected have done. 4 bulan di timor sama CAVR dulu, pengalaman kebon waru, dan apa yg gw liat waktu 98 dulu itu cukup traumatis bwt gw. Everything that I was taught was a lie.in short, ada satu spanduk di ITB pas jaman reformasi that kinda sums it all up; “1945 – 1998 = 0” Itu kenapa gw fokus ama sekarang dan masa depan. Bukan bwt gw doang, buat yoko. Mungkin kedengarannya melodramatic dan kesinetron-sinetronan ya? Hahahah.. but perhaps woody allen was right. “life imitates bad television” dia bilang. And I kinda find truth in that. But I dunno, perhaps we all have our own path. Lo dan apa yang lo pelajarin sekarang, sama apa yang gw perjuangin sekarang, suatu hari bakal ketemu di satu titik dan bakal saling mengisi. I truly wish that would happen.

    Anyways, good luck with your studies ya! Mo ujian ya katanya? sukses ya Bung 😀

    regards,

    Ni’ang

  4. Dear Ni’ang. Pendapat anda sangat menarik sekali. Tapi kalimat anda sangat bertentangan:

    Pertama:”Saya sebagai rakyat Indonesia pada umumnya, pada dasarnya tidak perduli dengan masa lalu”

    kedua:”Bagi saya, yang harus dimasalahkan justru ketidakpedulian, keapatisan, keacuh gak acuhan, dari SESAMA bangsa sendiri terhadap nasib sesama warganya yang menghawatirkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *