Apalah arti perjalanan bagi warga negara Indonesia, tanpa peliknya proses perjuangan mendapatkan visa?

Paspor Indonesia memang kabarnya kini makin menguat, tapi sayangnya belum sekuat itu hingga membuat WNI pemegang paspor hijau bisa melenggang kangkung ke Rusia. Semasa Piala Dunia, ketentuan visa sempat diperlonggar karena pemegang tiket pertandingan Piala Dunia bisa memakai Fan ID-nya sebagai pengganti visa. Tapi saya tak punya tiket pertandingan maupun Fan ID, jadi tetap harus menempuh balada visa.

Sebetulnya persyaratan visa turis Rusia tak terlalu sulit dibanding visa ke Amerika Serikat atau negara-negara Uni Eropa. Tidak ada ketentuan punya uang banyak di rekening (untuk memastikan nggak bakal kerja secara ilegal di sana), atau surat keterangan kerja dari perusahaan. Yang agak unik adalah persyaratan confirmation letter atau visa support dari hotel atau agen perjalanan di Rusia. Ini bisa didapatkan dengan mudah secara online.

Ini langkah-langkah yang saya tempuh untuk mendapatkan visa turis individual single entry ke Rusia, bisa kamu ikuti jika juga ingin mampir ke sana.

  1. Cek persyaratan visa di situs web Kedubes Rusia

Di situs ini, syarat yang harus dibawa saat mengajukan permohonan visa sudah ditulis lengkap: formulir permohonan visa, paspor asli (masa berlaku sekurangnya enam bulan) dan fotokopinya, 2 lembar pas foto 3×4 dengan latar belakang putih, confirmation letter/visa support, serta tiket transportasi masuk dan keluar Rusia. Ini saya cek bulan Juni dan Agustus 2018 masih sama, tapi selalu cek dulu kalau kamu mau cari visa juga ya. Biaya pengajuan visa juga dicantumkan di laman tersebut.

  1. Beli tiket pesawat

Sebetulnya kalau mau naik kereta dan bis dari negara tetangga Rusia juga bisa, tapi kayaknya bakal keburu tua di jalan. Saya juga nggak ada uang rencana untuk mampir Finlandia, Ukraina, Kazakhstan, atau Mongolia sebelum ke Rusia. Jadi ya saya beli tiket pesawat saja. Harus bolak-balik ya. Bookingan tiket nggak diterima, harus tiket beneran. Saya pakai Aeroflot, mitranya Garuda Indonesia (supaya bisa klaim mileage Garuda), untuk pergi maupun pulang. Yang satu (CGK-KZN) beli dari website Aeroflot langsung karena nggak ada di situs lokal macam Traveloka, jadi harus pinjam kartu kredit dari sahabat tercinta, Vita (maklum saya masih nurutin perintah Ibu untuk sebisa mungkin nggak pakai kartu kredit). Tiket pulangnya (LED-CGK) pakai Aeroflot tapi belinya via Traveloka, jadi bisa pakai transfer bank. Detail dari tiket ini akan dimasukkan dalam formulir visa maupun confirmation letter.

  1. Pesan akomodasi

Ini penting karena juga harus dicantumkan dalam formulir visa dan confirmation letter. Saya mau ikut menginap di Airbnb yang akan dipesan suami, tapi kayaknya ribet kalau pemesanan Airbnb itu yang dimasukkan dalam formulir, karena nama pemesan dan nama saya kan beda. Akhirnya saya memutuskan pesan dan bayar sembarang hostel yang paling murah via booking.com. Pakai kartu kredit Vita lagi 😀 Yang penting, dapat nama dan alamat hostelnya.

Saya sempat deg-degan saat baca beberapa blog yang bilang saat mengajukan permohonan visa, harus ada invoice/slip pembayaran semacam struk dari EDC (seperti kalau kita bayar pakai kartu debit/kredit di took di Indonesia) yang dipindai (scan) oleh hotel/hostelnya. Untunglah suami saya punya teman di Kedubes Rusia yang bisa dimintai informasi – ini salah satu keuntungan bersuami orang yang pernah sekolah di Rusia. Menurut sang teman, yang penting dalam visa support ada keterangan bahwa tiket dan akomodasi telah dibayar lunas. Jadi slip pembayaran itu tidak diperlukan.

  1. Dapatkan confirmation letter/visa support

Beberapa hotel dan hostel sebetulnya bisa memberikan surat sakti ini. Tapi, yang gratisan ada di hotel mahal, sedangkan hostel biasanya menarik biaya jika pelancong perlu surat tersebut. Kalau ke dua kota yang berbeda dan minta visa support dari hotel/hostel, maka perlu surat dari kedua hotel/hostel yang ditinggali. Intinya sih mendingan beli visa support via internet – ini legal kok, dan nggak ribet. Ada beberapa situs yang menyediakan, namun saya pilih Bronevik karena paling murah (US$ 24) dan terbukti diterima oleh Kedubes Rusia. Di situs itu, saya memasukkan semua detail penting – nama, paspor, tanggal kedatangan dan kepergian, kota yang akan dikunjungi dan alamat hostelnya. Lagi-lagi, Vita berjasa meminjamkan kartu kreditnya. Menurut situs Bronevik, surat dikirim via email maksimal 24 jam setelah pembayaran. Tapi begitu bayar, nggak sampai setengah jam juga suratnya sudah nongol di email saya.

  1. Isi formulir aplikasi secara online

Formulir harus diisi online lewat website visa.kdmid.ru. Isi dengan seksama ya, jangan sampai terlewat. Nanti detail paspor, tiket, hostel, dan nomor referensi visa support akan harus dimasukkan ke dalam formulir. Lalu, formulir akan bisa disimpan di komputermu dan dicetak.

  1. Datang ke bagian Konsuler Kedubes Rusia di Jakarta

Bagian Konsuler Kedubes Rusia buka jam 9.00-13.00 WIB hari Senin-Jumat. Tapi, Kedubes libur jika ada tanggal merah Rusia, dan kadang malah buka ketika Indonesia libur. Sebaiknya telepon dulu ke 021-5225195 untuk memastikan, daripada sudah jauh-jauh datang dan kecele. Motor bisa parkir di halaman Kedubes, tapi mobil nggak bisa. Supaya nggak ribet sih mendingan pakai transportasi umum saja. Disarankan datang sebelum jam 9, karena dalam sehari maksimal hanya 20 orang yang bisa mengajukan visa. Di dekat gerbang, akan ada potongan kertas bertuliskan nomor antrian.

Jam 9, pagar baru dibuka, pengaju visa boleh masuk ke dalam ruangan Konsuler setelah menukarkan kertas nomor antrian itu dengan nomor antrian yang sebenarnya – bentuknya seperti nomor di tempat penitipan tas 😀

Bawa semua dokumen yang disyaratkan: print out formulir visa, tiket pesawat, confirmation letter, paspor dan foto kopinya, pas foto, plus uang tunai dalam dolar Amerika Serikat untuk membayar visa. Besar biayanya US$ 70 untuk visa regular (selesai dalam waktu 4-20 hari) atau US$ 140 untuk visa ekspres (1-3 hari kelar). Kalau tidak bawa dolar, kamu bisa membayar dengan rupiah, tapi nilai tukarnya bikin rugi. Saya menyiapkan juga itinerary perjalanan selama 10 hari. Semua ini saya masukkan dalam map supaya rapi. Di map terpisah, saya siapkan print out bukti booking akomodasi dan asuransi perjalanan.

Saat masuk ke dalam ruang Konsuler, pengunjung harus memasukkan tas dan ponselnya ke dalam loker. Yang boleh dibawa cuma berkas-berkas, buku bacaan (lumayan biar nggak bosan menunggu), alat tulis, dan dompet.

Di luar dugaan, saya tidak menunggu terlalu lama. Saat nomor dipanggil petugas, saya menyerahkan berkas-berkas yang disiapkan dalam map pertama. Petugas mengecek semuanya, memastikan semua syarat sudah ada. Dokumen dalam map kedua tidak ditanyakan sama sekali. Ia lalu menanyakan visa regular ataukah ekspres yang saya perlukan. Berhubung tak terburu-buru, saya pilih yang regular saja. Saya bayar, mbak petugas memberikan kwitansinya. Dalam kwitansi, tercantum tanggal pengambilan visa dan paspor. Pulang deh 😊

Sepengamatan saya, kalau berkas sudah lolos pemeriksaan petugas, hampir bisa dipastikan permohonan visa akan dikabulkan. Uangmu juga nggak hangus karena belum bayar. Soalnya kalau ada orang yang tidak bawa tiket atau visa support, petugas itu akan menyuruh orang untuk melengkapi persyaratan, baru kembali untuk mengajukan berkas dan membayar. Jadi kecuali kamu high profile banget dan dianggap akan mengancam keamanan Rusia, rasanya tak ada alasan bagi mereka untuk menolak permohonan visamu.

  1. Ambil visa dan paspormu

Hari yang dinanti tiba, ambillah visa dan paspormu! Jika kamu tak bisa mengambil pada tanggal yang ditentukan, bisa kok di hari-hari berikutnya. Tapi, pastikan Konsuler buka pada hari kamu datang, ya. Kalau kamu tidak bisa mengambil sendiri visa dan paspor itu, nggak usah khawatir. Pengambilan bisa diwakilkan tanpa ribet dengan surat kuasa dsb. Yang penting, kwitansi asli dibawa oleh si pengambil. Setidaknya inilah yang terjadi pada saya, karena saat visa beres, saya sedang di luar Jakarta. Vita-lah bidadari penyelamat saya hahaha… asli, kalau nggak ada dia, mungkin saya nggak jadi ke Rusia.

Visa sudah di tangan, maka hati ayem. Barulah saya bisa bertualang ke Moskow – mampir ke St. Basil di Lapangan Merah seperti foto di paling atas, juga Kazan dan St. Petersburg.

Bagaimana kalau kamu tidak tinggal di Jakarta dan sekitarnya? Setahu saya, di Bali ada Konsul Kehormatan dan kamu bisa mengajukan permohonan visa di sana. Selain itu, selama dokumen sudah lengkap, permohonan juga bisa diajukan oleh orang lain (misal, semua dokumen dikirim ke Jakarta/Bali dan dimasukkan ke Konsuler oleh saudara/temanmu). Saya kurang tahu apakah bisa juga via pos, sebaiknya kontak Konsuler langsung saja ya. Semoga berhasil!