Saya ini ternyata masih lemah. Terus saja meleleh setiap teringat dia, masa lalu kami, dan akhir yang menggores luka. Padahal untuk dia, mungkin saya bukan lagi siapa-siapa. Mungkin dia sudah lupa saya ada.
Saya meninggalkan pesan di akun surat elektronik kami. Berharap satu saat dia ingat dan membacanya. Tapi saya rasa itu sekadar angan-angan yang sia-sia. Jadi saya tempel saja di sini, hahaha…
“mungkin kamu tidak pernah membuka lagi akun ini
tapi mungkin saja kamu membukanya kembali
(jika saat itu tiba, tolong beritahu aku. janji?
sekadar ingin tahu saja kapan kau teringat aku lagi)
hanya ingin sedikit berbagi
masih sering kamu melintas di benakku. wara-wiri
untungnya kali ini,
bukan lagi tangis yang mengalir di pipi
cuma senyum. dan seberkas rindu
terasa sepintas lalu
dan jejakmu ada di mana-mana di kota ini
——
halte transjakarta, saat kau mendadak menciumku
lantas melewati ragusa, teringat sore dengan semangkuk es krim
stasiun sudirman, dukuh atas, yang mungkin masih terus kau sambangi
——, halte pertama tiap kita melarikan diri
aku dan kamu
kita, ketika itu
kemudian ancol (yang masih saja bikin aku ingin tertawa)
——-
perjalanan pergi-pulang ke bandung
sebelum hari-hari mendung yang merundung
ah.
bisakah kita bertemu, sekali lagi?
sekadar
bertukar
kabar
aku berjanji….”