Aku memanggilnya Mak Aji. Nama lengkapnya Nurbaiti binti P. Datuk Putih. Nenek dari pihak ayahku itu nggak kukenal akrab karena kami tinggal di kota berbeda dan jarang bertemu. Aku hanya tahu dia hebat karena bisa melahirkan 11 anak dan membesarkan 10 di antaranya plus 1 ponakan hingga dewasa (aku mah apa atuh, satu anak aja udah uwuwu dramanya).

Akhir tahun lalu, aku jadi kenal lebih baik soal almarhumah karena dapat tugas menyunting buku tentangnya. Ini proyek keluarga, separuh buku ditulis si ayah dan separuhnya lagi adalah kenangan sanak saudara.

Dari semua cerita itu, yang paling berkesan untukku adalah perjalanan Mak Aji lewat jalan darat selama sekitar 10 hari dari Padang ke Batavia, juga jiwa niaganya semasa jadi orang tua tunggal: berdagang songket, memodali becak, sampai menyewakan kamar kos. Tekad dan usaha kuat tampaknya karakter Mak Aji — meski ini mungkin juga terbentuk oleh desakan keadaan.

Tumbuh dewasa menjelang kemerdekaan Indonesia, Mak Aji mengawali karirnya sebagai guru, kemudian menjadi pendidik anak-anak dan lingkungan sekitarnya sepanjang hayat. Dia cermat mengamati bakat dan karakter tiap anaknya, sehingga semuanya merasa jadi kesayangan.

Di antara mendidik anak, mengajar Waitankung dan ilmu pengurusan jenazah, mengorganisir beragam inisiatif keagamaan, serta menjadi pedagang, Mak Aji juga lihai main bridge, gemar menonton film silat, dan suka menulis puisi.

Mak Aji bukan tokoh nasional yang lazim dicatat dalam buku sejarah. Tapi aku percaya cerita orang “biasa” juga perlu didokumentasikan agar kenangan tak lenyap saat para tetua wafat. Sekarang pembacanya barangkali hanya lingkaran kecil keluarga dan saudara. Tapi siapa tahu pada abad-abad mendatang, buku ini bisa berguna buat peneliti yang ingin tahu soal kehidupan keluarga era 1930-2000.

Buku ini diluncurkan pada 11 Februari 2021, pada hari ulang tahun Mak Aji ke-103. Silakan mampir ke blog si ayah, suara-dari-pinggiran.com, untuk mengunduh versi elektroniknya dengan cuma-cuma.

Sebagai catatan, aku melakukan penyuntingan naskah ini bersama Yoga. Para sepupu juga urun tenaga: desain sampul digarap Alam, sedangkan foto-foto dipindai Ira.

Komentar via Facebook | Facebook comments