Selasa malam
👦: Ibu besok mau bawa agar-agar? Boleh kok. R punya banyak.
👩‍: Mau dong! Makasih ya.

Rabu subuh
👩‍: (cium bocah sebelum berangkat, eh anaknya trus bangun)
👦: (nyawa belum ngumpul, sambil ngucek kelopak mata) Ibu jadi mau bawa agar-agar? Jangan lupa ya.
👩‍: (terharu) Oke, Ibu ambil dari kulkas ya.

Sabtu pagi
Saat bersiap buka lapak, eh, laptop di pinggir hutan, saya menemukan agar-agar itu di ransel. Jadi kangen sama anak 🙂 Meski kalau ketemu juga saya bukan tipe ibu yang menemukan kesenangan dan kepuasan saat mengurus anak, tetap saja ada juga terselip rasa bersalah meninggalkan bocah demi urusan pekerjaan. Tapi, kalau nggak kerja, saya nggak waras 😅

Apaaaa~~~? Tidak senang dan puas saat mengurus anak? Ibu macam apa kamu?

Ibu yang normal. Iya, tidak semua perempuan saat jadi ibu bisa senang dan puas dalam mengurus anak. Saya sayang si bocah, dan rela mati untuk dia, tapi saya nggak betah berlama-lama mengurusnya. Tentu, bekerja sama dengan suami, saya tetap mengurus anak tercinta, meski ini kini saya anggap sebagai pekerjaan.

Silakan salahkan latar belakang saya sebagai kelas menengah liberal, atau feminisme kalau mau, tapi sesungguhnya ini bukan perasaan yang jarang dialami ibu-ibu lain.

Hanya saja, perempuan yang jujur tentang hal ini kerap dipermalukan, kalau tak harus menanggung tudingan egois. Ini hal yang tabu dalam masyarakat yang cenderung membebankan pengasuhan anak pada perempuan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara yang sering dituduh sekuler-liberal-plural-agen remason-wahyudi-dsb.

Bagaimanapun, saya percaya mengakui perasaan sendiri adalah langkah awal untuk mengatasi tantangan ini. Daripada terus menyangkal dan memendamnya lalu jadi bisul, yekan?

Saya setuju dengan nasehat psikiater Meri Levy ini:
Acknowledging our ambivalence—the fact not every moment, nor even every stage, of motherhood is fun—allows mothers to accept themselves for who they are and what they feel, and be freer to find ways to make motherhood more authentically enjoyable. Being honest within ourselves and accepting all our feelings gives us permission to do motherhood differently—and perhaps allow more acceptance in our children of their own inevitable negative feelings as well.

Don’t look to social media for validation of your motherhood experience.

Silakan baca beberapa artikel terkait ini:
When You Love Your Kids but Don’t Love Motherhood
How to Enjoy the Often Exhausting, Depressing Role of Parenthood
Parenthood seems to make us unhappy. So why do we keep doing it?

Catatan: posting ini ditulis pada suatu siang dalam bulan lalu, ketika saya sedang bekerja untuk ASRI di Sukadana, Kalimantan Barat.