Selama ini, aku (dan mungkin kita semua) merasa dididik untuk takut, bukannya cinta, pada Tuhan. Kenapa harus shalat? Karena yang nggak shalat bakal masuk neraka. Kenapa harus melakukan amal baik? Karena yang berdosa akan diadzab Allah.

Lalu, hubungan dengan Tuhan seolah hubungan transaksi. Kapling di surga harus dibayar dengan shalat, puasa, dan zakat (syukur-syukur cukup kaya untuk berhaji). Mengkorting amal ibadah berarti denda, yang dibayar dengan “cuci dosa” di neraka.

Dogma agama berjejal di benakku dan akhir-akhir ini aku sering ingin menolak semuanya. Ah, untuk apa beribadah demi Tuhan yang demikian garang dan perhitungan pada umat-Nya?

Kemarin pagi, sembari sahur sendiri, aku mendengar Ebiet G. Ade menyanyikan lagu cintanya untuk Allah di televisi. “Ijinkan aku bersujud pada-Mu karena cinta…” Aku terkesiap. Ya Tuhan, betapa indahnya kalau aku beribadah karena cinta, bukannya takut, pada-Mu!

Detik itu juga aku memutuskan ingin belajar mencintai Allah. Sungguh, aku ingin sekali bisa jatuh cinta. Mungkin tidak bisa sedalam Rumi atau Rabi’ah. Tapi aku ingin setidaknya bisa mencintai-Nya dengan tulus, tanpa mengharap imbalan surga.

Nah, bagaimana caranya untuk menumbuhkan rasa cinta itu?

Sejauh ini aku baru menemukan satu cara: dengan bersyukur. Aku mencoba menengok hidupku yang belum lagi tiga dekade, namun ternyata penuh dengan anugerah-Nya. Keluarga yang hangat, sahabat-sahabat yang menyayangiku, tahun-tahun menyenangkan di sekolah, ujian-ujian yang memperkuatku, dia-di-sana yang mencintaiku… daftarnya tidak akan cukup kuketikkan di sini.

Setiap aku mensyukuri satu anugerah, rasanya semakin aku cinta Allah. Maaf ya, Tuhan sayang, baru sekarang aku belajar mencintai-Mu.

Komentar via Facebook | Facebook comments