Disapa Pak Wali Kota (dan Pengikutnya)

Akhir pekan yang seru menjadi lebih seru lagi akibat Bapak Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Disclaimer: Saya tidak bermaksud memaksakan pendapat pada orang lain, maupun merecoki kehidupan rumah tangga orang lain. Saya hanya rakyat jelata dan ingin mengemukakan bahwa ada alternatif dari hal yang mainstream. Jika ternyata disalahpahami dan disalahartikan, itu risiko memberanikan diri untuk berbeda. Silakan berbeda pendapat dan berargumen jika tak setuju.

Jadi begini. Versi pendek kejadian akhir pekan ini adalah: Ridwan Kamil mengunggah sesuatu di Instagramnya. Saya berkomentar di posting yang kini dikomentari lebih dari 4.400 kali. Dia balas berkomentar. Dia screenshot komentar saya dan komentarnya, lalu mengunggahnya di Instagramnya. Postingan itu sekarang sudah mendapat lebih dari 4.700 komentar. Saya posting di Instagram saya. Posting ini telah dikomentari 300 kali, rekor seumur hidup saya yang bikin bingung harus mringis atau nyengir.

Nah, berikut cerita lebih panjangnya, dilengkapi dengan beberapa gambar yang bagi saya menarik. 🙂

Mari kita mulai dengan posting Ridwan Kamil yang sukses membetot perhatian saya.

Apa salahnya postingan dia? Untuk banyak orang, mungkin tak ada masalah. Saya tak sepakat dan memutuskan berkomentar dengan fokus pada kata “mengizinkan” yang ia pakai. Sebetulnya saya keberatan juga dengan kata “menuntut”. Untuk banyak orang, kedua kata itu biasa saja. Tapi saya percaya bahwa kata-kata punya kekuatan besar, dan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan (pengaruh Foucault, barangkali). Dan saya ingin menyampaikan pandangan alternatif. Maka pada Sabtu dini hari, saya mengetikkan beberapa kalimat di kolom komentar. Sekadar ingin bilang bahwa ada alternatif dari hubungan atasan-bawahan dalam keluarga.

Sabtu pagi, ternyata Ridwan Kamil membalas komentar saya. Mungkin karena akhir pekan jadi ia punya banyak waktu ya. Atau bisa jadi ia betul-betul tak sependapat dengan saya. Sampai di sini, sudah lumayan banyak followers Ridwan Kamil yang ikut berkomentar.

Dalam perjalanan di KRL Commuter Line, saya pun mencari informasi lebih banyak tentang kesetaraan gender dalam Islam. Saya memang bukan ahli agama, tidak pernah pula belajar di pesantren. Asupan informasi tentang agama Islam selain paling banyak saya dapatkan dari orang tua, sepertinya saya dapat selama tiga tahun bersekolah di SLTP Muhammadiyah, saat tiap harinya ada beragam mata pelajaran terkait agama Islam (akidah, fikih, akhlak, tarikh, bacaan Al-Quran, plus Kemuhammadiyahan) harus saya cerna.

Saya menemukan tulisan Nina Nurmila, seorang pengajar UIN Bandung di situs Kalyanamitra. Tulisan seorang akademisi universitas Islam di situs web lembaga swadaya masyarakat yang punya visi mendorong kebijakan publik yang sensitif gender, saya anggap cukup kredibel dan relevan dengan pendapat saya. Saya kutip sedikit dalam komentar berikutnya.

Tadinya saya pikir dinamika netizens zaman now ini akan berhenti di sana. Oh, tentu saya salah. Ridwan Kamil mengkolase komentar saya dan dua orang lain, serta balasan komentar yang diajukannya, lantas mengunggahnya ke akun dia. Komentar saya sedikit terpotong di kolase itu. Barangkali dia atau admin medsosnya terburu-buru, atau sekadar kurang teliti. Saya takjub karena dari lebih dari 4.400 komentar di posting dia, tiga komentar kami terpilih dan dilabeli caption “Diskusi dengan para aktivis feminisme.” (Penggunaan kata-katanya lumayan lewah atawa verbose. Sebetulnya dia bisa menyebut kami sebagai feminis, bukan aktivis feminisme.)

Saya tergelitik untuk kembali berkomentar. Sedikit terlalu bersemangat sampai ada salah ketik.

Rupanya, Bapak Pejabat yang Terhormat keberatan.

Saya menduga akan banyak followers Ridwan Kamil bertandang ke Instagram saya dan meninggalkan jejak, maka saya screenshot beberapa bagian tulisan Nina Nurmila tersebut dan mengunggahnya, dengan mencantumkan sumber jika ada yang tertarik membaca lebih lanjut.

Kenapa tulisan itu saya pilih? Alasannya sederhana, karena sebagai manusia, kita harus selektif. Bayangkan Anda mempelajari banyak agama dan keyakinan lalu berusaha mempraktikkan semuanya, ambyar kan. Anda harus memilih salah satu saja. Alasan kedua, saya tidak punya waktu untuk mencari lebih banyak sumber. Posting di medsos hanya saya lakukan saat senggang. Posting di medsos kan bukan skripsi atau tesis yang harus banyak mengutip tulisan ilmiah, pun bukan karya jurnalistik yang harus sebisa mungkin berimbang, atau blog yang bisa panjang ngglambreh kayak tulisan ini meski penulisnya nggak yakin ada yang bakal baca.

Kelar posting, saya seru-seruan bernostalgia dengan teman SMA di The 90s Festival, lalu menghadiri acara pernikahan teman. Sesaat sebelum mampir ke negeri mimpi, saya cek Instagram dan dugaan saya benar, banyak sekali komentar masuk. Ada beberapa yang memilih mengirim DM (Direct Message). Sisa energi saya salurkan hanya untuk menjawab DM. Ya saya kan hanya rakyat jelata yang nggak punya tim admin medsos hahaha.

Yang menarik, mayoritas komentator memilih untuk tidak mengajukan argumen untuk membantah pendapat saya maupun argumen Nina Nurmila. Tadinya saya berprasangka baik, siapa tahu ada banyak yang berbaik hati mengutip tafsir A dari ayat B di Al-Quran, misalnya, yang berlawanan dengan pendapat saya. Kebanyakan komentar berkisar pada: cari kebenaran itu di Al-Quran, bukan artikel (mungkin mereka lupa kebanyakan ayat Al-Quran dan hadits perlu tafsir dan kajian agar bisa dipraktikkan; lagipula siapa sih yang cari kebenaran di artikel?), situ Islam bukan?, Islam kok nggak pakai jilbab?, kebanyakan micin, feminazis go fuck yourself, lulus SMP nggak sih?, oh nikah beda agama sih ya pantes aja, numpang tenar aja kali, bodoh, belum kawin ya?, pindah agama aja!

Meski buat saya sih yang paling epik adalah ini:

OMG AKHIRNYA ADA ORANG NUMPANG JUALAN DI IG GW! PRESTASI~~~~ (Ini bercanda lho ya. Beneran.)

Begini ya. Sanak saudara saya juga ada yang tidak sependapat dengan saya, tapi nggak ada yang membalas dengan cara nggak produktif macam orang-orang yang selo banget akhir pekannya sampai punya waktu berkomentar penuh penghakiman demikian. Saya mungkin hanya pendosa di mata orang lain, tapi kebenaran punya banyak versi yang bisa saja disampaikan oleh manusia paling hina dina di muka bumi.

Kalaupun saya salah, cara mengingatkannya apakah harus seperti itu? Apa kabar akal sehat, mengapa emosi yang melulu muncul? Apa kabar para netizen calon pemimpin bangsa, kenapa amarah yang kerap timbul?

Memang medsos mempermudah orang menyatakan pendapat. Saya, juga mungkin kalian, sudah merasakan manfaatnya. Namun, medsos juga mempermudah netizen menyerang orang lain. Kan nggak bakal ketemu, kan nggak harus ngomong langsung sambil lihat wajah si lawan bicara, kan dia nggak tahu siapa saya, kan nggak usah merasa bersalah kalau ternyata hati orang lain tersakiti.

Saya berusaha melihat dari sudut pandang mereka. Jika sedari kecil dibesarkan dengan cara berbeda dengan cara orang tua saya, jika selalu bergaul hanya dengan orang berpemahaman tertentu, jika hanya membaca hal-hal yang berbeda dengan saya; ya wajar jika punya pandangan berbeda dengan saya. Saya tidak berharap mereka mengubah pendirian. Siapa saya sih, pejabat bukan, selebritas apalagi, buzzer atau influencer atau KOL jelas nggak juga. Saya hanya berupaya membuka ruang diskusi, bahwa ada penafsiran berbeda, ada kesepakatan dalam pernikahan yang bisa berbeda, ada pemikiran yang berbeda di dunia ini.

Silakan untuk tidak setuju. Silakan menyampaikan pendapat. Enak kan hidup di negeri demokratis 🙂

Oya, saya juga berupaya menanyakan langsung kepada Ridwan Kamil, apa yang menyebabkan dia mengunggah komentar saya. Alhamdulillah sampai sekarang belum dijawab, artinya ia mungkin sedang sibuk bekerja jadi tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan dari remah rengginang Lebaran tahun lalu macam saya ini.

\

Belakangan, beberapa kawan melontarkan argumen positif di Instagram saya. Rasanya saya terharu sekali karena ada yang mau meluangkan waktu berdiskusi dengan orang-orang yang posisinya berbeda. Terima kasih banyak ya.

Komentar via Facebook | Facebook comments

6 Comments

  1. Halo Bunga, terima kasih karena sudah sharing soal ini. Kemarin sempat ngelihat postingan Pak RK yang awalnya itu, dan saya juga sempat terganggu dengan kata ‘mengizinkan’ yang diselipkan di kalimat-kalimat “progresif” beliau, yang pada akhirnya seperti buyar buat saya karena yah aduh bagi saya minta izin dan diizinkan dalam hubungan sepasang suami istri itu sesuatu yang patut ditinggalkan. I pretty much agree with a lot of the things you’ve mentioned on your post, dan cuman ingin memberikan komentar positif aja di atas hujatan netizen yang urm, ternyata lumayan membuat kepala pening semakin dibaca. Thank you for speaking up. Take care 🙂

    1. Hai Shea, memang lumayan bikin pening tapi yang penting nggak usah dimasukin hati 🙂 Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak ya.

  2. Ah hypocrit, kalo misalnya ridwan setuju dgn argumen dan menarik argumen dia sebelumnya lo pasti lo senang kan?
    Dan ya biasa aja sih klo si ridwan nge ss komen mu, bahkan fp indonesia feminis aja pernah ss & share status yg berlawanan dgn mereka :v
    Apa gk disebut baper juga tuh?

    1. Halo, rasanya wajar kalau orang senang jika ada orang lain yang sependapat. Masalahnya di mana ya? Maaf saya nggak ngerti argumen Anda. Mungkin Anda bisa jelaskan maksud Anda dalam komentar sebelumnya?

      Bedanya Ridwan Kamil SS komentar saya dengan FP Indonesia Feminis SS status orang lain adalah: Ridwan Kamil itu pejabat publik yang punya kekuasaan untuk mempengaruhi hajat hidup banyak orang, tentu kekuatannya jauh lebih besar daripada FP Indonesia Feminis yang diikuti hanya segelintir orang. Saya coba cek IG Ridwan Kamil, sepertinya tidak ada atau setidaknya jarang sekali ia mengunggah SS pendapat orang yang tidak sependapat dengannya. Sebagai bentuk komunikasi politik, langkahnya kemarin sebetulnya bisa dibilang cukup ceroboh. Saya sih nggak masalah dibilang baper. Lah memang saya orangnya baperan 🙂 Tapi dia rupanya nggak terima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *