Suami, Sang Bapak Andalan

Orang sering bilang, semua perempuan punya insting keibuan tinggi dan menikmati saat harus mengurus tumbuh kembang anak. Naluri ini bisa muncul sebelum maupun setelah punya anak. Makanya anak biasanya lebih dekat dengan ibu ketimbang ayahnya. Kalau ada ibu yang nggak bisa mengurus anaknya, pasti deh dia punya masalah. Kalau ada anak yang nggak keurus, wah ini pasti salah ibunya!

Anggapan ini berbau patriarkis, jelas. Tapi kalaupun Anda tak percaya konsep patriarki ataupun feminisme, premis bahwa “semua perempuan punya insting keibuan tinggi” sudah jelas salah.

Exhibit A: saya.

Dari dulu saya memang nggak suka sama anak kecil. Ribut, ribet. Semacam mengganggu kehidupan (relatif) tenang yang saya nikmati sebagai anak tunggal.

Saat punya anak, saya sebisa mungkin memenuhi hal-hal yang hanya bisa saya lakukan, seperti memberinya ASI eksklusif dan terus menyusuinya hingga berusia 2 tahun, sampai harus membawanya ikut serta ketika bepergian untuk urusan kantor. Saya sayang anak saya. Tapi saya nggak punya kekuatan mental dan fisik untuk mengurusnya 24 jam dalam sehari.

Saya tidak menikmati kegiatan mengasuh anak. Tenaga si bocah nggak habis-habis pula, seperti gasing dalam adegan mimpi film Inception yang nggak ada berhentinya. Tiga bulan cuti melahirkan rasanya sudah lebih cukup, dan saya gembira ria saat kembali ngantor karena bisa me-time lagi!

Praktis sekarang saya bersama anak hanya 1-2 jam pagi dan malam saat hari kerja, plus 2 hari ketika akhir pekan. Selebihnya, anak banyak menghabiskan waktu dengan bapak yang jam kerjanya lebih fleksibel dan Mbah Uti, serta kadang Ibu saya saat jadi “dosen tamu” di Jakarta Depok.

Untungnya, suami tercinta bisa bertindak komplementer dalam keluarga. Dibandingkan saya, dialah yang lebih sabar dan perhatian, lebih sering mengasuh anak, lebih banyak menghabiskan waktu bersama si bocah.

Kadang saya merasa bersalah karena tidak bisa jadi ibu-ibu mainstream, yang menikmati sekali saat-saat mengasuh anak. Lalu, takut dengan pandangan dan cercaan orang jika saya terus terang seperti ini. Tapi beginilah saya apa adanya.

Saya bersyukur keputusan memilih suami ternyata tak keliru. Dulu saya kagum dengan rasa sayangnya yang besar untuk keponakannya, juga jagonya ia di tengah anak-anak kecil. Barangkali di bawah sadar, ada kriteria pasangan hidup harus menunjukkan kemampuan tinggi soal pengurusan anak, karena saya tahu saya tidak akan bisa seperti itu ^^; Sekarang jadi makin cinta karena dia ternyata sangat memperhatikan kesehatan jiwa dan raga istri dan anaknya. #seriusamatBu #cintaharusseriusdong #kenapangeblogkokmainhashtag

Betul kata rekan-rekan Aliansi Laki-laki Baru, konsep lelaki maskulin sekarang bukan perkara tampilan macho atau otot kayak takoyaki. Lelaki maskulin masa kini, wajib sayang dan peduli sama keluarga, nggak ragu berbagi tugas rumah tangga.

Ternyata, riset membuktikan peran para ayah juga penting dalam pengasuhan anak, karena bisa meningkatkan kesehatan fisik, emosional, dan spiritualnya. Ini tidak mengecilkan peran ibu dan sistem pendukung lain seperti para nenek-kakek, pengasuh, kakak-adik, endebra endebre ya. Hanya mengingatkan bagi para masbro di luar sana, jadilah mitra yang baik bagi para mbaksis. Jangan ongkang-ongkang kaki dan berlagak ala raja yang minta dilayani istri.

Untuk saya, suami keren adalah yang mau terjun di urusan yang kerap dianggap urusan perempuan macam pengasuhan anak dan tugas rumah tangga. Suami macam begini dijamin disayang anak, istri, mertua, dan atasan! (Ayo ketik aamiiin! Viralkan!)

Omong-omong — setelah capek juga ini duet jempol ngetik di ponsel, pesan sponsornya baru nongol — kebetulan, ini Hari Ayah sekaligus Hari Kesehatan Nasional lho. Para #AyahPeduli dan Ibu yang bangga sama suaminya, yuk ikutan kompetisi foto #AyahPeduli di Instagram. Cek http://bit.ly/ayahpeduli untuk info lengkapnya ya, masih ada waktu sebelum kompetisi berakhir tanggal 17 November 2017.

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *