Hamil dan Belanja

Ini hal yang tidak saya duga sebelumnya: bahwa semakin tua usia kehamilan, semakin besar pula kebutuhan dan nafsu belanja. Ngalah-ngalahin kebutuhan dan nafsu makan. Mudahnya belanja daring (dalam jaringan/online) membuat laju belanja saya dalam dua bulan terakhir sulit direm. Meski mungkin nggak seheboh kalau anak kami perempuan, karena pilihan untuk bayi perempuan alamaaaaaak lebih beragam dan lucu 😀

Keinginan beli segala macam sebetulnya sudah ada sejak awal kehamilan. Berselancar di dunia maya untuk baca ulasan produk bayi dan ibu menyusui jadi rutinitas sehari-hari. Beberapa laman saya tandai untuk dibaca lagi dan jadi patokan daftar belanja. Pembelian baru dimulai saat kehamilan saya lewat dari usia enam bulan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (bukit transferan dan pengeluaran, maksudnya).

Belanjaan pertama saya untuk bocah lelaki kami adalah popok kain modern alias cloth diaper yang sering disingkat clodi. Argumen untuk membeli clodi sangat kuat: ramah lingkungan dan irit (seorang ibu menghitung, pada 2010, biaya yang bisa dihemat dari pembelian popok sekali pakai tak kurang dari Rp 12 juta selama tiga tahun pemakaian popok; dengan inflasi sekarang jumlah penghematannya tentu lebih besar). Tapi jujur saya akui faktor lain yang berpengaruh adalah… model clodi yang lucu-lucu! Okelah anak saya tidak bisa pakai terusan batik supercantik atau rok tutu unyu, tapi clodi lucu kan bisa ya? Ya ya ya ya? 😀

Stok sementara departemen perompolan.

Pilihan clodi banyak sekali, ada yang pocket, cover, all-in-one, dsb (untuk macam-macam istilah per-clodi-an silakan cek artikel ini). Awalnya saya beli clodi tipe pocket bermerek Clothcodile (motif mobil, jeans, dan binatang) dan Bumgenius warna hijau muda dari blibli.com karena ada diskon Rp 100 ribu sebagai anggota baru dan ongkos kirimnya gratis. Lalu pesan yang tipe cover, Rumparooz berwarna hijau toska, dari Lazada karena ada voucher diskon Rp 100 ribu dan pengirimannya juga gratisan. Lima clodi itu jenisnya one-size, biasanya bisa dipakai dari umur 3 bulan sampai 2 tahun.

Nah pas baru lahir bagaimana? Rencananya, seperti kawan Yasmin, di awal kelahiran nanti bocah akan dipakaikan popok kain biasa atau prefold, supaya ketahuan berapa kali buang air dalam sehari. Tapi bulan kedua atau ketiga akan mulai pakai clodi ukuran kecil — biasa disebut clodi newborn — yang tentu sudah saya beli hahaha: ada Lil G bermotif lego dari Kyla Clodi, juga Cluebebe Coveria oranye, Enphilia Mini biru, dan Nathabam bermotif batik dari Raisa Baby Store (entah apa hubungannya dengan Raisa yang penyanyi dan pengen kulitnya putih itu). Dari Tororo, saya beli snappi (pengait popok) biru muda.

Urusan insert, untuk menambah stok karena kata emak-emak blogger insert bawaan nggak akan cukup “mengejar” frekuensi buang air bayi, saya tambah dengan insert microfiber jadi-jadian. Supaya irit, mengikuti trik salah satu ibu narablog, saya beli handuk microfiber lalu dipotong dan dijahit seukuran insert. Handuk microfiber saya beli dari Pink Peony Shop, milihnya sih warna hijau pastel tapi yang datang warna hijau stabilo! Haha ya namanya mau ngirit sih ya… beda foto beda barang gapapa lah, toh warna ngejreng itu bakal dipakai di dalam clodi jadi nggak terlihat dari luar.

Masih terkait perompolan, dari Kyla Clodi saya juga beli prefold Bumwear ukuran infant, Baby Oz Fleece Liner, Grovia Bioliners, dan alas ompol Renata (ini bisa juga untuk cadangan insert clodi, katanya). Sedangkan perlak meteran Renata saya pesan dari The Bebe Shoppe.

Belanja berikutnya adalah per-ASI-an. Belum banyak di departemen ini, hanya Medela cup feeder, botol kaca RBS, dan Avent washable breastpad dari The Bebe Shoppe, dan botol Comotomo yang lagi diskon 10% di Tororo. Kebetulan pas baby shower kemarin, dapat lungsuran botol kaca ASI bertutup karet dan celemek menyusui juga dari Nila :*

Baju bayi, saya tidak beli terlalu banyak. Habisnya bayi kan tumbuhnya cepat sekali. Jadi baju bayi-baru-lahir (newborn) saya punya secukupnya saja, itu pun dibelikan Ibu yang iseng main ke ITC Mangga Dua ketika dia di Jakarta. “Sumbangan” ibunda adalah selusin baju tangan pendek, tiga kaus oblong tanpa kancing, selusin celana pendek, enam bedong, dan tiga waslap.

Yang nggak kalah penting sebetulnya kosmetik untuk bayi. Habis baca-baca jadi serem sendiri dengan kandungan berbahaya macam paraben, minyak mineral, sodium lauryl sulfate, pewarna, dan pengawet yang masih sering ada dalam produk kosmetik, bahkan kosmetik bayi. Memang ada yang bilang kekhawatiran itu berlebihan atau cuma mitos belaka, tapi tentu tidak ada salahnya berhati-hati kan?

Untuk itu, saya mencoba lebih jeli dan mencari produk alami bikinan negeri sendiri. Dari berselancar, ketemulah Green Mommy Shop (GMS), Natural Hut, dan Marun Aromaterapi. Belum banyak yang saya beli untuk bayi, antara lain bahan dasar sabun Castile (ini tinggal dicairkan dan ditambahi minyak esensial supaya wangi, lantas bisa dipakai untuk sabun, shampoo, bahkan pencuci pakaian), bedak bayi, dan minyak telon dari GMS cabang Jakarta-Depok; minyak jojoba dan minyak esensial lavender dari Natural Hut; juga baby rub, baby hair oil, dan baby massage oil dari Marun Aromatherapy.

Kalau kebutuhan (calon) ibunya, bagaimana? Hoho, tentu tidak ketinggalan. Dari Natural Hut, saya memesan minyak almond, minyak esensial jeruk, dan minyak esensial mint. Dua minyak esensial itu saya teteskan sedikit ke dalam minyak almond; campurannya saya pakai sebagai pelembab kulit, lumayan mengurangi gatal dan mencegah stretchmark. Menurut Yoga sih kadar minyak esensial mint yang saya campurkan terlalu banyak, karena hasilnya tercium seperti minyak angin, hahaha. Lalu dari Kitchen Table Science Club, buah tangan penuh cinta dari kawan kuliah di Jogja, Asa; saya beli skinbutter Mom’s Biggest Secret dan Dope Duo, yang dua-duanya mantap banget melembabkan kulit dan wanginya~~~ enak bukan kepalang. Cara pakainya unik: colek isinya, gosok di antara telapak tangan sampai lumer benar-benar seperti mentega, oleskan ke kulit. Kemasannya juga keren, cucok sama isinya yang bermanfaat. Belakangan baru tahu soal Wangsa Jelita dan MooGoo, produk-produknya menggiurkan tapi berhubung stok pelembab, sabun, dan shampoo masih banyak di rumah, mungkin besok-besok saja belinya (tentu saya tidak menolak kalau ada yang mau kasih kado ini, hehehe).

Satu hal lagi adalah pakaian. Sekarang yang diincar bukan lagi baju biasa, tapi pakaian hamil yang nantinya juga bisa dipakai menyusui. Baru tahu lho ada macam-macam bukaan baju untuk menyusui: ada yang pakai kancing, retsleting, tanpa kancing dan retsleting, horizontal, vertikal… Bra menyusui juga modelnya macam-macam 😀 Sejauh ini saya sudah membeli atasan dan terusan di Moms Miracle; bra, atasan, terusan, dan celana pendek di bajuhamilcantik.com; bra dari Big Ol’ Belly dan Wacoal (ini sih beli di tokonya); bra dan tank top menyusui dari gerai Mamaway (karena beli voucher diskon di Groupon 🙂 ); juga terusan Mamigaya dari dua lapak Instagram berbeda, Rays Corner dan Almeera.

Terakhir, kaki yang membengkak menuntut alas kaki baru. Tidak banyak, cuma sepasang sepatu Khakikakiku yang gerainya ada di fX, dan sepasang sandal dari Hellojeungs (baru pesan, datangnya mungkin masih lama hahaha).

Sekilas belanjanya kok sudah banyak ya. Eitssss tapi masih segudang lho keperluan pasca-melahirkan yang belum dibeli. Misalnya, bak mandi bayi, pompa ASI, tas penyimpan ASI (cooler bag) dan es biru-nya, selimut, handuk, pensteril (sterilizer), gendongan, serta pakaian untuk bayi berumur tiga bulan ke atas. Ini akan dibahas dalam entri blog berikutnya. Jadi kalau mau kasih kado, tidak usah bingung, bakal ada daftarnya kok. *modus* *asli ngarep dikasih*

Selain foto pertama, foto lain disalin dari gerai lapak daring.

Komentar via Facebook | Facebook comments

6 Comments

        1. Oh ini banyak yang bisa dipesan secara daring kok, Ra 😀 Jaman modern begini gampang untuk belanja hahaha. (Seandainya cari duit segampang belanjanya…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *