#istandwithCEU

Berita lagi ramai sama kehebohan menjelang pilgub DKI Jakarta, Zakir Naik, serangan gas beracun di Suriah, DPD yang berantem melulu, pelemahan KPK, endebre endebre…

Tapi yang bikin hati saya paling sedih adalah kabar bahwa parlemen Hongaria meloloskan peraturan yang mengancam Central European University (CEU) bakal harus tutup. Penguasa Hongaria, Viktor Orban, dipilih melalui sistem demokratis tapi menjungkirbalikkan negaranya ke arah “demokrasi illiberal” yang memberangus media, meluncurkan kebijakan anti-imigran, Roma dan kelompok LGTBQ (idolanya mungkin Putin). Orban nggak akur sama pendiri CEU, George Soros — iya, penyintas Holocaust, spekulan, orang superkaya sekaligus filantropis yang sering dituduh memicu krisis 1998 di Asia Tenggara — karena Soros dan juga CEU vokal menentang kebijakan Orban.

CEU mungkin nggak sempurna. Didirikan untuk mempromosikan demokrasi dan masyarakat terbuka (open society) selepas runtuhnya rezim sosialis/komunis di Blok Timur, CEU sarat dengan nilai liberal dan bahkan neoliberal. Ini sangat berbeda dengan ISS di Den Haag yang mengambil posisi kritis dan seringkali kiri saat menganalisis pembangunan dan relasi kuasa. Setidaknya, itu yang saya rasakan saat menikmati keberuntungan bisa kuliah di kedua kampus itu pada 2011-2013. Kekontrasan itu justru berharga karena memperkaya perspektif saya dan kawan-kawan.

Tapi CEU berjasa mempertemukan begitu banyak orang dari berbagai negara, terutama negara eks Blok Timur. Di sana kawan-kawan dari Bulgaria, Belarusia, Rusia, Georgia, Romania, Kazakhstan, Kirgiztan, Uzbekistan, Mongolia, bergaul dengan rekan-rekan dari Amerika Serikat, Inggris, Nepal, Belanda, dsb dst dkk dan kalau mereka beruntung: Indonesia 🙂 Lebih dari separuhnya menerima beasiswa dari Soros/CEU, baik sebagian maupun penuh, beberapa mendapat beasiswa dari Uni Eropa, dan segelintir saja yang membayar sendiri biaya kuliahnya.

Tanpa CEU, tanpa beasiswa Soros (dan Uni Eropa), tak mungkin pertukaran gagasan yang intens dan kesempatan memahami perspektif berbeda oleh orang-orang yang berasal dari lokasi geografis begitu jauh di kota yang sangat indah itu bisa terjadi. Segala macam kenangan manis dalam salah satu tahun terbaik dalam hidup saya, juga mustahil terjadi.

CEU, didukung oleh begitu banyak akademisi di penjuru dunia, kini sedang berjuang mempertahankan hidupnya di Budapest. Saya yang apalah ini cuma bisa berdoa semoga perjuangan ini berhasil.

Karena saya sudah berniat kembali ke Budapest pada reuni alumni tahun 2020 — kalau CEU gulung tikar, kandaslah niat ini.

#istandwithCEU

—————————-

Seorang kawan bertanya, kok bisa pemerintah Hongaria menutup CEU?

Jawaban singkatnya: pemerintah Hongaria bikin aturan baru yang bakal bikin CEU nyaris mustahil tetap beroperasi di Budapest. Aturan baru ini nggak menyebut CEU, tapi dampak terbesarnya akan dirasakan CEU.

Jawaban panjangnya:
Semua kampus yang ngasih gelar ganda Hongaria dan dari negara lain harus punya kampus di negara tersebut, lalu harus ada perjanjian antarnegara tentang gelar ganda tersebut.

CEU adalah universitas yang terakreditasi di Hongaria dan Amerika Serikat, serta memberikan gelar ganda Hongaria dan Amerika Serikat. Perjanjian yang melandasinya adalah perjanjian antara Hongaria dengan negara bagian New York.

Akibat peraturan baru itu, CEU akan harus membuka kampus di Amerika Serikat (padahal fokusnya adalah kajian Eropa Tengah/Timur), dan harus ada perjanjian antara Hongaria dan Amerika Serikat. Bikin kampus di Amerika Serikat bukan cuma mahal, tapi nggak relevan; bikin perjanjian antarnegara akan makan biaya, energi, waktu lama.

Anyway, CEU masih berjuang agar peraturan ini dihapus, atau diubah supaya bisa mengakomodir keberadaannya di Budapest. Dukungan sudah mengalir dari begitu banyak lembaga dan individu (termasuk 20 penerima Hadiah Nobel), tapi pemerintah Hongaria masih keukeuh.

Komisi Eropa sedang mempelajari aturan baru itu dan mencari tahu apakah bertentangan dengan peraturan Uni Eropa yang lebih tinggi.

Penonton kayak saya cuma bisa menunggu perkembangannya…

—————————————-

Catatan: Tulisan ini awalnya diposting di Facebook saya.

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *