Menanti Cikini Jaya Kembali

Pasar Cikini yang dulu dipenuhi pembeli gedongan kini nyaris mati. Pedagang yang masih bertahan ingin pasar segera dibenahi.

Udara dingin dan rintik hujan tidak menghalangi Haji Rusli, 70 tahun, menyiapkan lapak kembang apinya. Tidak seperti di pasar-pasar lain, pagi di Pasar Cikini hari Sabtu pekan lalu itu sangat sepi. Baru segelintir kios yang membuka gerainya. Seorang petugas kebersihan bersusah payah membersihkan tegel-tegel putih yang rompal, basah dan ternoda tanah.

Haji Rusli terus sibuk mengeluarkan barang dagangannya dari kardus yang tiap hari ia titipkan di gudang pasar. Wajahnya penuh kerut, rambutnya mulai memutih, tapi geraknya masih cekatan. Satu per satu bungkusan kembang api ia susun di atas kardus-kardus yang dijadikan penyangga. Tak butuh waktu lama untuk memajang jualannya yang hanya sedikit.

“Jaman lagi susah begini, jarang banget ada yang mau beli kembang api. Seringnya malah seharian nggak ada yang beli sama sekali,” keluhnya. Ongkos yang Haji Rusli keluarkan untuk pergi-pulang dengan kereta dari rumahnya di Bogor acap tak impas dengan penghasilannya. Ia cuma bisa bernapas lebih lega jika bulan puasa dan tahun baru tiba, saat banyak orang mencari petasan dan kembang api.

Mata Haji Rusli berbinar ketika mengingat masa keemasan Pasar Cikini. “Saya jualan di sini sejak pasar ini buka. Barang dagangan saya dulu rokok dan cerutu impor. Waktu itu pasar ini rame banget, banyak penggede yang datang. Pak Harto aja sering nyuruh ajudannya beli cerutu Belanda. Saya duduk, uang datang sendiri,” kenang Haji Rusli sambil mengelus kemeja dan celananya yang disetrika rapi. Pasca reformasi harga barang makin mahal, daya beli masyarakat menurun drastis, dan pasokan rokok impor pun berkurang. Akhirnya Haji Rusli memutuskan mengganti jualannya.

Didirikan tahun 1962 oleh gubernur Soemarno, Pasar Cikini dulunya adalah pasar paling bergengsi di Jakarta. Petinggi negara dan artis kerap berbelanja di pasar ini. Pasar Cikini merupakan pasar pertama yang dirancang dan dibangun menggunakan dana dari pedagang. Sebagai gantinya, para pedagang tersebut mendapatkan Hak Guna Bangunan (HGB) selama dua puluh tahun. Kebanyakan pedagang yang bertahan hingga kini ialah mereka yang telah berjualan sejak pasar dibuka.

Salah satu andalan Pasar Cikini di era 1970-1980an ialah toko emasnya. Barang-barang impor yang sulit ditemui di tempat lain juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Di tahun 1990-an, sebagian pedagang yang menempati kios di lantai dua direlokasi ke bawah. “Katanya sih biar di atas jadi toko emas semua. Tapi yang ada malah nggak pada laku tuh yang di atas,” kata Haryanto, 43 tahun, pedagang barang kelontong. Haryanto adalah generasi kedua di keluarganya yang mengelola kios Abun di salah satu sudut Pasar Cikini.

Ada enam kios di gang yang sama, namun hanya kios Haryanto yang tetap buka. “Ya memang amburadul begini pasar ini sekarang. Banyak toko yang tutup. Koperasinya aja udah nggak aktif. Di atas jadi tempat tinggal gratis buat gelandangan. Pembeli makin males dateng ke sini,” ungkapnya.

Jarum jam perlahan bergerak ke arah pukul 9. Meski telah buka dua jam sebelumnya, toko milik Leni, 45 tahun, baru dihampiri tak lebih dari dua pembeli. “Kayak gini ini tiap hari, jarang ada yang beli. Cuma sedikit langganan yang datang. Mereka bilang, ‘Kita sih cuma kasihan sama Ncik.’ Wah kita terima kasih sekali sama mereka,” ujar Leni. Ia juga menyatakan bahwa keberadaan mal dan pasar swalayan berandil memperlesu perdagangan di Pasar Cikini. Apalagi persis di sebelah pasar ini, hadir sebuah hipermarket di pusat perbelanjaan Menteng Prada.

Di tengah obrolan, datang dua orang ibu berjilbab.
“Cik, ada kecap 7 nggak?”
“Wah lagi kosong Bu. Saya baru aja pesen kemarin. Paling nanti siang datang. Senin aja deh ke sini lagi. Sekalian mau dipesenin yang lain Bu?” jawab Leni berpromosi.
“Sama kerupuk udang lima bungkus ya Cik,” tukas si ibu sambil berlalu.
“Sekalinya ada pembeli, barangnya malah lagi nggak ada. Tapi segitu juga saya bersyukur banget dia tetap berlangganan di toko saya,” papar Leni.

Tempo beranjak ke toko emas. Pintu gulung beberapa toko di lantai dasar masih tertutup rapat. Pemandangan nyaris serupa terlihat di lantai dua, di mana lebih banyak toko emas berderet. Baru ada satu toko, Karunia Mas, yang menyala lampunya. Hendri, 37 tahun, belum tuntas membuka gerainya. Etalasenya pun masih kosong dari perhiasan.

Seperti Haryanto dan Leni, Hendri juga mewarisi toko dari kedua orang tuanya. Hendri mengiyakan sepinya pasar Cikini sekarang. “Paling banter cuma ada dua transaksi tiap hari. Itu pun nilainya di bawah dua juta aja,” tuturnya. Setumpuk koran dan bacaan lain ia bawa tiap hari untuk mengusir kebosanan ketika menanti pembeli. Haryanto berkelakar, ” Kita bilang sih kita ngantor, bukan jualan di pasar. Mana ada pasar lain yang buka jam 9 tutup jam 4.”

Melihat lesunya suasana, wajar rasanya bila para pedagang sangat ingin Pasar Cikini segera direnovasi agar bisa menarik pembeli lagi. Isu pembongkaran dan peremajaan Pasar Cikini sebenarnya telah lama beredar. Haryanto menjelaskan, “Jaman Pak Harto dulu ini pasar udah mau dibongkar. Tapi pedagang menolak karena perusahaan Tutut, Dharmala, mau ngubah pasar jadi mal.” Kemudian, Soeharto keburu jatuh sebelum pembongkaran benar-benar terjadi.

Tahun 2000-an beredar desas-desus di kalangan pedagang bahwa pasar akan diperbaiki. Namun dari tahun ke tahun, rumor itu terus berkembang tanpa ada kejelasan. Kini kondisi fisik Pasar Cikini tampak memerlukan pertolongan serius. “Liat tuh, udah pada bocor semua, catnya juga udah ngeletek,” kata Leni sambil menunjuk plastik yang ia pasang di langit-langit untuk menahan kebocoran.

Sewaktu ditanya seperti apa pasar yang ia inginkan, para pedagang pasrah pada pihak PD Pasar Jaya. “Kita kan cuma orang kecil, ya nurut aja mau diapain pasarnya,” jawab Leni. Haryanto menambahkan, “Soalnya kita udah nggak punya hak nuntut apa-apa. Kan HGB-nya juga udah abis. Ibaratnya kalau nanti kita dikasih tempat juga harusnya bersyukur.”

Tahun ini Haryanto hakul yakin bahwa pasar akan benar-benar direnovasi. Pria yang mengenakan tiga cincin berbatu mulia di jemarinya ini mengaku dekat dengan petinggi PD Pasar Jaya. Ditegaskannya, “Saya sudah liat sendiri surat keputusannya. Pokoknya tahun ini pasti dibongkar.”

Meski nantinya mungkin harus berjualan di penampungan sementara jika renovasi benar-benar dilakukan, baik Haryanto, Leni, Hendri, maupun Haji Rusli tidak berkeberatan. “Yang penting Pasar Cikini bisa berjaya lagi,” tandas Leni.

Masalahnya kalaupun Pasar Cikini jadi dibenahi, dengan makin terkepungnya pasar tradisional oleh pasar swalayan yang super ataupun yang hiper itu, boleh jadi harapan para pedagang tadi bagaikan menggantang asap.

———————–

Tulisan ini adalah tugas penulisan ficer dalam pelatihan Calon Reporter Tempo. Sebelumnya sempat diunggah di http://bungtje.multiply.com/journal/item/3/Menanti_Cikini_Jaya_Kembali
Gambar disalin dari http://www.wartakota.co.id/detil/berita/4017/Pasar-BJ-Habibie-Bakal-Tinggal-Kenangan

Komentar via Facebook | Facebook comments

One Comment

  1. […] Saya masih ingat pagi-pagi datang ke sana. Mengamati penyapu yang sibuk di lorong-lorong sepi, menanyai para penjual yang kehilangan pembeli. Saya mondar-mandir tak keruan, mencoba menyerap semuanya lewat indera saya, mencatatnya baik-baik dalam benak dan lembaran kertas. Tegel cuil, noda tanah, kemeja rapi, cat terkelupas, semuanya muncul dalam tulisan yang meski tak sempurna, tapi saya suka. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *