Menjelajah Intramuros Bersama Carlos

In the paper..Versi asli dari artikel perjalanan yang dimuat Koran Tempo hari ini. Untuk membaca versi yang sudah disunting, silakan klik ini untuk halaman pertama dan ini untuk halaman berikutnya.

Tiga jam bersama pemandu wisata yang menjuluki diri “Peniup Suling dari Manila.”

Di dekat pagar Fort Santiago, Carlos Celdran, 39 tahun, melepas topi tinggi berwarna hitam. Pemutar kaset era dekade lalu diletakkan lelaki berperut tambun itu di pohon. Dengan tangan kirinya, mendadak ia mengeluarkan bendera kecil Filipina dari tas selempang. Tangan kanan pria berpotongan rambut a la Mohawk itu disilangkan di dada, diletakkan di atas jantungnya.

“Ayo orang Filipina, nyanyikan lagu kebangsaan kita,” ucapnya bersemangat di awal tur yang saya ikuti awal bulan ini di Intramuros, Manila. Berjudul “If These Walls Could Talk” alias “kalau saja dinding ini bisa berbicara,” acara jalan-jalan dimulai pukul empat sore di Benteng Santiago. Mikrofon kecil, menempel di dekat mulutnya, menghantarkan suara ke pelantang mungil di pinggangnya.

Separuh dari sekitar 40 orang turis melantunkan Lupang Hinirang, lagu berbahasa Tagalog yang berarti Tanah Terpilih. “Lupa ng araw ng luwalhati’t pagsinta, buhay ay langit sa piling mo..” Tanah matahari, kemuliaan, dan kasih, hidup adalah surga dalam pelukan-Mu..

Pelancong peserta tur yang bukan orang Filipina, seperti saya, terdiam mengamati mereka. Rasanya bukan awal yang lazim untuk tur keliling kota tua yang dibangun penjajah Spanyol di abad ke-16 itu.

Carlos mengembalikan benderanya ke dalam tas. Ia bertanya, “Ada yang tahu lagu La Marseillaise?” Ia menyanyikan nada lagu mars Perancis itu. “Nah, kita mengambil sebagian lagu itu, memutar partiturnya 180 derajat, jadilah Lupang Hinirang! Kira-kira begitulah budaya Filipina, mengambil banyak hal dari bangsa lain, mengutak-atiknya, lalu mengakuinya sebagai milik kita sendiri,” katanya sambil nyengir.

Kami semua tertawa. Saya tertawa sedikit lebih keras karena teringat lagu Dari Sabang Sampai Merauke, yang malah lebih mirip La Marseillaise. Filipina memang sangat serupa dengan Indonesia. Bukan cuma soal mencomot lagu, tapi juga budaya campuran hasil perpaduan berbagai suku bangsa. Wajah orang Filipina pun mirip dengan warga Indonesia. Lima hari di Manila, entah sudah berapa kali saya diajak ngobrol dengan bahasa Tagalog. Manila sendiri tak jauh beda dengan Jakarta, ibu kota yang penuh kendaraan bermotor, kemacetan, mal, dan polusi.

Dengan gaya teatrikal dan kocak, Carlos sukses menggelitik humor sekaligus memastikan perhatian tiap pelancong terfokus padanya. Pantas ia menjuluki diri “The Pied Piper of Manila” alias peniup suling dari Manila. Kalau peniup suling dari Hamelin dalam dongeng menghipnotis tikus dan anak-anak, maka Carlos sanggup melakukannya pada turis haus informasi.

Carlos tadinya belajar melukis, tapi setelah tahu alergi terhadap cat, banting setir menuntut ilmu seni pertunjukan di Rhode Island School of Design, Amerika Serikat. Sempat jadi sutradara untuk berbagai pementasan, pria yang lahir di Makati, Metro Manila itu lalu aktif mempertahankan bangunan bersejarah di kotanya. Ia mendirikan perusahaan wisata “Walk This Way”, mengadakan tur sejarah yang ternyata disambut hangat. Dia tak seperti pemandu wisata biasa yang cuma menjelaskan bangunan X didirikan oleh Y di tahun Z, tapi lebih memberi pencerahan sejarah dan budaya bagi turis.

Saya tahu tentang Carlos lewat Facebook. Di status saya, seorang kawan merekomendasikan tur lelaki yang kini aktif mendukung Rancangan Undang-undang Kesehatan Reproduksi atawa Reproductive Health Bill itu. Berbekal Google, saya menemukan paket wisata Carlos di www.carlosceldran.com.

Harga paket jalan-jalan yang dibandrolnya untuk “If These Walls Could Talk” lumayan mahal, 1.000 peso (sekitar Rp 200 ribu). Untung saya bisa kebagian tarif pelajar yang 500 peso (Rp 100 ribu) saja. Sebenarnya ingin juga ikut tur “Livin’ La Vida Imelda” yang sepertinya lebih seru karena mengupas hidup istri mantan presiden-cum-koruptor wahid Filipina itu, sayang jadwalnya tak cocok.

Saat tur mulai, ternyata banyak orang Filipina yang turut serta. Saya kira mereka sudah cukup paham sejarahnya sendiri dan tak perlu lagi tur keliling kota tua. “Saya penasaran, katanya Carlos bagus. Lagipula sudah lama sekali saya tidak ke Intramuros, saya ingin tahu apa ada hal baru yang bisa diberikannya,” kata Claudine Ramirez, salah satu warga lokal dalam rombongan kami.

Setelah Lupang Hinirang, Carlos membahas asal-usul Intramuros. Ia mengeluarkan map hitam tebal dari tasnya, menunjukkan gambar lambang kota tua. Intramuros secara harfiah berarti “di dalam dinding,” direncanakan pendiriannya oleh penjajah Spanyol pada 1573, dan rampung tahun 1606.

Saat rombongan kolonial datang, kata Carlos, mereka terkejut melihat adanya kesultanan Islam yang dipimpin Raja Sulaiman III. Belum lama berselang, Spanyol baru kelar berperang melawan bangsa Moor yang Islam di Andalusia. Tapi dengan persenjataan lebih modern, pasukan Spanyol berhasil mengalahkan penduduk lokal dalam waktu singkat.

Kemenangan mereka diabadikan di gerbang benteng yang tingginya 40 meter. Relief Santiago Matamoros, alias Santo James pembunuh bangsa Moor, dipasang di bagian atas.

Dari dekat pagar benteng, kami bergeser halaman dalam. Saat berjalan kaki, Carlos menyetel lagu mars di pemutar kasetnya.

Di kejauhan, sekitar 400 meter dari benteng, tampak puncak Katedral Manila. “Kilometer nol Manila di masa itu diukur dari Katedral, bukan dari Santiago. Tinggi Katedral lima tingkat, benteng ini cuma dua tingkat. Perbedaan itu mencerminkan relasi kekuasaan antara gereja dan kerajaan, yakni…,” ujarnya menggantung.

“TEOKRASI!” Carlos berteriak, membuat kami terperanjat. “Merekalah yang berpengaruh secara politik. Bahkan kalau gereja tidak suka, mereka bisa membunuh Gubernur Jenderal seperti Fernando Bustamante tahun 1719. Mereka sama saja dengan Taliban,” ucapnya dengan nada gusar.

Saya tidak tahu apakah kemarahan suaranya nyata atau hanya akting. Pasalnya, hingga kini gereja Katolik di Filipina masih berperan dalam kancah politik. Setidaknya, Kardinal Jaimes Sin sukses menggerakkan rakyat menggulingkan Ferdinand Marcos di tahun 1986 dan Joseph Estrada pada 2001 dari kursi presiden.

To obey or not to obey..
To obey or not to obey..

Gereja menghambat rancangan beleid Kesehatan Reproduksi yang bakal mewajibkan penyebaran alat kontrasepsi di penjuru Filipina, aturan yang menurut mereka melawan kehendak Tuhan. Bahkan di Katedral terpampang spanduk besar bergambar Paus Benediktus XVI bertuliskan “Obey God’s Will, Stop The RH Bill.” Sedangkan Carlos, meski mengaku Katolik, terang-terangan mendukungnya lewat demonstrasi dan wawancara di televisi.

Salah langkah Gereja di masa kolonialisme, kata Carlos, ialah dengan mendorong penangkapan dan eksekusi terhadap José Protacio Rizal Mercado y Alonzo Realonda. Jose Rizal adalah seorang jenius, dokter, ilmuwan, sekaligus seniman yang bisa berbicara dalam 22 bahasa. Ia menulis dua novel, Noli Me Tangere dan El Filibusterismo, yang secara satir menelanjangi kebobrokan Gereja dan masyarakat kala itu. Jose Rizal ditangkap kemudian dieksekusi di usia 35 tahun. Kematiannya memicu Revolusi Filipina dan membuatnya menjadi pahlawan nasional.

Gara-gara Amerika!
Gara-gara Amerika!

Carlos mempertanyakan kenapa Jose Rizal yang jadi pujaan Filipina – ia berasal dari kalangan elit, menempuh pendidikan di Eropa, cuma menulis dua novel, tidak berperang melawan penjajah Spanyol seperti dua kawannya, Andres Bonifacio dan Emilio Aguinaldo. “Jose Rizal sama sekali tidak mencerminkan rakyat Filipina pada umumnya, lalu kenapa dia jadi pahlawan nasional? Jawabannya adalah.. AMERIKA!” serunya sambil dengan dramatis memakai satu lagi properti dari tas selempang: topi tinggi bergambar bintang dan garis khas Abang Sam.

Dia tidak langsung menjelaskan soal hubungan Jose Rizal dan kedatangan Amerika Serikat ke bumi Filipina. Ia malah meminta kami berjalan keluar Benteng. “Perjalanan dilanjutkan dengan kalesa. Ongkosnya sudah termasuk dalam biaya tur, tapi kalau mau memberi tip untuk kusirnya, silakan. Ini upaya saya mendukung transportasi lokal,” tuturnya.

Jadilah kami berbondong menaiki kalesa, bendi khas Filipina yang beroda dua dan berbentuk sedikit lebih ramping ketimbang delman di Yogyakarta. Tarif kereta kuda berpenumpang lima orang ini biasanya 350 pesos untuk setengah jam keliling Intramuros.

Berkalesa sekitar sepuluh menit, kami tiba ke salah satu bagian tembok lama Intramuros di Jalan Santa Lucia. Di atas tembok itu, yang bersebelahan dengan lapangan golf, sudah tersusun bangku plastik. Seutas tali dengan dua bendera Amerika Serikat terikat di antara dua pohon, latar belakang pentas solo Carlos berikutnya.

Sembari membagi permen cokelat – yang tak bisa saya nikmati karena berpuasa – Carlos menguraikan masa Filipina sebagai koloni Amerika Serikat, hasil Perjanjian Paris di akhir perang negeri Abang Sam dengan Spanyol tahun 1898. Ia menunjukkan potret gadis muda Filipina yang bangga berpose di depan bendera Amerika Serikat.

Ya, penduduk Filipina memang cinta Amerika Serikat. Dari penuturan Carlos, saya bisa memahami sebabnya. Meski sejatinya penjajah, Amerika membuat sistem pendidikan menjangkau semua orang, memajukan perekonomian, dan membangun demokrasi negara kepulauan itu. Jika dulu Spanyol cuma memberi pendidikan bagi bangsawan dan orang kaya, Amerika Serikat membuka akses bagi semua. Bahkan dengan kapal USS Thomas, 500 orang guru dari Amerika didatangkan pada tahun 1901 untuk merintis pendidikan publik.

Ekonomi tumbuh pesat, membuat Manila jadi kota metropolitan di Asia yang menyaingi Shanghai, dengan ekspatriat berbagai bangsa berbaur di sana. Berkat Amerika, Manila punya sistem transportasi publik pertama di Asia, dan Filipina memiliki maskapai komersial pertama pula di Asia. Merek Amerika pun jadi istilah jenis produknya: Colgate untuk pasta gigi, Frigidaire bagi kulkas, Kodak untuk kamera, dan Xerox bagi fotokopi.

Amerika pula yang menetapkan Jose Rizal sebagai pahlawan nasional, Sampaguita – sejenis melati – jadi bunga nasional, dan Narra alias Angsana sebagai pohon nasional Filipina.

Memutar musik swing era 1920-an, Carlos memimpin kami berjalan ke Casa Manila, replika rumah kolonial Spanyol yang dibangun Imelda Marcos tahun 1981.

Di dalam Casa Manila.
Di dalam Casa Manila.

Melepas topinya, Carlos bercerita dengan muka suram. Dosa Amerika adalah meninggalkan Filipina saat Perang Dunia II, dan cara mereka merebut Filipina dari tangan Jepang. Dalam pertempuran Manila, 3 Februari-3 Maret 1945, Amerika Serikat membombardir seluruh kota untuk mengusir Jepang tanpa mempedulikan penduduk sipil yang pasti tewas akibatnya. Nyaris seluruh bagian kota musnah, termasuk Intramuros. Manila hampir rata dengan tanah. Ia tercatat sebagai kota Sekutu dengan kerusakan terparah kedua di dunia, setelah Warsawa di Polandia.

Pertempuran Manila menewaskan setidaknya 100 ribu warga sipil. Sekitar seribu tentara Amerika Serikat dan Filipina terbunuh, sedangkan di sisi Jepang lebih dari 16 ribu tentara menemui ajalnya. Di Plaza de Santa Isabel, monumen Memorare Manila dibangun untuk mengenang mereka. Keseluruhan perang tahun 1944-1945 di Filipina menelan nyawa 14 ribu tentara Sekutu dan 336 ribu tentara Jepang.

Nada suara Carlos yang begitu kelam membuat tenggorokan saya tercekat, ingin menangis. “Mari menundukkan kepala sejenak untuk mengingat mereka,” ucap Carlos. Suasana langsung hening saat kami semua menuruti perkataannya.

Halo-halo!
Halo-halo!

“Cukup bersedihnya, sekarang mari kita nikmati Es Halo-halo khas Filipina!” ia berseru dengan nada ceria, tak ada lagi jejak murung dalam suaranya. Asistennya mengedarkan minuman berisi es serut, es krim, puding, kacang merah tumbuk, dan gula. Pas jam berbuka, sehingga saya melahapnya dalam sekejap.

Manila bagi Carlos seperti Halo-halo, di mana beragam rasa yang tercampur membuat sesuatu yang lebih hebat. “Manila can be chaotic and spiritual, dirty and divine, gritty and gorgeous all at once. If you don’t find beauty and poetry here, you will never find it anywhere,” katanya. Ah, tidakkah terdengar seperti Jakarta?

Seusai tur, Claudine menghampiri saya. “Turnya luar biasa! Mulai sekarang, sepertinya saya akan melihat Intramuros dengan cara yang berbeda gara-gara dia,” ucapnya merepet. Saya tersenyum lebar, mengangguk mengiyakan. Jika saya kembali ke Manila, sudah pasti saya akan ikut tur Carlos yang lainnya.

4 Comments

  1. wah bungtje, jalan2nya bener halo-halo ya :). tulisanmu cukup menginspirasi ni. oya, saya liat di friend list web kamu ini ada link blog lama saya. yang itu (blogspot) udah saya delete bung, ganti ke wordpress (http://tehmaniss.wordpress.com) . mohon di link ulang ya. trims

  2. Rubrik yang menyenangkan, asyik rasanya kalau sudah pernah nulis di situ.
    Note: aku sudah pernah tapi trip domestik

    1. trip ke mana yang dimuat di rubrik perjalanan? dulu yang ke nairobi ketemu jerapah juga dimuat, rasanya lebih bahagia ketimbang berita jadi HL, hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *