Narsum Yang *&^&$%$@$#

Cerita mengesalkan soal satu narsum (narasumber, gituuuu) – ku pekan lalu.

Hari Rabu malam, atasan memberi daftar nama-nama yang harus kukejar dan kuwawancara.
Nyaris semua kudapat sampai Jumat sore. Tinggal satu nama saja.?
Satu nama ini tiba-tiba setuju untuk diwawancara sore itu.
Aku tanya atasanku itu, “Mas, masih perlu nggak?”?
“Nggak. Udah semua kok. Eh, masih deng, tolong tanyain ini-ini-ini itu-itu-itu,” jawabnya.
Aku tanya atasanku yang lain, “Mbak, ada titipan pertanyaan?”
“Iya, ini-ni-ni-ni itu-tu-tu-tu ya, sorry aku nggak bisa ikut, thanks,” kata atasanku-yang-lain itu.
Sesampainya di tempat wawancara, belum apa-apa, sang narsum minta, “Apa yang saya katakan ini tolong jangan dipotong-potong ya, dimuat apa adanya, secara penuh. Jangan adukan pernyataan saya dengan Pak **. Janji ya?” Di depan tiga stafnya, dia memintaku berjanji.
Waduh. Berat juga sih. Tapi ya gimana lagi, kuiyakan saja. Kalau nggak, ya nggak mungkin wawancara, ya toh?
Kelar wawancara, balik ke kantor, laporan secara lisan, trus ngetik laporan benerannya.
Malam itu aku piket. Dan aku baca hasil jadinya… Ah, si narsum cuma disebut seiprit. (Ya iyalah, emang cuma dia narsum buat tulisan itu? Tapi aku nggak merasa pernyataan dia “diadukan” dengan Pak ** itu kok.) Alamat dia marah-marah deh…?
Hari ini kekhawatiranku terbukti. Sore-sore sang narsum telepon, marah-marah. “Kan kamu sudah janji nggak akan motong-motong pernyataan saya? Saksinya banyak lho! Saya cuma di-quote di ujung tulisan, salah pula (iiih, aku cek lagi, bener kok) ! Blahblahblahwekwekwekdutdutdut…,” omelnya.
Dan aku cuma bisa ngeles sebisa mungkin. Duh. Sialan! Rasanya hina banget dimarahin narsum gitu. Uh. **&%&^$$#$%#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *