Mereka Maluku. Ose Siapa?

Bruuuuukkkk!

 

Salembe (Bebeto Leutually), bocah dari desa Tulehu, menubruk rekan satu timnya dengan tackle. Kawannya yang berasal dari desa Passo kontan terjatuh.

 

“Saya tidak mau main kalau ada dia! Dia anak Brimob, yang bunuh Bapa saya!” teriak Salembe.

 

“Tidak ada yang tahu bagaimana Bapa kamu meninggal!” sang pelatih, Sani Tawainella (Chicco Jerikho), memarahi Salembe.

 

Tidak ada yang tahu. Boro-boro soal kematian ayahnya Salim, terlalu banyak yang tidak kita ketahui dari konflik di sekujur nusantara. Kita tidak tahu apa persisnya penyebab kericuhan, siapa saja yang terlibat, siapa yang untung dan siapa pula merugi, berapa banyak korban jatuh, bagaimana caranya menerima kekalahan, mengakui kesalahan, maupun memaafkan. Belum tuntas kita menyigi, mengobati luka, apalagi memproses secara hukum para pelaku kekerasan, sudah muncul sederet pertikaian anyar. Bara dendam cerita lalu yang sewaktu-waktu berkobar seolah jadi wajar.

 

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku meramu sengketa agama, kekerasan, emosi remaja, ibu/istri pemarah, tangisan lelaki, trauma dan kesumat silam, kemiskinan, serta politik dalam perjalanan tim bola U-15 Maluku meraih juara. Resep sempurna untuk bencana.

 

Tim Maluku yang baru dirundung konflik berlatar belakang agama selama lima tahun, mencoba sekuat tenaga agar jadi pemenang. Padahal, separuh anggota tim berasal dari Tulehu yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sedangkan sebagian lagi warga Passo, desa Kristen. Proyek tim campuran yang bertujuan memuluskan rekonsiliasi pascakonflik itu terancam gagal akibat dengki. Premis film berdasarkan kisah nyata ini mirip Invictus, yang berkisah soal tim nasional rugby Afrika Selatan bentukan Nelson Mandela selepas rezim apartheid runtuh.

 

Saya bukan penggemar bola, saya nggak tahu apa sebab seorang pemain mendapatkan tendangan pojok ataupun tendangan bebas. Aturan soal offside pun saya nggak ngerti-ngerti amat. Tapi saya menikmati betul film yang digagas penyanyi asal Ambon, Glenn Fredly dan sutradara+produser Angga Sasongko.

 

Ini film yang emosional, apalagi buat perempuan cengeng seperti saya. Entah berapa kali saya menangis, ikut geram melihat konflik antaragama. Nggak usah jauh-jauh ke Gaza, saudara-saudari kita setanah air pun banyak yang telah dan masih meregang nyawa.

 

Tapi Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, meski di beberapa bagian terasa lambat, juga mengundang tawa, meninggikan optimisme. Ada perdamaian, proses menjadi dewasa, ibu/istri yang kuat, pemberian maaf, dan kegembiraan. Terselip tekad pantang menyerah dan cara bermanuver menghadapi tantangan. Juga indahnya Maluku di mata, dan eloknya nada karya para musisi Ambon Manise di telinga. (Oh, dan salah satu dari pria-pria menangis itu tampak kusut, tapi lezat.)

 

Tim Maluku ketinggalan skor saat menghadapi Jakarta di babak final. Anggotanya masih juga bertikai di lapangan dan di ruang ganti. Pada waktu istirahat yang genting, Sani mengingatkan lagi anak didiknya:

 

Ose (kamu) bukan tim Tulehu, atau dari Passo. Kalau beta tanya ose siapa, kamu jawab apa?”

 

“Beta Maluku!” seru bocah-bocah Maluku itu satu per satu.

 

Ini film yang selama dua tahun tak laku ditawarkan ke sejumlah rumah produksi. “Karena nggak ada cinta ABG, juga berbau SARA, dan bermuatan politik,” ujar Angga.

 

Saya nggak tahu berapa lama film ini bertahan di layar bioskop. Saya nggak tahu dari segelintir orang yang menonton Cahaya Dari Timur bersama saya tadi malam, berapa yang betul-betul ingin melihatnya atau sekadar karena nggak kebagian tiket nonton Transformers. Maka segeralah menontonnya selagi sempat, wahai kelas menengah yang diberi privilege beragam hiburan dan informasi.

 

Sungguh, sempatkanlah waktumu yang berharga itu untuk film ini. Karena betapa mulia tujuan para pembuatnya:

 

“Kita mau menularkan virus resiliensi. Karena Indonesia udah ngerasain bencana dari Aceh, Mentawai sampe konflik Poso ketika negara nggak bisa hadir, masyarakat punya solusinya,” kata si sutradara.

 

Ini mengingatkan saya pada pemilihan presiden baru saja lewat, tapi api konflik tampaknya belum benar-benar padam di kubu kedua kandidat. Jika pelatih Sani bertanya pada kita, “Kalau beta tanya ose siapa, kamu jawab apa?” — apa yang akan kau jawab?

 

Sungguh indah kalau kita semua bisa lantang berseru, “Beta Indonesia!”

 

Beta yakin, Indonesia bisa lebih hebat lagi. Dan tim nasional sepak bola kita, tak lebih dari tiga dekade mendatang, bisa menjajal laga Piala Dunia.

 

NB. Gambar poster diambil dari laman Facebook https://www.facebook.com/cahayadaritimurbetamalukufilm

Komentar via Facebook | Facebook comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *