Semacam Depok Warehouse Project

Bersenang-senang dengan sekelompok perempuan berpakaian seksi, berkeringat dan bergerak cepat diiringi musik elektronik dengan sentuhan irama Latin.

“Senyumnya mana? Ayo gerak sampai pagi!” seorang perempuan berseru dari deretan depan, sembari dengan semangat melakukan gerakan-gerakan energik dan sensual.

Di belakangnya, sekitar 20 orang perempuan, sebagian besar berpakaian lumayan terbuka (sport bra + hot pants, sport bra + singlet jala + hot pants, singlet backless + celana panjang ketat, adalah beberapa kombinasi yang terekam dalam benak saya), asyik mengikuti gerakan sang pemimpin. Semuanya terlihat bersemangat menggoyangkan badan sampai bersimbah peluh. Gerakan salah nggak masalah, yang penting senang!

Irama musik elektronik dengan rasa salsa, samba, reggaeton, hip hop bergantian menghentak ruangan. Musik Latin memang menyenangkan untuk memancing badan bergoyang.

Saya sempat melongo, apakah saya mendadak tercebur dalam semacam Depok Warehouse Project, eh, Djakarta Warehouse Project?

Ternyata, begitulah kelas zumba di Harini Studio. Ini studio kebugaran berusia sekitar tiga bulan di Depok yang menawarkan banyak kelas, termasuk zumba.

Kelebihan utama studio ini, selain beberapa aspek yang akan saya sebut di bawah, adalah konsumennya hanya perempuan. Bahkan, bocah lelaki berumur empat tahun ke atas tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang latihan.

Sudah begitu lama saya tidak beraktivitas di ruang khusus untuk perempuan (berdiri 1-2 jam dalam gerbong perempuan KRL tentu tak dihitung), saya lupa ruang yang demikian bisa terasa sangat membebaskan. Dulu SMP saya hanya untuk murid perempuan, jadi selama tiga tahun saya merasakan nikmatnya jadi ABG tapi tak usah memusingkan tatapan dan perilaku lelaki sebaya.

Segarnya aroma kebebasan ini tercium dalam kelas zumba yang saya ikuti. Tak peduli dengan standar kecantikan yang dipromosikan industri, para zumbawati (hehe) ini cuek saja pakai baju terbuka meski ada gelambir di perut dan selulit di paha. Gerakan sensual ditiru dengan sepenuh hati, barangkali bakal sekalian dipraktikkan di rumah nanti, sekalian menghabiskan stok endorfin yang terpicu.

Menariknya, sebagian besar dari mereka yang berpakaian seksi ini, begitu keluar dari Harini, ternyata memilih berjilbab, beberapa tipenya yang panjang alias sering disebut hijab syar’i. Ini satu hal lagi yang membuat saya tersenyum selepas mencoba kelas perdana di sana: meski pilihan berpakaian sehari-hari dan penafsiran terhadap agama berbeda, kami bisa sama-sama bersenang-senang dalam kelas zumba.

Ini beberapa jepretan amatir saya di Harini (saat kelas berlangsung, dilarang foto-foto ya ibu-ibu):


Sejauh ini saya baru dua kali ke Harini, ikut zumba dan yoga. Tapi pasti balik lagi. Berikut beberapa catatan saya tentang Harini, berdasarkan dua kelas yang saya ikuti:

Plus

  • Khusus untuk perempuan
  • Tempatnya bagus banget: studio luas dan cantik, sirkulasi udara bagus, tata suara dan cahaya oke juga
  • Fasilitas lengkap: ada matras untuk yoga, bola besar dan tali untuk pilates, pijakan untuk step dance
  • Harga terjangkau
  • Kelas variatif
  • Ada loker, tiga kamar mandi yang dilengkapi pancuran Toto dan sabun + shampoo, dan pengering rambut
  • Air mineral disediakan
  • Responsif saat dihubungi melalui WhatsApp
  • Ada area bermain untuk anak di lantai dasar
  • Dilarang pakai alas kaki di lantai dasar, jadi lebih bersih

Minus

  • Kelas dimulai tidak tepat waktu, pulangnya jadi terlalu malam
  • Air mineralnya dalam kemasan gelas plastik, jadi nggak ramah lingkungan. Akan lebih baik kalau disediakan dispenser saja, jadi peserta latihan bisa mengisi botol minumnya dan nggak nyampah.

Catatan: Ini murni pendapat saya, maklum bukan selebgram jadi pasti nggak di-endorse hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *