Sinterklaas Datang Lebih Cepat

Natal versi Vatikan memang masih lama, tapi Sinterklaas sudah datang di Belanda. Sabtu lalu, dia (tepatnya sih orang-orang yang berakting jadi Sinterklaas) merapat di pantai-pantai Belanda dengan kapal… membawa jeruk dari Spanyol. Mitos yang ajaib ya?

Wikipedia bilang sih akar perayaan ini bisa dilacak ke kepercayaan pagan orang-orang Norse, karena meski konon didasarkan pada figur Santo Nikolas, uskup Myra (bagian dari Turki) asal Yunani di abad ketiga, karakter Sinterklaas mirip dengan Odin. Sori, saya lagi nggak minat cari tahu lebih banyak dari yang disajikan Wikipedia, hehehe. Yang jelas Santo Nikolas ini pelindung anak-anak dan pelaut. Jasadnya dimakamkan di Bari, satu kota di Spanyol, makanya dia dibilang berasal dari Spanyol, padahal sebenarnya sih dari Yunani.

Yang kontroversial sih mitos bahwa Sinterklaas punya pembantu bernama Zwarte Piet alias Piet Hitam. Si Piet ini bawa berkulit hitam, berambut kribo, membawa karung untuk mengangkut anak-anak nakal. Kalau anak baik sih dikasih biskuit dan permen sebagai hadiah. Cerita soal Sinterklaas dan Piet Hitam, saya ingat, dikisahkan pula pada anak-anak Indonesia di generasi saya — sekarang masih nggak ya?

Untuk membuat cerita bernafas rasis itu lebih politically correct, disebutkan bahwa Piet berkulit hitam karena dia masuk ke rumah-rumah melalui cerobong asap. Lho, tapi kok rambutnya tetap kribo? Pemerintah Belanda juga pernah mencoba mengganti Piet Hitam jadi Piet Warna-warni, dengan wajah warna-warni, yang dilabeli sebagai pembantu Sinterklaas yang bertugas pengecat pelangi. Tapi masyarakat Belanda protes dan akhirnya Piet kembali berwajah hitam.

Hari Sabtu itu, saya melihat puluhan orang Belanda berkulit putih berdandan blackface alias membuat wajah mereka hitam ala orang Afrika. Mereka tampak gembira, sebagian cengar-cengir memainkan bermacam alat musik, sebagian sibuk membagikan balon dan biskuit kepada ribuan anak-anak yang berkumpul di Scheveningen, pantai dekat Den Haag.

Aneh rasanya melihat Belanda yang lazim menggadang-gadang hak asasi manusia, malah merayakan dan membudayakan sesuatu yang begitu rasis, atas nama budaya. Meski saya tidak berkulit hitam, entah kenapa tapi saya merasa tersinggung juga.

Komentar via Facebook | Facebook comments

2 Comments

  1. Sekedar info tambahan, perayaan Sinterklaas dengan pemberian hadiah hanya dirayakan pada tgl. 5 december di Holland dan Belgia dan tidak ada hubungannya dengan Natal. Perayaan Natal dirayakan diseluruh dunia dengan Santa Claus yang membagi bagikan hadiah bagi yang merayakannya. Figur Sinterklaas berbeda dengan Santa Claus…

  2. Hai Norma, terima kasih untuk komentarmu. Hmm Sinterklaas nggak ada hubungannya sama Natal? Satu teori sih bilang SInterklaas dibawa pemukim Belanda ke Amerika Serikat, tepatnya ke daerah Nieuw Amsterdam yang sekarang jadi New York, lantas diadaptasi jadi Santa Claus lalu tersebar ke seluruh dunia… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *